Jejak Predator Loker Palsu: Usai Mangsa Mahasiswi Makassar, Feri Dg Rumpa Incar Korban Baru di Surabaya

Rizky Ramadhan | Totonews
17 Mei 2026, 14:42 WIB
Jejak Predator Loker Palsu: Usai Mangsa Mahasiswi Makassar, Feri Dg Rumpa Incar Korban Baru di Surabaya

TotoNews — Di balik layar ponsel yang nampaknya menawarkan secercah harapan akan masa depan, terkadang terselip predator yang siap menerkam dengan kejam. Kasus memilukan yang menimpa seorang mahasiswi di Makassar baru-baru ini menjadi pengingat pahit betapa dunia digital bisa menjadi jebakan mematikan. Feri Dg Rumpa (33), pria yang kini mendekam di balik jeruji besi, bukan sekadar pelaku kriminal biasa. Ia adalah sosok oportunis yang memanfaatkan kerentanan pencari kerja demi memuaskan nafsu bejatnya.

Setelah melakukan aksi kekerasan seksual yang terencana dan sangat rapi di Makassar, Feri mencoba melarikan diri ke Surabaya, Jawa Timur. Namun, pelariannya bukan sekadar upaya untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Investigasi mendalam yang dilakukan tim kepolisian mengungkap sebuah fakta yang mengerikan: Feri bermaksud membangun kembali jaringan kejahatannya di Kota Pahlawan dengan pola yang persis sama.

Baca Juga

Tragedi Maut di Gedangan Sidoarjo: Dua Gadis Belia Tewas Terlindas Truk Molen Saat Berboncengan

Tragedi Maut di Gedangan Sidoarjo: Dua Gadis Belia Tewas Terlindas Truk Molen Saat Berboncengan

Modus Operandi: Janji Pekerjaan yang Berujung Penyekapan

Kisah kelam ini bermula ketika seorang mahasiswi berinisial MA (21) di Makassar tergiur dengan sebuah unggahan di media sosial Facebook. Dalam grup lowongan kerja lokal, pelaku menawarkan posisi sebagai perawat bayi atau baby sitter dengan iming-iming gaji yang menggiurkan dan syarat yang tampak mudah. Tanpa rasa curiga, korban menjalin komunikasi dengan pelaku yang berpura-pura menjadi pemberi kerja yang profesional.

Namun, janji manis itu berubah menjadi mimpi buruk seketika saat korban bertemu dengan pelaku. Bukannya dibawa ke tempat kerja, MA justru digiring ke sebuah rumah yang telah disiapkan pelaku. Di sanalah, penyekapan terjadi selama tiga hari berturut-turut, mulai dari Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5). Selama masa penyekapan tersebut, MA mengalami serangkaian tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan di bawah ancaman.

Baca Juga

Harapan Baru di Lubuk Sidup: 163 Unit Huntara Siap Huni, Pemulihan Pasca-Bencana Capai 89 Persen

Harapan Baru di Lubuk Sidup: 163 Unit Huntara Siap Huni, Pemulihan Pasca-Bencana Capai 89 Persen

Strategi Licin Menggunakan Rumah Kontrakan Harian

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, dalam keterangannya mengungkapkan bahwa pelaku sangat teliti dalam merencanakan aksinya. Untuk menghindari kecurigaan tetangga dan memudahkan pelarian, pelaku enggan menyewa rumah kontrakan dalam jangka panjang. Ia sengaja memilih rumah yang bisa disewa secara harian dengan tarif sekitar Rp 300 ribu per hari.

“Pelaku menggunakan skema sewa harian ini sebagai markas sementaranya. Ini adalah strategi untuk menjebak orang tanpa meninggalkan jejak yang permanen di lingkungan tersebut,” jelas Arya. Rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ‘laboratorium’ kejahatan di mana ia mengeksploitasi korbannya. Dengan model kontrakan harian, ia bisa dengan mudah menghilang setelah melancarkan aksinya, sebuah taktik yang sering digunakan oleh pelaku kriminal profesional agar tidak terdeteksi oleh lingkungan sosial sekitar.

Baca Juga

Perjuangan Hidup di Balik Puing KRL: Basarnas Berpacu dengan Waktu Evakuasi Korban Terjepit

Perjuangan Hidup di Balik Puing KRL: Basarnas Berpacu dengan Waktu Evakuasi Korban Terjepit

Ekspansi Kejahatan ke Surabaya: Target Baru di Depan Mata

Setelah merasa misinya di Makassar selesai, dan setelah merampas harta benda milik korban berupa sepeda motor dan telepon genggam yang kemudian dijual seharga Rp 3 juta, Feri melarikan diri ke Surabaya. Berdasarkan penuturan pihak kepolisian kepada TotoNews, Surabaya dipilih bukan tanpa alasan. Pelaku menganggap kota besar seperti Surabaya memiliki potensi ‘pasar’ korban yang lebih luas.

Bahkan, saat tim gabungan kepolisian melakukan pengejaran, Feri diketahui sudah mulai memasang jerat baru. Ia kembali mengunggah iklan lowongan kerja palsu di grup-grup Facebook wilayah Jawa Timur. Targetnya tetap sama: perempuan muda yang sedang membutuhkan pekerjaan. Modusnya pun identik, yakni tawaran menjadi pengasuh anak. Untungnya, sebelum jatuh korban baru, pihak kepolisian berhasil melacak keberadaannya dan melakukan penangkapan di Surabaya.

Baca Juga

Skandal Cukai Memanas: Berbekal Dokumen Rahasia, KPK Cecar Haji Her dan Deretan Bos Rokok

Skandal Cukai Memanas: Berbekal Dokumen Rahasia, KPK Cecar Haji Her dan Deretan Bos Rokok

“Setelah aksinya di Makassar selesai, pelaku berencana berpindah ke Surabaya dan kembali menjalankan modus yang sama. Ia sudah memasang iklan serupa di Facebook untuk memperdaya korban lain di sana,” tambah Kombes Arya Perdana. Hal ini menunjukkan bahwa Feri memiliki kecenderungan sebagai pelaku predator seksual berantai yang sangat berbahaya jika dibiarkan bebas.

Rekam Jejak Kriminal dan Latar Belakang Pelaku

Penyelidikan lebih lanjut mengenai latar belakang Feri Dg Rumpa mengungkap bahwa pria asal Pulau Sumatera ini bukanlah pemain baru dalam dunia kriminal. Sebelum melakukan aksi biadabnya di Makassar, ia tercatat pernah melakukan tindak pidana pencurian di Kabupaten Takalar. Sifat kriminalnya nampaknya telah terasah melalui berbagai jenis pelanggaran hukum, mulai dari pencurian hingga meningkat ke level kekerasan seksual yang sadis.

Pelaku yang kini sudah diamankan dan dibawa kembali ke Makassar untuk menjalani proses hukum, terancam jeratan pasal berlapis. Selain pasal pemerkosaan dan penyekapan, ia juga akan dijerat dengan pasal pencurian dengan kekerasan. Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk lowongan kerja palsu yang beredar di media sosial, terutama yang mengharuskan pertemuan di tempat-tempat pribadi atau tidak jelas legalitas perusahaannya.

Menghindari Jebakan Loker Palsu: Pesan untuk Masyarakat

Kasus yang menimpa MA menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Tim TotoNews merangkum beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan oleh para pencari kerja agar terhindar dari modus serupa:

  • Verifikasi Identitas Perusahaan: Selalu cek legalitas perusahaan atau individu yang menawarkan pekerjaan. Pastikan alamat kantor jelas dan bisa dilacak melalui Google Maps atau situs resmi pemerintah.
  • Hindari Pertemuan di Tempat Privat: Jangan pernah menyetujui wawancara kerja di rumah pribadi, kamar hotel, atau lokasi yang terpencil. Wawancara kerja yang profesional selalu dilakukan di kantor atau tempat umum yang ramai.
  • Waspadai Tawaran yang Terlalu Manis: Jika gaji yang ditawarkan sangat tinggi namun syarat pekerjaannya sangat mudah atau tidak masuk akal, patut dicurigai sebagai modus penipuan atau perdagangan orang.
  • Beritahu Orang Terdekat: Selalu informasikan kepada keluarga atau teman saat hendak melakukan wawancara kerja. Bagikan lokasi terkini (share location) agar keberadaan Anda tetap terpantau.

Kini, MA tengah menjalani pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma mendalam yang dialaminya. Sementara itu, Feri Dg Rumpa harus bersiap menghadapi konsekuensi hukum atas perbuatan kejinya. Keberhasilan polisi menangkap pelaku sebelum jatuh korban di Surabaya merupakan kemenangan kecil dalam perang melawan predator seksual di ruang digital.

Diharapkan dengan terungkapnya kasus ini, platform media sosial seperti Facebook juga lebih memperketat moderasi konten terkait iklan lowongan kerja guna mencegah oknum tidak bertanggung jawab menyebarkan jerat kejahatan. Tetaplah waspada, karena kejahatan digital seringkali bersembunyi di balik profil yang tampak biasa namun menyimpan niat yang sangat jahat.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *