Badai Melanda Pasar Kripto: Mengapa Bitcoin Terhempas di Bawah Level Psikologis US$ 70.000?

Siti Aminah | Totonews
03 Jun 2026, 08:42 WIB
Badai Melanda Pasar Kripto: Mengapa Bitcoin Terhempas di Bawah Level Psikologis US$ 70.000?

TotoNews — Dunia aset digital kembali dikejutkan oleh volatilitas ekstrem yang menghantam mata uang kripto nomor satu di dunia. Setelah sempat menikmati masa bulan madu di atas awan, Bitcoin (BTC) kini harus menerima kenyataan pahit dengan terperosok ke bawah level dukungan psikologis US$ 70.000. Kejatuhan ini menandai pertama kalinya aset tersebut menyentuh angka serendah itu sejak April lalu, memicu kekhawatiran massal di kalangan investor ritel maupun institusi.

Sentimen pasar yang semula optimis mendadak berubah menjadi kelabu. Berdasarkan data terbaru dari Coin Metrics, harga Bitcoin sempat terjun bebas lebih dari 6%, mendarat di posisi US$ 67.014,97. Bahkan, dalam fluktuasi yang lebih tajam di awal sesi perdagangan, harga bitcoin sempat mencium titik terendahnya di angka US$ 66.954,99. Penurunan ini seolah meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini dibangun dengan susah payah oleh para ‘bulls’.

Baca Juga

IHSG Parkir di Level Psikologis 7.500: ERAA Raup Laba Jumbo, ARNA Siap Guyur Dividen Berlimpah

IHSG Parkir di Level Psikologis 7.500: ERAA Raup Laba Jumbo, ARNA Siap Guyur Dividen Berlimpah

Guncangan dari Dalam: Aksi Jual Mengejutkan dari Raksasa Institusi

Pemicu utama dari longsornya harga kali ini bukanlah sekadar rumor, melainkan aksi nyata dari salah satu pemegang aset terbesar di dunia. Perusahaan investasi pelopor, Strategy, secara mengejutkan melaporkan bahwa mereka telah melepas sebagian kecil dari cadangan Bitcoin mereka. Meskipun jumlah yang dijual relatif kecil dibandingkan total kepemilikan mereka, dampaknya terhadap sentimen pasar sangatlah masif.

Langkah ini terasa seperti hantaman keras karena ini adalah kali pertama Strategy melakukan aksi jual sejak tahun 2022. Selama ini, sang Chairman, Michael Saylor, dikenal sebagai penginjil Bitcoin paling vokal dengan doktrin “HODL” yang tak tergoyahkan. Mantranya yang terkenal, “jangan pernah jual Bitcoinmu,” seolah menjadi kitab suci bagi banyak trader. Namun, ketika sang nabi mulai melepas asetnya, pasar bereaksi dengan kepanikan luar biasa.

Baca Juga

Strategi Agresif AS di G7: Menilik Program ‘Economic Fury’ untuk Memutus Aliran Dana Terorisme Iran

Strategi Agresif AS di G7: Menilik Program ‘Economic Fury’ untuk Memutus Aliran Dana Terorisme Iran

Meskipun pihak manajemen menyatakan bahwa rencana penjualan ini sebenarnya sudah diumumkan dalam prospektus sebelumnya untuk alasan administratif dan operasional, pasar tampaknya tidak mau tahu. Bagi para spekulan, aksi ini dipandang sebagai sinyal bahwa bahkan paus (whale) terbesar pun mulai merasa perlu untuk mengambil keuntungan atau melakukan mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Efek Domino: Likuidasi Massal yang Memperburuk Keadaan

Penurunan harga yang dimulai dari aksi jual tersebut kemudian diperparah oleh mekanisme teknis di bursa kripto. Ketika harga mulai merosot, terjadilah apa yang disebut sebagai ‘long liquidation’ atau likuidasi paksa terhadap posisi beli yang menggunakan daya ungkit (leverage). Banyak trader bertaruh besar-besaran bahwa harga akan terus naik menuju rekor baru, namun pasar justru berbalik arah dengan kejam.

Baca Juga

Misi Swasembada Pangan Tercapai, Wamentan Sudaryono Temui Jokowi di Solo Guna Bahas Keberlanjutan Pertanian Nasional

Misi Swasembada Pangan Tercapai, Wamentan Sudaryono Temui Jokowi di Solo Guna Bahas Keberlanjutan Pertanian Nasional

Berdasarkan data dari CoinGlass, tercatat telah terjadi likuidasi massal senilai US$ 594 juta dalam kurun waktu hanya 24 jam. Dalam sistem perdagangan berjangka, ketika harga turun melewati batas margin tertentu, bursa secara otomatis akan menjual aset trader tersebut untuk mencegah kerugian lebih lanjut bagi penyedia likuiditas. Penjualan paksa ini menciptakan tekanan jual tambahan di pasar spot, yang pada gilirannya mendorong harga semakin rendah, menciptakan sebuah lingkaran setan yang sulit dihentikan.

Kondisi pasar kripto saat ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas harga ketika didorong oleh penggunaan leverage yang berlebihan. Trader yang semula berharap akan keuntungan instan justru terjebak dalam badai likuidasi yang menghapus portofolio mereka dalam sekejap mata.

Baca Juga

Skandal Penyelundupan Emas Rp 1,4 Miliar ke Malaysia: Kronologi dan Modus Operandi di Bandara Sultan Iskandar Muda

Skandal Penyelundupan Emas Rp 1,4 Miliar ke Malaysia: Kronologi dan Modus Operandi di Bandara Sultan Iskandar Muda

Retaknya Narasi ‘Emas Digital’ di Tengah Konflik Global

Salah satu hal yang paling menarik sekaligus mengkhawatirkan dari kejatuhan kali ini adalah gagalnya Bitcoin menjalankan perannya sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Selama bertahun-tahun, para pendukung kripto mempromosikan narasi bahwa Bitcoin adalah ‘emas digital’ yang harganya akan melonjak saat terjadi ketidakpastian geopolitik atau perang.

Namun, realita di lapangan berbicara lain. Di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas, Bitcoin justru gagal menunjukkan taringnya. Alih-alih meroket seperti emas fisik, harga Bitcoin malah meluruh. Ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat ekonomi mengenai validitas Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai dalam portofolio investasi.

Lebih aneh lagi, Bitcoin juga mulai menunjukkan divergensi dari saham-saham teknologi di Wall Street. Biasanya, Bitcoin bergerak seirama dengan indeks Nasdaq yang dipenuhi saham-saham agresif. Namun, saat pasar saham berhasil mencetak rekor-rekor baru, Bitcoin justru terjerembab. Ketidaksinkronan ini mengindikasikan bahwa Bitcoin mungkin sedang mengalami krisis identitas di mata para investor besar: apakah ia merupakan aset spekulatif murni ataukah instrumen keuangan yang matang?

Altcoin dan Saham Kripto Turut Terseret ke Zona Merah

Seperti pepatah “ketika raja jatuh, seluruh kerajaan ikut berduka,” ambruknya Bitcoin segera diikuti oleh aset digital lainnya. Ether (ETH), mata uang kripto terbesar kedua, turut melemah sebesar 4,7%. Begitu pula dengan koin-koin alternatif lainnya yang rata-rata mengalami koreksi dalam digit tunggal hingga ganda. Investasi aset digital secara keseluruhan sedang menghadapi ujian kepercayaan yang sangat berat.

Tidak hanya koin fisik, perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem kripto juga terkena imbasnya di pasar saham. Saham Strategy merosot tajam hingga 9%, mencerminkan kekecewaan investor terhadap aksi jual Bitcoin mereka. Sementara itu, platform bursa kripto terkemuka seperti Coinbase turun 4,7%, dan perusahaan investasi Galaxy merosot 5,9%. Penurunan harga saham ini menunjukkan bahwa risiko di dunia kripto telah terintegrasi secara mendalam dengan sistem keuangan tradisional.

Melihat ke Depan: Apakah Ini Peluang atau Akhir dari Reli?

Meskipun situasi saat ini tampak suram, banyak analis berpendapat bahwa koreksi ini adalah bagian sehat dari siklus pasar. Setelah sempat berupaya merangkak naik menuju target ambisius US$ 126.000, Bitcoin memang membutuhkan periode konsolidasi untuk membersihkan pasar dari para spekulan yang menggunakan leverage terlalu tinggi. Analisis pasar menunjukkan bahwa level US$ 65.000 hingga US$ 67.000 akan menjadi area pertahanan krusial bagi Bitcoin di masa mendatang.

Bagi para investor jangka panjang, fluktuasi seperti ini sering kali dipandang sebagai kesempatan untuk menambah posisi di harga yang lebih rendah. Namun, bagi para pemula, ini adalah pelajaran berharga mengenai risiko tinggi yang melekat pada aset digital. Penting bagi setiap pelaku pasar untuk memiliki strategi manajemen risiko yang ketat dan tidak terjebak dalam FOMO (Fear of Missing Out) maupun kepanikan saat harga terkoreksi.

Hingga saat ini, volatilitas tetap menjadi ciri khas utama dari dunia kripto. Apakah Bitcoin akan mampu bangkit dan kembali mengejar rekor tertingginya, ataukah tekanan geopolitik dan aksi jual institusi akan terus menekan harga lebih dalam lagi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti, TotoNews akan terus memantau pergerakan pasar ini secara tajam dan mendalam untuk memberikan informasi paling akurat bagi Anda.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *