Kisah Angeles Duran: Wanita yang Nekat Mengklaim Matahari dan Berencana Memungut Pajak dari Seluruh Dunia

Andini Putri Lestari | Totonews
31 Mei 2026, 06:42 WIB
Kisah Angeles Duran: Wanita yang Nekat Mengklaim Matahari dan Berencana Memungut Pajak dari Seluruh Dunia

TotoNews — Selama miliaran tahun, Matahari telah menjadi pusat dari tata surya kita, memancarkan energi yang tak terbatas dan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di Bumi tanpa memungut biaya sepeser pun. Namun, bayangkan jika suatu hari Anda menerima tagihan bulanan hanya karena Anda menjemur pakaian atau sekadar menikmati sinar hangat di pagi hari. Kedengarannya seperti naskah film komedi satir, namun bagi seorang wanita asal Spanyol bernama Angeles Duran, hal ini adalah sebuah ambisi hukum yang sangat serius.

Dunia sempat digemparkan oleh klaim sepihak yang dilakukan oleh Duran, seorang warga Galicia, Spanyol, yang menyatakan bahwa dirinya adalah pemilik sah dari Sang Surya. Klaim ini bukan sekadar gertakan di media sosial, melainkan sebuah langkah formal yang melibatkan notaris dan argumen hukum yang cukup unik, meskipun bagi banyak ilmuwan astronomi dan pakar hukum internasional, hal ini dianggap sebagai sebuah anomali yang menggelitik.

Baca Juga

Sisi Gelap Dunia Kerja: Menelisik 6 Profesi dengan Tekanan Mental dan Risiko Ekstrem

Sisi Gelap Dunia Kerja: Menelisik 6 Profesi dengan Tekanan Mental dan Risiko Ekstrem

Awal Mula Ambisi Sang Pemilik Matahari

Ide gila ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Angeles Duran mengaku mendapatkan inspirasi setelah membaca berita tentang seorang pria asal Amerika Serikat yang telah mendaftarkan kepemilikan atas Bulan dan hampir semua planet di sistem tata surya kita. Merasa bahwa ada peluang yang terlewatkan, Duran kemudian melirik objek angkasa yang paling krusial bagi kehidupan: Matahari.

Pada September 2010, Duran melangkah dengan penuh percaya diri ke sebuah kantor notaris lokal di Spanyol. Ia meminta notaris tersebut untuk menerbitkan sebuah dokumen resmi yang menyatakan dirinya sebagai pemilik sah dari bintang kuning tersebut. Bagi masyarakat awam, tindakan ini mungkin dianggap sebagai lelucon, namun Duran melihatnya sebagai sebuah langkah strategis untuk memanfaatkan celah dalam regulasi global yang mengatur tentang kepemilikan objek luar angkasa.

Baca Juga

Eksperimen Gila! RTX 3070 Disulap Menjadi Monster 16GB Menggunakan Organ Kanibal dari GPU AMD

Eksperimen Gila! RTX 3070 Disulap Menjadi Monster 16GB Menggunakan Organ Kanibal dari GPU AMD

Memanfaatkan Celah dalam Hukum Internasional

Dalam argumennya, Duran merujuk pada Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967 (Outer Space Treaty) yang disepakati oleh negara-negara di dunia. Perjanjian tersebut secara eksplisit melarang pemerintah atau negara mana pun untuk mengklaim kedaulatan atas benda langit seperti planet, bulan, atau bintang. Namun, menurut interpretasi Duran, ada satu detail penting yang terlewatkan: perjanjian tersebut hanya menyebutkan larangan bagi ‘negara’, bukan bagi ‘individu’.

“Tidak ada hambatan hukum yang menghalangi saya. Saya mendukung klaim saya secara hukum. Saya tidak bodoh, saya sangat memahami hukum,” tegas Duran dalam sebuah wawancara yang kemudian dikutip secara luas oleh berbagai media internasional. Ia berpendapat bahwa karena ia adalah individu pertama yang terpikir untuk mengklaim Matahari secara hukum, maka secara otomatis ia memiliki hak kepemilikan tersebut berdasarkan prinsip ‘siapa cepat, dia dapat’.

Baca Juga

Strategi Akselerasi Internet Cepat Indonesia: Sinergi FTTH dan FWA Jadi Solusi Krusial

Strategi Akselerasi Internet Cepat Indonesia: Sinergi FTTH dan FWA Jadi Solusi Krusial

Skema Pajak Matahari: Dermawan atau Ambisius?

Memiliki Matahari tentu bukan sekadar untuk kepuasan batin bagi Duran. Ia segera merancang rencana bisnis yang mencengangkan. Ia berencana mengenakan biaya atau ‘sewa’ kepada siapa pun yang menggunakan energi dari Matahari. Hal ini mencakup perusahaan energi surya hingga masyarakat umum yang beraktivitas di bawah sinarnya. Namun, menyadari bahwa klaimnya akan memicu kemarahan publik, Duran mencoba membungkus ambisinya dengan narasi filantropi.

Dalam skema pembagian pendapatan yang ia susun, Duran menjanjikan bahwa 50% dari hasil pajak Matahari tersebut akan diserahkan kepada pemerintah Spanyol untuk membantu perekonomian negara. Kemudian, 20% akan dialokasikan untuk dana pensiun masyarakat, 10% untuk penelitian ilmiah, dan 10% lagi untuk misi kemanusiaan guna mengakhiri kelaparan dunia. Sementara itu, Duran hanya akan mengambil 10% sisanya untuk dirinya sendiri.

Baca Juga

Ironi di Balik Efisiensi Amazon: Kompensasi Andy Jassy Melejit di Tengah Badai PHK Massal

Ironi di Balik Efisiensi Amazon: Kompensasi Andy Jassy Melejit di Tengah Badai PHK Massal

“Sudah waktunya bagi kita untuk melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Jika ada ide untuk menghasilkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengapa tidak dilakukan?” ujarnya membela diri. Dengan hitung-hitungan tersebut, Duran berusaha memosisikan dirinya sebagai sosok penyelamat ekonomi global melalui kepemilikan benda langit.

Perseteruan Hukum dengan Raksasa E-Commerce

Langkah Duran tidak berhenti pada dokumen notaris saja. Ia mencoba menjual ‘kapling’ atau hak penggunaan energi matahari melalui platform eBay. Ia mulai menjual unit-unit kecil seharga satu Euro per meter persegi. Namun, aksinya ini segera dicegat oleh pihak eBay yang kemudian menghapus daftar penjualannya karena dianggap melanggar kebijakan platform yang melarang penjualan barang yang tidak berwujud atau tidak dapat dikirim secara fisik.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut, Duran menuntut eBay ke pengadilan. Ia merasa hak usahanya telah dirampas secara sepihak. Kasus ini sempat bergulir di pengadilan Spanyol, menambah panjang daftar kontroversi hukum yang melibatkan namanya. Meskipun pada akhirnya banyak pihak menganggap klaimnya tidak memiliki dasar hukum yang kuat di mata hukum internasional modern, Duran tetap teguh pada pendiriannya bahwa ia adalah pemilik sah sang surya.

Dampak dan Refleksi terhadap Hukum Luar Angkasa

Kisah Angeles Duran ini membuka diskusi yang lebih luas mengenai bagaimana manusia memandang kepemilikan di luar angkasa. Meskipun Perjanjian Luar Angkasa 1967 dirancang untuk mencegah kolonialisme di antariksa, kasus-kasus seperti klaim Duran menunjukkan bahwa masih banyak wilayah abu-abu yang bisa dieksploitasi oleh individu-individu yang memiliki imajinasi liar.

Banyak ahli hukum berpendapat bahwa klaim individu terhadap benda langit tetap tidak valid karena tidak ada otoritas yang mampu menegakkan klaim tersebut. Sebuah kepemilikan memerlukan pengakuan dari komunitas internasional, dan hingga saat ini, tidak ada satu pun negara atau lembaga PBB yang mengakui sertifikat notaris Duran sebagai dokumen kepemilikan universal.

Kesimpulan: Antara Lelucon dan Ambisi Nyata

Hingga saat ini, Matahari tetap bersinar secara gratis untuk kita semua. Angeles Duran mungkin belum berhasil memungut pajak dari setiap rumah tangga di dunia, namun namanya telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu orang yang paling berani menantang tatanan kosmik dengan logika hukumnya sendiri. Kisahnya tetap menjadi pengingat unik tentang betapa luasnya ambisi manusia, bahkan ketika ambisi tersebut harus berhadapan dengan bintang raksasa yang jaraknya jutaan kilometer dari jangkauan tangan.

Bagi pembaca setia TotoNews, kisah ini mengajarkan kita bahwa di dunia ini, segalanya mungkin saja terjadi jika seseorang menemukan celah kecil dalam aturan yang ada. Apakah di masa depan kepemilikan benda langit akan menjadi hal yang lumrah? Hanya waktu yang bisa menjawabnya seiring dengan berkembangnya teknologi eksplorasi angkasa dan regulasi baru yang menyertainya.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *