Provokasi Itamar Ben-Gvir: Dunia Mengutuk Perlakuan Tak Manusiawi Terhadap Aktivis Global Sumud Flotilla

Rizky Ramadhan | Totonews
21 Mei 2026, 00:42 WIB
Provokasi Itamar Ben-Gvir: Dunia Mengutuk Perlakuan Tak Manusiawi Terhadap Aktivis Global Sumud Flotilla

TotoNews — Ketegangan diplomatik global kembali memanas setelah sebuah rekaman video kontroversial diunggah oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Video tersebut memperlihatkan bagaimana otoritas Israel memperlakukan para aktivis kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla yang sedianya hendak membawa bantuan ke Jalur Gaza. Dalam rekaman yang memicu amarah internasional tersebut, para aktivis tampak dipaksa berlutut dengan dahi menyentuh lantai, sementara tangan mereka terikat erat di belakang punggung.

Unggahan Ben-Gvir di media sosialnya ini bukan sekadar dokumentasi penangkapan, melainkan dianggap sebagai bentuk provokasi sengaja. Dengan menyertakan keterangan bertuliskan ‘Selamat datang di Israel’, menteri sayap kanan tersebut seolah ingin menunjukkan taring kekuasaannya. Ironisnya, latar belakang suara video tersebut menggunakan lagu kebangsaan Israel, yang diputar saat para aktivis—beberapa di antaranya terlihat memegang paspor negara asal mereka—mendapatkan perlakuan yang jauh dari standar martabat manusia. Insiden ini pun memicu gelombang kecaman yang sangat masif di panggung politik dunia.

Baca Juga

Tragedi Kereta Bekasi Memasuki Babak Baru: 31 Saksi Diperiksa, Polisi Telisik Potensi Kelalaian

Tragedi Kereta Bekasi Memasuki Babak Baru: 31 Saksi Diperiksa, Polisi Telisik Potensi Kelalaian

Gelombang Protes dari Pemimpin Eropa dan Amerika Utara

Langkah Ben-Gvir tersebut segera memicu reaksi keras dari berbagai ibu kota negara di dunia. Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh tim redaksi TotoNews, sejumlah negara besar seperti Italia, Prancis, Belanda, hingga Kanada langsung mengambil langkah diplomatik tegas dengan memanggil Duta Besar Israel di negara masing-masing. Mereka menuntut penjelasan atas tindakan yang dianggap melanggar hak asasi manusia tersebut.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, memberikan pernyataan resmi melalui platform X, menyatakan bahwa gambar-gambar yang dibagikan oleh Ben-Gvir sama sekali tidak bisa diterima secara moral maupun hukum internasional. Meloni menekankan bahwa banyak warga negara Italia yang ikut serta dalam aksi tersebut, dan memperlakukan pengunjuk rasa damai dengan cara yang merendahkan martabat adalah pelanggaran serius. Nada serupa juga datang dari Prancis, di mana Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot mengecam tindakan tersebut dan mendesak pembebasan segera bagi warga negaranya yang ditahan dalam misi bantuan kemanusiaan Gaza tersebut.

Baca Juga

Aksi Sigap Brimob Polda Metro Jaya Tangani Pascakebakaran Warkop di Jakarta Timur

Aksi Sigap Brimob Polda Metro Jaya Tangani Pascakebakaran Warkop di Jakarta Timur

Kecaman Kanada dan Belanda Terhadap Pelanggaran Martabat

Dari Amerika Utara, Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menggambarkan insiden ini sebagai kejadian yang ‘sangat mengkhawatirkan’. Kanada tidak tinggal diam dan telah menjadwalkan pemanggilan diplomat senior Israel untuk dimintai pertanggungjawaban. Anand menegaskan bahwa perlakuan manusiawi terhadap warga sipil adalah prinsip dasar yang tidak bisa dinegosiasikan, apa pun konteks konfliknya. Pemerintah Kanada berjanji akan terus memantau situasi ini dengan urgensi tinggi demi keselamatan warga mereka.

Belanda pun menyuarakan kegeraman yang sama. Menteri Luar Negeri Belanda, Tom Berendsen, secara terbuka menyatakan bahwa tindakan Ben-Gvir memamerkan tahanan dalam kondisi terhina telah melanggar prinsip dasar martabat manusia. Penahanan dan publikasi video tersebut dianggap sebagai bentuk intimidasi politik yang tidak pantas dilakukan oleh pejabat tingkat tinggi sebuah negara yang mengklaim menjunjung demokrasi. Masalah ini kini menjadi sorotan utama dalam agenda diplomasi internasional di wilayah Eropa.

Baca Juga

Revolusi Sampah Jawa Barat: Menteri LH Kawal Proyek PSEL Bandung dan Bogor Menuju Energi Terbarukan

Revolusi Sampah Jawa Barat: Menteri LH Kawal Proyek PSEL Bandung dan Bogor Menuju Energi Terbarukan

Pertanyaan Legalitas: Kasus di Perairan Internasional

Salah satu reaksi paling tajam datang dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. Ia tidak hanya mengecam perlakuan fisik terhadap para aktivis, tetapi juga mempertanyakan dasar hukum tindakan militer Israel di laut lepas. Mengingat kapal Global Sumud Flotilla dicegat sebelum mencapai tujuan, Lee mempertanyakan apakah Israel memiliki hak legal untuk menyita kapal dari negara ketiga di luar perairan teritorial mereka. “Apakah itu tanah Israel? Jika terjadi konflik, dapatkah mereka menyita dan menahan kapal negara ketiga tanpa dasar hukum yang jelas?” tanya Lee dengan nada retoris yang menantang legitimasi tindakan Israel.

Para ahli hukum internasional juga mulai angkat bicara mengenai insiden ini. Banyak yang menilai bahwa pencegatan kapal di perairan internasional bisa dikategorikan sebagai tindakan pembajakan jika tidak didasari oleh resolusi internasional yang sah. Hal ini menambah daftar panjang konflik Israel-Palestina yang melibatkan aktor-aktor sipil internasional. Korea Selatan mengonfirmasi bahwa warga mereka turut menjadi korban dalam penahanan ini, dan mereka menuntut penjelasan hukum yang komprehensif dari pihak Yerusalem.

Baca Juga

Langkah Masif Satgas PRR: Puluhan Sungai dan Muara di Sumatera Kini Kembali Dinormalisasi

Nasib Aktivis dan Keikutsertaan Warga Negara Indonesia

Di tengah kecaman global, perhatian juga tertuju pada nasib 430 aktivis Global Sumud Flotilla yang kini mendekam di tahanan Israel. Kelompok ini terdiri dari individu-individu dari berbagai profesi dan kewarganegaraan yang memiliki satu tujuan: menembus blokade Gaza untuk menyalurkan bantuan medis dan pangan. Namun, misi mulia tersebut berakhir di tangan militer Israel yang membawa mereka ke pusat-pusat penahanan di wilayah Israel.

Yang menarik bagi publik tanah air adalah kehadiran 9 warga negara Indonesia (WNI) dalam kelompok aktivis tersebut. Kementerian Luar Negeri Indonesia terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi mereka. Meskipun pihak Israel menyatakan ini adalah prosedur penahanan standar, namun video yang diunggah Ben-Gvir memberikan gambaran lain yang lebih kelam. Pemerintah Indonesia melalui jalur diplomatik terus mengupayakan perlindungan maksimal bagi para WNI ini, sembari memastikan bahwa mereka tidak mendapatkan perlakuan kasar selama masa penahanan.

Reaksi Keras dari Portugal, Spanyol, dan Irlandia

Portugal dan Spanyol juga tidak ketinggalan dalam barisan negara yang mengecam Israel. Kementerian Luar Negeri Portugal menyebut perilaku Ben-Gvir sebagai sesuatu yang ‘tidak dapat ditoleransi’ dalam pergaulan antarbangsa modern. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, melabeli perlakuan terhadap para aktivis tersebut sebagai tindakan yang ‘mengerikan’ dan bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan global yang disepakati.

Dari Dublin, Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEntee, menyatakan keterkejutannya atas rekaman video yang beredar. Irlandia, yang selama ini dikenal vokal dalam membela hak-hak warga Palestina, mendesak agar seluruh aktivis segera dibebaskan tanpa syarat. Menurut McEntee, penangkapan aktivis kemanusiaan hanya akan memperburuk citra Israel di mata dunia dan semakin menjauhkan prospek perdamaian di kawasan tersebut. Kejadian ini dianggap sebagai kemunduran besar dalam upaya penyelesaian pelanggaran HAM di wilayah konflik.

Kesimpulan: Tantangan Diplomatik Bagi Israel

Unggahan Itamar Ben-Gvir ini tampaknya menjadi bumerang diplomatik bagi Israel. Alih-alih mendapatkan dukungan atau menunjukkan kekuatan, tindakan tersebut justru menyatukan berbagai negara dalam satu nada kecaman yang sama. Dunia internasional kini melihat betapa kebijakan internal Israel yang dipengaruhi oleh faksi sayap kanan ekstrem dapat berdampak luas pada stabilitas hubungan luar negeri negara tersebut.

Global Sumud Flotilla mungkin telah dihentikan secara fisik, namun pesan yang mereka bawa justru semakin bergema berkat provokasi Ben-Gvir sendiri. Kini, tekanan berada di pundak pemerintah Israel untuk memberikan penjelasan transparan dan menjamin keselamatan seluruh aktivis yang mereka tahan. TotoNews akan terus mengawal perkembangan kasus ini, memastikan informasi terkini sampai ke tangan pembaca mengenai nasib para aktivis kemanusiaan di Gaza.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *