Badai PHK Kembali Guncang Ubisoft: Penutupan Studio Global dan Masa Depan Suram Industri Game

Andini Putri Lestari | Totonews
15 Jun 2026, 12:41 WIB
Badai PHK Kembali Guncang Ubisoft: Penutupan Studio Global dan Masa Depan Suram Industri Game

TotoNews — Industri hiburan digital global kembali dipaksa menelan pil pahit saat salah satu raksasa terbesarnya, Ubisoft, mengumumkan langkah restrukturisasi drastis yang berdampak luas. Di tengah dinamika pasar yang kian kompetitif dan tekanan finansial yang tak kunjung mereda, pengembang di balik waralaba legendaris Assassin’s Creed ini resmi melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 380 karyawan sekaligus menginstruksikan penutupan permanen pada dua studio pengembangan strategis mereka.

Langkah Drastis di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Keputusan berat ini terungkap melalui memo internal perusahaan yang bocor ke publik, memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas di dalam tubuh Ubisoft saat ini. Perampingan ini bukan sekadar efisiensi kecil, melainkan sebuah manuver bedah organisasi yang menyasar titik-titik krusial di Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, hingga Serbia. Kejadian ini menambah daftar panjang catatan kelam perusahaan, mengingat hanya beberapa bulan sebelumnya, mereka juga telah memangkas puluhan staf di Swedia dan menghentikan operasional Ubisoft Halifax di awal tahun 2026.

Baca Juga

Legasi Tanpa Batas: Bagaimana Cristiano Ronaldo Menaklukkan Enam Edisi Piala Dunia dan Mengukir Sejarah Abadi

Legasi Tanpa Batas: Bagaimana Cristiano Ronaldo Menaklukkan Enam Edisi Piala Dunia dan Mengukir Sejarah Abadi

Dunia industri game tampaknya sedang berada dalam fase koreksi besar-besaran. Setelah lonjakan permintaan selama masa pandemi, banyak perusahaan kini berjuang untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Bagi Ubisoft, langkah ini diklaim sebagai upaya untuk menyederhanakan sistem operasional yang dianggap terlalu gemuk, menekan biaya overhead yang membebani, dan membangun kembali fondasi organisasi yang lebih ramping namun lincah di masa depan.

Rincian Penutupan Studio: Akhir Bagi Belgrade dan Winnipeg

Dampak paling menyakitkan dari kebijakan terbaru ini dirasakan oleh tim di Ubisoft Belgrade dan Ubisoft Winnipeg. Kedua studio ini resmi dinyatakan berhenti beroperasi, meninggalkan lubang besar dalam peta pengembangan teknis perusahaan. Berikut adalah rincian dampak pemangkasan tersebut:

Baca Juga

Strategi Jitu Ubah Ruang Tamu Jadi Bioskop Pribadi dengan Budget Minimalis

Strategi Jitu Ubah Ruang Tamu Jadi Bioskop Pribadi dengan Budget Minimalis
  • Ubisoft Belgrade (Serbia): Studio yang telah berdiri sejak 2016 ini harus menutup pintunya secara permanen. Dampaknya, sekitar 100 tenaga profesional kehilangan pekerjaan mereka. Padahal, Belgrade memiliki rekam jejak yang solid dengan kontribusi signifikan pada judul-judul populer seperti The Crew 2, Tom Clancy’s Rainbow Six, Riders Republic, hingga proyek ambisius Skull & Bones.
  • Ubisoft Winnipeg (Kanada): Ditutup total dengan dampak pada 65 karyawan. Sejak dibuka pada 2018, studio ini memegang peran vital sebagai pusat pengembangan teknologi. Mereka berfokus pada optimasi mesin game (game engine) andalan Ubisoft, yakni Anvil dan Snowdrop, yang menjadi tulang punggung visual bagi hampir seluruh game AAA milik perusahaan.
  • Ubisoft Barcelona (Spanyol): Meskipun tidak ditutup sepenuhnya, studio ini mengalami pemangkasan besar sebanyak 51 posisi, memaksa tim yang tersisa untuk memikul beban kerja yang lebih berat.
  • Markas Global San Francisco (AS): Sejumlah karyawan di pusat komando Amerika Serikat ini juga dilaporkan terkena dampak, meskipun pihak manajemen memilih untuk tidak mempublikasikan angka pastinya ke publik.

Reposisi Strategis di Ubisoft Montreal

Selain gelombang pemecatan, perampingan karyawan ini juga dibarengi dengan perombakan struktur tim di Ubisoft Montreal, yang merupakan studio terbesar dan paling ikonik milik perusahaan. Tercatat lebih dari 150 karyawan yang sebelumnya berfokus pada pengembangan Rainbow Six Siege dan versi mobile-nya, serta satu proyek rahasia yang belum diumumkan (unannounced project), kini ditarik dari posisi mereka.

Baca Juga

8 Koleksi Barang Unik yang Berawal dari Iseng Menjadi Obsesi Luar Biasa

8 Koleksi Barang Unik yang Berawal dari Iseng Menjadi Obsesi Luar Biasa

Alih-alih diberhentikan, ratusan staf di Montreal ini dipindahkan ke proyek-proyek strategis lainnya. Manajemen berdalih bahwa langkah ini diperlukan untuk memastikan sumber daya manusia terbaik difokuskan pada judul-judul yang memiliki potensi keuntungan paling stabil. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ubisoft kini lebih memilih untuk bermain aman dengan memperkuat lini produk yang sudah terbukti sukses (live-service) daripada mengambil risiko besar pada IP baru yang belum teruji di pasar.

Masa Kelam Sang Kreator Assassin’s Creed

Melihat ke belakang, kondisi Assassin’s Creed dan ekosistem Ubisoft secara keseluruhan memang sedang tidak baik-baik saja. Perusahaan yang dulu dikenal sangat produktif dalam merilis judul-judul inovatif ini kini terjebak dalam siklus pembatalan proyek dan penghematan anggaran yang agresif. Beberapa proyek yang sempat dinantikan penggemar, seperti Tom Clancy’s The Division Heartland dan sekuel dari Immortals Fenyx Rising, terpaksa disuntik mati demi menjaga aliran kas perusahaan.

Baca Juga

Friendster Lahir Kembali: Revolusi Media Sosial yang Mewajibkan Pertemuan Fisik untuk Berteman

Friendster Lahir Kembali: Revolusi Media Sosial yang Mewajibkan Pertemuan Fisik untuk Berteman

Penyusutan jumlah karyawan Ubisoft dalam beberapa tahun terakhir sangatlah drastis. Jika pada masa puncaknya mereka mempekerjakan lebih dari 20.000 orang di seluruh dunia, kini angka tersebut terus merosot tajam. Tercatat, lebih dari 5.000 posisi telah hilang dalam kurun waktu yang relatif singkat. Dengan gelombang PHK terbaru ini, total tenaga kerja Ubisoft diperkirakan hanya tersisa di angka 15.000 orang. Sebuah penurunan skala yang menggambarkan betapa kerasnya tekanan yang dihadapi oleh sang penerbit asal Prancis tersebut.

Analisis: Apa yang Salah dengan Ubisoft?

Banyak analis industri menilai bahwa Ubisoft terlalu lama terjebak dalam formula “open-world” yang mulai terasa repetitif bagi para gamer. Selain itu, keterlambatan pengembangan pada proyek-proyek besar seperti Skull & Bones yang memakan waktu bertahun-tahun dengan biaya produksi yang membengkak, telah menguras cadangan finansial mereka secara signifikan. Kegagalan untuk menembus pasar game mobile secara dominan juga menjadi faktor lain yang membuat mereka tertinggal dari pesaing seperti Activision Blizzard atau EA.

Langkah efisiensi ini, meski pahit, mungkin merupakan satu-satunya jalan bagi Ubisoft untuk bertahan dari kebangkrutan atau potensi akuisisi oleh pihak eksternal. Namun, pertanyaannya tetap sama: sejauh mana perusahaan dapat terus memangkas talenta kreatifnya sebelum kualitas produk akhir mereka benar-benar merosot? Kehilangan tim pengembang teknologi seperti di Winnipeg tentu akan berdampak pada performa mesin game mereka di masa depan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pengalaman bermain para pelanggan.

Harapan di Tengah Badai

Meskipun awan mendung sedang menggelayuti, para penggemar setia masih berharap Ubisoft mampu bangkit melalui judul-judul besar yang dijadwalkan rilis dalam beberapa tahun ke depan. Fokus perusahaan yang kini mengerucut pada merek-merek kuat diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor dan memberikan stabilitas bagi ribuan karyawan yang masih bertahan. Namun, bagi 380 orang yang baru saja kehilangan mata pencaharian mereka, berita ini tetaplah sebuah tragedi yang menandai betapa volatilnya karier di dunia pengembangan berita teknologi dan hiburan saat ini.

Industri game global kini menantikan langkah Ubisoft selanjutnya. Apakah restrukturisasi ini akan menjadi titik balik menuju kejayaan kembali, atau justru awal dari penyusutan yang lebih dalam? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: wajah Ubisoft kini telah berubah selamanya.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *