Visi Strategis TP PKK: Memperkuat Pondasi Ekonomi Lewat UP2K dan Menghidupkan Produktivitas Lansia di Seluruh Penjuru Negeri
TotoNews — Sinergi antara pemerintah daerah dan gerakan pemberdayaan masyarakat kini menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang kian menantang. Dalam sebuah kunjungan kerja yang penuh dengan gagasan progresif di Provinsi Lampung, Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat, Yane Ardian Bima Arya, menegaskan pentingnya penguatan struktur ekonomi akar rumput. Fokus utamanya bukan sekadar pada angka pertumbuhan, melainkan pada ketahanan keluarga yang ditopang melalui dua pilar besar: revitalisasi Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dan optimalisasi potensi kelompok lanjut usia (lansia).
Berbicara di tengah hijaunya kawasan PKK Agropark, Kabupaten Lampung Selatan pada Selasa (12/5), Yane menyampaikan pesan mendalam mengenai bagaimana sebuah keluarga harus mampu berdiri tegak secara finansial sekaligus menjadi tempat yang aman bagi seluruh anggotanya. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah misi untuk meninjau langsung efektivitas program pangan, sandang, serta intervensi stunting yang menjadi prioritas nasional.
Misi Persatuan di Bantul: Ketua MPR Ahmad Muzani dan Haedar Nashir Bedah Strategi Geopolitik Global
Menghidupkan Jiwa UMKM Melalui Seni Storytelling
Dunia usaha di tingkat mikro seringkali terjebak dalam produksi massal tanpa identitas. Menanggapi fenomena ini, Yane Ardian menekankan bahwa pembinaan UP2K harus mengalami evolusi. Di era digital saat ini, memiliki produk yang berkualitas saja tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar. Para pelaku UMKM lokal di bawah naungan PKK ditantang untuk memiliki kemampuan bercerita atau storytelling yang kuat terhadap produk yang mereka hasilkan.
“Lampung adalah gudangnya pisang. Kita melihat begitu banyak pelaku usaha yang mengolah pisang menjadi keripik atau produk turunannya. Namun, di tengah banjirnya produk serupa, yang akan memenangkan hati konsumen adalah produk yang memiliki narasi di baliknya,” ujar Yane. Menurutnya, sebuah cerita tentang asal-usul bahan baku, proses pembuatan yang higienis, hingga dampak sosial dari pembelian produk tersebut akan memberikan nilai tambah (value-added) yang signifikan. Hal inilah yang akan membuat produk lokal mampu bersaing di platform e-commerce dan menembus pasar yang lebih luas.
Darurat Sampah di Pandeglang: Warga Bangkonol Blokade TPSA, Protes Bau Menyengat dan Tata Kelola Buruk
PKK Agropark: Simbol Kemandirian Pangan Nasional
Salah satu poin yang mencuri perhatian dalam kunjungan tersebut adalah keberadaan PKK Agropark di Lampung Selatan. Yane memberikan apresiasi setinggi-langit atas inisiatif pemerintah daerah dan kader PKK setempat yang berhasil menyulap lahan luas menjadi pusat edukasi dan produksi pangan yang produktif. Baginya, Agropark ini bukan sekadar taman, melainkan laboratorium hidup bagi masyarakat untuk belajar mengenai ketahanan pangan secara mandiri.
“Saya telah berkeliling ke berbagai pelosok Indonesia, dan harus saya akui, lahan yang dikelola secara profesional oleh PKK sebesar ini baru saya temukan di sini. Ini adalah bukti nyata bahwa PKK memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah membangun bangsa dari level terkecil,” pujinya. Keberadaan Agropark ini diharapkan menjadi pemantik bagi daerah lain untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi kawasan hijau yang bernilai ekonomis tinggi.
Tragedi Maut di Perlintasan Grobogan: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak Mobil, 4 Orang Meninggal Dunia
Transformasi Lansia: Dari Beban Menjadi Aset Produktif
Isu lain yang dibahas secara mendalam adalah pemberdayaan lansia. Yane mematahkan stigma bahwa masa tua berarti berhenti berkarya. Sebaliknya, ia mendorong pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan para lansia tetap aktif, sehat, dan produktif. Menurutnya, pemberdayaan lansia memiliki korelasi positif terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi suatu daerah.
Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Singapura, di mana para lansia masih diberikan ruang untuk berkontribusi, misalnya di sektor layanan publik seperti bandara. “Jika kita melihat di bandara Singapura, kakek dan nenek di sana masih diberdayakan. Mereka tetap aktif secara fisik dan sosial, yang secara otomatis meningkatkan kualitas hidup serta kesehatan mental mereka,” jelas Yane. Pemerintah, melalui program-program PKK, harus menjadi motor penggerak agar para lansia di Indonesia tidak merasa terisolasi, melainkan tetap merasa berharga bagi komunitasnya.
Jogja Printing Expo 2026 Resmi Gebrak Yogyakarta: Wadah Inovasi Tanpa Batas Bagi Industri Percetakan Nasional
PKK Sebagai Mesin Sosial Terbesar di Indonesia
Menutup rangkaian paparannya, Yane mengingatkan kembali jati diri PKK sebagai organisasi sosial unik yang hanya dimiliki oleh Indonesia. Dengan kekuatan lebih dari 6 juta kader yang tersebar hingga ke tingkat dasawisma, PKK adalah mesin sosial yang sangat masif. Sepuluh Program Pokok PKK telah dirancang secara komprehensif untuk menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia, mulai dari aspek spiritual, sosial, emosional, hingga finansial.
“Kita harus bangga menjadi bagian dari gerakan ini. PKK adalah mitra strategis pemerintah yang bekerja dengan hati. Fokus kita pada pemberdayaan masyarakat bukan hanya soal bantuan materi, tapi soal mengubah pola pikir agar setiap keluarga di Indonesia menjadi tangguh dan mandiri,” pungkasnya. Melalui penguatan UP2K dan pemberdayaan lansia, diharapkan visi besar menuju Indonesia Emas dapat dimulai dari ketahanan keluarga yang kokoh di seluruh penjuru nusantara.
Ke depan, tantangan akan semakin kompleks, namun dengan kolaborasi yang apik antara pemerintah daerah, TP PKK, dan seluruh lapisan masyarakat, optimisme untuk menciptakan ekonomi yang inklusif tetap terjaga. Kunjungan kerja di Lampung ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi program-program berbasis kerakyatan yang nyata manfaatnya.