Eksklusif Artemis II: Pengalaman Mistis Astronaut Menyaksikan Gerhana Matahari ‘Pribadi’ dari Balik Bulan

Andini Putri Lestari | Totonews
07 Apr 2026, 08:51 WIB
Eksklusif Artemis II: Pengalaman Mistis Astronaut Menyaksikan Gerhana Matahari 'Pribadi' dari Balik Bulan

TotoNews — Jagat raya kembali memamerkan kemegahannya kepada para penjelajah modern yang tengah menjalankan misi Artemis II. Di tengah keheningan ruang angkasa yang luas, empat astronaut yang berada dalam kapsul Orion baru saja melaporkan sebuah pemandangan yang hampir mustahil disaksikan dari permukaan Bumi: fenomena gerhana matahari total yang mereka sebut sebagai ‘gerhana matahari pribadi’.

Momen luar biasa ini terjadi tepat saat wahana Orion meluncur di area sisi jauh Bulan (far side of the Moon). Dalam perspektif unik ini, piringan Bulan tampak jauh lebih masif dibandingkan ukurannya jika dilihat dari Bumi, sehingga mampu menutupi cahaya Matahari secara sempurna dalam durasi yang sangat panjang. Kejadian ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan bagian dari geometri presisi dalam misi luar angkasa yang telah dirancang sedemikian rupa.

Baca Juga

Drama Taksi Robot Waymo: Saat Teknologi Otonom ‘Membawa Lari’ Koper Penumpang di Bandara

Drama Taksi Robot Waymo: Saat Teknologi Otonom ‘Membawa Lari’ Koper Penumpang di Bandara

Durasi Satu Jam yang Menakjubkan

Berbeda dengan gerhana matahari di Bumi yang biasanya hanya menyisakan kegelapan total selama beberapa menit, kru Artemis II—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—menikmati fenomena ini hingga hampir satu jam lamanya. Keistimewaan ini dimungkinkan karena posisi kapsul yang berada jauh di luar orbit Bumi dan sangat dekat dengan massa Bulan.

Sambil mengenakan kacamata pelindung khusus, para astronaut ini mengamati korona Matahari, yakni lapisan terluar atmosfer surya yang berpendar indah di balik bayangan hitam Bulan. Pemandangan korona ini memberikan data visual yang sangat berharga bagi para ilmuwan, mengingat tingkat kejernihan pengamatan dari ruang hampa udara jauh melampaui teleskop tercanggih sekalipun.

Baca Juga

Ambisi Antarbintang: Miliarder Kripto Chun Wang Siap Pimpin Misi SpaceX Menembus Batas Mars

Ambisi Antarbintang: Miliarder Kripto Chun Wang Siap Pimpin Misi SpaceX Menembus Batas Mars

Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah

Bagi tim NASA, fenomena ini bukan sekadar hiburan bagi para kru. Kesempatan emas ini digunakan untuk mempelajari aktivitas Matahari dari sudut pandang yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya. Selain memantau badai radiasi, para astronaut juga bersiaga memantau kemungkinan adanya kilatan meteoroid yang menghantam permukaan Bulan selama periode gelap tersebut.

Misi Artemis II sendiri merupakan sejarah baru bagi peradaban manusia. Diluncurkan pada awal April 2026, misi ini menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah hiatus selama lebih dari lima dekade sejak era Apollo berakhir. Keberhasilan kru mencapai titik terjauh dari Bumi ini sekaligus memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh misi legendaris Apollo 13.

Baca Juga

Menyingkap Tabir Investigasi SEC Terhadap Telkom: Upaya ‘Bersih-Bersih’ Warisan Masalah Demi Transparansi Global

Menyingkap Tabir Investigasi SEC Terhadap Telkom: Upaya ‘Bersih-Bersih’ Warisan Masalah Demi Transparansi Global

Langkah Menuju Masa Depan di Bulan

Sepanjang perjalanan sepuluh hari yang mendebarkan ini, kru Artemis II tidak hanya melakukan pengujian sistem navigasi dan pendukung kehidupan, tetapi juga mengabadikan momen-momen ikonik seperti Earthrise—pemandangan saat Bumi perlahan muncul dari cakrawala Bulan yang sunyi. Foto-foto dan video resolusi tinggi dari gerhana matahari pribadi ini kabarnya akan segera dirilis secara resmi untuk publik.

Keberhasilan Artemis II menjadi fondasi utama sebelum NASA melangkah ke tahap berikutnya, yakni mendaratkan manusia kembali di kutub selatan Bulan melalui misi Artemis III. Untuk saat ini, pengalaman menyaksikan matahari yang ‘menghilang’ di balik punggung Bulan tetap menjadi kenangan yang paling berkesan bagi para penjelajah bintang tersebut.

Baca Juga

Komitmen Baja Jensen Huang: Mengapa Bos Nvidia Berharta Rp 2.800 Triliun Tak Akan Tinggalkan Israel?

Komitmen Baja Jensen Huang: Mengapa Bos Nvidia Berharta Rp 2.800 Triliun Tak Akan Tinggalkan Israel?
Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *