Menggeser Takhta King Cobra: Mengenal Laophis crotaloides, Monster Berbisa Terbesar yang Pernah Menghuni Bumi

Andini Putri Lestari | Totonews
12 Apr 2026, 11:11 WIB
Menggeser Takhta King Cobra: Mengenal Laophis crotaloides, Monster Berbisa Terbesar yang Pernah Menghuni Bumi

TotoNews — Selama ini, publik mengenal King Cobra sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa dengan ukuran tubuh paling masif. Namun, lembaran sejarah geologi menyimpan rahasia yang jauh lebih mengerikan tentang predator melata yang pernah meneror daratan jutaan tahun silam. Bukan sekadar mitos, bukti keberadaan “monster” ini tertuang dalam catatan paleontologi yang sempat terlupakan selama lebih dari satu setengah abad.

Kisah ini bermula pada tahun 1857, ketika Richard Owen, seorang ahli paleontologi ternama asal Inggris yang juga dikenal sebagai pencetus istilah “dinosaurus”, menemukan 13 fosil tulang belakang di dekat wilayah Thessaloniki, Yunani. Owen mengeklaim telah menemukan spesies ular beludak (viper) purba dengan ukuran yang melampaui standar ular berbisa modern mana pun. Spesies ini kemudian diberi nama ilmiah Laophis crotaloides.

Baca Juga

Kurs Dolar Tembus Rp 17.300: Antara Kekhawatiran Publik dan Langkah Strategis Bank Indonesia

Kurs Dolar Tembus Rp 17.300: Antara Kekhawatiran Publik dan Langkah Strategis Bank Indonesia

Hilang dan Ditemukan Kembali

Temuan fenomenal Owen tersebut sempat dianggap hilang ditelan zaman dan menjadi misteri di kalangan peneliti. Baru pada 157 tahun kemudian, sebuah fragmen fosil tunggal kembali ditemukan di lokasi yang hampir sama di Yunani. Penemuan terbaru ini seolah menjadi pembenaran atas klaim Owen yang sempat diragukan, mengonfirmasi bahwa Bumi pernah menjadi rumah bagi predator berbisa dengan bobot yang sangat fantastis.

Berdasarkan analisis terhadap struktur fosil purba tersebut, para ahli memperkirakan bahwa Laophis crotaloides memiliki panjang tubuh antara 3 hingga 4 meter. Meski secara panjang tubuh masih kalah dari King Cobra yang bisa mencapai 5,5 meter, namun dari segi massa, Laophis berada di liga yang berbeda. Ular purba ini diperkirakan memiliki berat mencapai 25,8 kg, hampir tiga kali lipat lebih berat dibandingkan rata-rata berat King Cobra yang jarang melampaui angka 9 kg.

Baca Juga

Gaya Bertemu Performa: Infinix Note 60 Pro Edisi Pininfarina dan Yuna Resmi Meluncur, Harga Mulai 5 Jutaan

Gaya Bertemu Performa: Infinix Note 60 Pro Edisi Pininfarina dan Yuna Resmi Meluncur, Harga Mulai 5 Jutaan

Ketangguhan di Iklim Ekstrem

Yang membuat para ilmuwan terkesima adalah kemampuan adaptasi makhluk ini. Laophis crotaloides diketahui hidup sekitar 4 juta tahun yang lalu, sebuah periode di mana wilayah Eropa mulai mendingin dan ekosistem padang rumput mulai mendominasi. Sebagai hewan berdarah dingin, memiliki ukuran raksasa di lingkungan yang cenderung dingin adalah sebuah anomali biologis yang luar biasa.

Keberadaan mereka di wilayah tersebut juga berbarengan dengan kura-kura raksasa seukuran mobil. Bagaimana predator melata sebesar ini menjaga metabolismenya tetap aktif di cuaca dingin masih menjadi teka-teki besar bagi para pakar paleontologi hingga saat ini.

Ancaman Bisa yang Mematikan

Meskipun fosil yang ditemukan belum cukup untuk mengungkap detail komposisi racunnya, para peneliti meyakini bahwa sebagai anggota keluarga viper, Laophis crotaloides memiliki mekanisme serangan yang sangat efisien. Mereka kemungkinan besar memiliki taring solenoglyphous—taring panjang berongga yang berfungsi layaknya jarum suntik medis untuk menginjeksikan bisa jauh ke dalam jaringan tubuh mangsa.

Baca Juga

Gebrakan Transmart Full Day Sale 5 April 2026: LED TV 65 Inch Turun Harga Hingga Rp7 Jutaan!

Gebrakan Transmart Full Day Sale 5 April 2026: LED TV 65 Inch Turun Harga Hingga Rp7 Jutaan!

Efek dari bisanya diprediksi mampu menyebabkan nekrosis (kematian jaringan) dan gangguan pembekuan darah yang parah. Georgios Georgalis, peneliti yang mendalami spesies ini, menyebutnya sebagai “monster” sejati dari masa lalu. Meski hidup di tengah hewan-hewan besar, pola makan ular raksasa ini diperkirakan tetap menyasar mamalia kecil seperti hewan pengerat, serupa dengan kebiasaan berburu ular berbisa di masa kini.

Penelitian lebih lanjut terus diupayakan untuk memetakan apakah persebaran Laophis crotaloides mencakup wilayah lain di luar Yunani. Namun satu hal yang pasti, penemuan ini mengubah perspektif kita mengenai batas maksimal pertumbuhan ular berbisa dalam sejarah evolusi planet kita.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *