Mengenang Jejak Sang Pejuang: Presiden Prabowo Resmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk sebagai Monumen Keadilan Sosial
TotoNews — Suasana khidmat menyelimuti Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu pagi yang bersejarah. Kedatangan Presiden Prabowo Subianto di tanah kelahiran pahlawan buruh, Marsinah, bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan penghormatan kenegaraan tertinggi bagi sosok perempuan yang keberaniannya melampaui zaman. Di sana, Presiden meresmikan Museum Ibu Marsinah sekaligus melakukan ziarah ke makam sang pejuang hak-hak pekerja tersebut.
Sejak fajar menyingsing, warga setempat telah memadati jalanan desa, antusias menyambut kehadiran orang nomor satu di Indonesia tersebut. Kehadiran Prabowo di Nganjuk seolah membawa kembali ingatan kolektif bangsa akan peristiwa besar tahun 1993, namun kali ini dengan narasi keadilan yang lebih kuat dan pengakuan yang tuntas atas jasa-jasa Marsinah.
Kebakaran Hebat Hanguskan Rumah di Jalan Banteng Kranji, Tim Damkar Bekasi Diterjunkan
Nostalgia dan Haru di Kediaman Masa Kecil Marsinah
Sebelum melangkah ke podium utama peresmian, Presiden Prabowo memilih untuk terlebih dahulu menyambangi sebuah hunian sederhana yang menjadi saksi bisu masa kecil sang pejuang buruh. Rumah itu masih berdiri kokoh, memancarkan aura kesederhanaan yang menjadi akar dari nilai-nilai keberanian Marsinah. Di teras rumah, Presiden disambut dengan raut wajah haru oleh keluarga besar Marsinah, termasuk sang kakak, Marsini, dan adiknya, Wijiati.
Didampingi oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Mensesneg Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, Presiden melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kaki mantan Menteri Pertahanan itu terhenti sejenak ketika ia memasuki kamar pribadi Marsinah. Di ruangan sempit itulah, Prabowo terdiam, menatap jejak-jejak keseharian seorang perempuan muda yang namanya kini abadi dalam sejarah perjuangan buruh nasional.
Tragedi di Balik Reruntuhan Puncak: Detik-Detik Tembok Penahan Tanah di Cianjur Merenggut Nyawa Buruh Harian
Momen kekeluargaan ini ditutup dengan sesi foto bersama di teras rumah yang berlangsung hangat. Tak ada jarak yang terasa antara kepala negara dengan keluarga pejuang rakyat jelata itu. Suasana ini menjadi pembuka yang emosional sebelum rombongan bergeser ke bangunan megah di sisi kiri rumah: Museum Ibu Marsinah.
Museum Marsinah: Arsip Keberanian yang Melawan Lupa
Memasuki area museum, Presiden Prabowo disuguhi pemandangan yang menyentuh nurani. Andi Gani Nena Wea menunjukkan sebuah lemari kaca yang menyimpan benda paling berharga dalam museum tersebut. “Ini baju terakhir Pak, baju terakhir Bu Marsinah dengan tasnya,” ujar Andi Gani dengan nada rendah yang penuh hormat.
Prabowo tampak menyimak dengan saksama, menatap lekat pakaian tersebut. Pakaian itu bukan sekadar kain, melainkan saksi bisu detik-detik terakhir hayat sang aktivis sebelum tragedi memilukan merenggut nyawanya. Selain artefak fisik, museum ini juga dilengkapi dengan teknologi digital yang menampilkan kliping koran asli dari tahun 1993, merekam bagaimana peristiwa pembunuhan Marsinah mengguncang tanah air dan memicu gelombang solidaritas internasional.
Waspada ‘Jeda Strategis’: Bamsoet Ingatkan Dampak Tersembunyi Konflik Iran-Israel bagi Indonesia
Penyajian sejarah yang transparan ini sengaja dilakukan agar generasi mendatang tidak pernah lupa pada harga sebuah keadilan. Di bagian belakang kompleks, terdapat pula fasilitas unik berupa rumah singgah. Fasilitas ini diperuntukkan bagi para peziarah dan aktivis dari luar kota yang ingin memberikan penghormatan di makam Marsinah, menjadikan tempat ini sebagai pusat literasi dan konsolidasi pemikiran tentang hak asasi manusia.
Peresmian dan Pesan Kuat Presiden Prabowo
Puncak acara ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden. Dengan suara yang tegas namun tenang, Prabowo meresmikan fasilitas tersebut. “Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim pada pagi hari ini Sabtu, 16 Mei 2026 saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur,” ucapnya disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Diplomasi Tegas Donald Trump: Klaim Persatuan Uni Eropa Melawan Ambisi Nuklir Iran dan Ultimatum Perdagangan
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa museum ini bukan sekadar bangunan seremonial. Ia menyebutnya sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang perempuan yang berdiri teguh demi hak-hak kaum buruh. Lebih jauh lagi, Presiden memandang sosok Marsinah sebagai representasi dari mereka yang termarjinalkan.
“Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan semua mereka-mereka yang berada di pihak yang lemah, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak punya kekuasaan dan kekuatan,” imbuhnya. Beliau juga mengingatkan bahwa peristiwa keji yang menimpa Marsinah di masa lalu seharusnya tidak perlu terjadi dalam sebuah negara yang beradab.
Sebuah Monumen Langka di Kancah Dunia
Ada satu poin menarik yang ditekankan oleh Presiden Prabowo: keunikan museum ini di mata dunia. Menurutnya, dedikasi khusus berupa museum untuk mengenang perjuangan seorang buruh perempuan adalah fenomena yang sangat jarang ditemukan secara global. Ia merasa bangga bahwa Indonesia mampu memberikan tempat yang layak bagi pahlawan rakyat kecil.
“Saya kira, mungkin peristiwa yang langka. Mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi tolong dicek, ya. Mungkin pasti adalah, tapi kita ini peristiwa langka,” pungkas Prabowo dengan nada optimis. Pengelolaan museum ini nantinya akan melibatkan keluarga besar Marsinah, memastikan bahwa semangat asli dari sang pejuang tetap terjaga keasliannya dan tidak tergerus oleh kepentingan politik sesaat.
Ziarah Khidmat di Pusara Sang Pahlawan Nasional
Setelah seluruh rangkaian peresmian usai, Presiden Prabowo tidak langsung meninggalkan lokasi. Ia melanjutkan agenda dengan berjalan kaki menuju makam Marsinah yang berjarak sekitar satu kilometer dari kompleks museum. Di bawah terik matahari Nganjuk, Presiden berjalan didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, menunjukkan fisik yang prima dan tekad yang kuat.
Setibanya di pusara, suasana berubah menjadi sangat hening. Presiden Prabowo memanjatkan doa dengan kepala tertunduk, diikuti dengan prosesi tabur bunga. Momen ini menjadi penutup yang sangat simbolis. Jika museum adalah tempat untuk mengenang karyanya, maka makam adalah tempat untuk menghormati jiwanya.
Sebagai informasi tambahan yang relevan, Pahlawan Nasional Marsinah baru saja mendapatkan gelar resminya dari Presiden Prabowo pada 10 November 2025 yang lalu. Keputusan ini dianggap sebagai langkah besar dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, di mana seorang aktivis buruh yang sempat dianggap “kontroversial” oleh rezim masa lalu, kini diakui sebagai martir dan pahlawan bangsa yang sesungguhnya. Kunjungan ke Nganjuk kali ini adalah bukti nyata bahwa negara hadir untuk merawat ingatan atas perjuangan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.