Menilik Langkah Strategis Telkomsel dalam Menjaga Harmoni Alam dan Inovasi Digital Berkelanjutan

Andini Putri Lestari | Totonews
05 Jun 2026, 20:42 WIB
Menilik Langkah Strategis Telkomsel dalam Menjaga Harmoni Alam dan Inovasi Digital Berkelanjutan

TotoNews — Di tengah deru transformasi digital yang kian kencang melaju, tantangan besar muncul ke permukaan: bagaimana menyelaraskan ekspansi teknologi dengan pelestarian lingkungan? Pertanyaan besar ini dijawab dengan lugas oleh Telkomsel melalui komitmen jangka panjangnya yang tidak hanya sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekosistem bumi bagi generasi mendatang.

Dalam momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, operator seluler terbesar di Indonesia ini menegaskan kembali posisinya. Telkomsel memandang bahwa konektivitas digital dan keberlanjutan lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sebagai pemimpin pasar, langkah yang diambil perusahaan ini diharapkan menjadi standar baru bagi industri telekomunikasi dalam menerapkan prinsip bisnis berkelanjutan yang berdampak nyata.

Baca Juga

Ambisi GPU China Menembus Batas: Lisuan LX 7G100 Hadir Menantang Nvidia dengan Harga ‘Sultan’

Ambisi GPU China Menembus Batas: Lisuan LX 7G100 Hadir Menantang Nvidia dengan Harga ‘Sultan’

Filosofi Tiga Pilar: Jaga Cita, Jaga Data, dan Jaga Bumi

Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengungkapkan bahwa strategi perusahaan kini berlandaskan pada kerangka kerja yang sangat terstruktur. Tidak lagi sekadar program CSR sporadis, Telkomsel mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam nadi operasionalnya melalui tiga pilar utama: Jaga Cita, Jaga Data, dan Jaga Bumi.

“Kami menyadari bahwa pertumbuhan bisnis yang sehat harus berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. Kami telah dan akan terus berinovasi agar kontribusi keberlanjutan Telkomsel semakin terasa, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas dampaknya di seluruh penjuru negeri,” ujar Nugroho dalam sebuah kesempatan di Jakarta baru-baru ini.

Baca Juga

iPhone vs Android: Mengapa Pengguna Apple Lebih Sulit Berpaling ke Lain Hati?

iPhone vs Android: Mengapa Pengguna Apple Lebih Sulit Berpaling ke Lain Hati?

Pilar pertama, Jaga Cita, berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui akses digital yang merata. Hingga tahun 2025, Telkomsel telah melayani lebih dari 156,1 juta pelanggan seluler dan 10,3 juta pelanggan IndiHome. Namun, yang lebih mengesankan adalah keberanian mereka menjangkau lebih dari 360 desa blank spot. Ini bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan membuka pintu peluang bagi ribuan orang di pelosok untuk terhubung dengan dunia luar.

Transformasi Hijau di Infrastruktur Telekomunikasi

Sektor telekomunikasi seringkali dianggap memiliki jejak karbon yang signifikan karena konsumsi energi menara pemancar (BTS). Di sinilah pilar Jaga Bumi memainkan peran vital. Telkomsel secara bertahap mulai melakukan transisi ke energi terbarukan. Tercatat hingga 2025, sebanyak 361 BTS telah beroperasi menggunakan panel surya (solar panel) dan teknologi mikrohidro.

Baca Juga

Potret Kerugian Fantastis: Saat Detik-Detik Apes Terekam Kamera dan Menguras Air Mata (dan Dompet)

Potret Kerugian Fantastis: Saat Detik-Detik Apes Terekam Kamera dan Menguras Air Mata (dan Dompet)

Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar menuju target Net Zero Emission pada tahun 2060. Energi terbarukan menjadi solusi jitu bagi BTS yang berada di wilayah terpencil, di mana akses listrik konvensional sulit didapat. Selain menekan emisi, penggunaan energi bersih ini juga meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang.

Tak hanya soal energi, Telkomsel juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam rantai pasoknya. Limbah elektronik dikelola dengan pendekatan recycle, reuse, dan refurbish. Bahkan, 100% kemasan kartu SIM kini telah beralih menggunakan material ramah lingkungan yang mudah terurai, sebuah langkah kecil namun berdampak besar mengingat jutaan kartu SIM diproduksi setiap tahunnya.

Keamanan Data sebagai Fondasi Keberlanjutan Digital

Dalam ekosistem digital, keberlanjutan tidak hanya soal pohon dan energi, tetapi juga soal kepercayaan pelanggan. Lewat pilar Jaga Data, Telkomsel memperkuat benteng keamanan informasinya. Di tengah maraknya ancaman siber, perusahaan telah mengantongi standar internasional seperti ISO 27001, ISO 27701, dan ISO 25010.

Baca Juga

Revolusi Gemini Intelligence: Mengapa Samsung Galaxy S26 dan Pixel 10 Akan Mengubah Cara Kita Berponsel

Revolusi Gemini Intelligence: Mengapa Samsung Galaxy S26 dan Pixel 10 Akan Mengubah Cara Kita Berponsel

Keamanan data dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap privasi masyarakat. Tanpa data yang aman, ekosistem digital akan runtuh karena hilangnya rasa percaya. Oleh karena itu, penguatan talenta internal di bidang cybersecurity, kecerdasan buatan (AI), dan data science menjadi prioritas utama untuk memastikan seluruh layanan tetap terlindungi dari serangan yang kian canggih.

Dukungan dari Regulator dan Dampak Ekonomi Nasional

Komisaris Utama Telkomsel, Diaz F. M. Hendropriyono, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, memberikan apresiasi tinggi atas langkah proaktif ini. Menurutnya, dunia usaha harus menjadi motor penggerak dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.

“Meskipun Telkomsel bukan bergerak di sektor ekstraktif yang bersentuhan langsung dengan eksploitasi alam, kepedulian yang ditunjukkan sangat luar biasa. Perusahaan yang menjaga keberlanjutan akan memiliki nilai lebih dan kepercayaan yang lebih kuat dari masyarakat, terutama dari generasi muda yang kini sangat kritis terhadap isu lingkungan,” ungkap Diaz.

Lebih jauh lagi, dampak keberlanjutan ini merembet ke aspek ekonomi makro. Pada tahun 2025, Telkomsel mencatat distribusi kembali sekitar 83% dari pendapatannya kepada pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pemegang saham, pemasok, dan karyawan. Dengan jaringan lebih dari 235 ribu mitra outlet ritel, Telkomsel menjadi tulang punggung ekonomi mikro bagi banyak keluarga di Indonesia.

Menanam Harapan Melalui Carbon Offsetting

Sebagai langkah nyata dalam menyeimbangkan jejak karbon yang belum bisa sepenuhnya dihilangkan, Telkomsel aktif melakukan program carbon offsetting. Salah satunya melalui penanaman lebih dari 12 ribu pohon mangrove di berbagai pesisir Indonesia. Mangrove dipilih karena kemampuannya dalam menyerap karbon yang berkali-kali lipat lebih besar dibanding hutan daratan, sekaligus melindungi ekosistem pesisir dari abrasi.

Seluruh rangkaian inisiatif ini bermuara pada satu tujuan besar: GoZero Telkom Group. Ini adalah visi ambisius untuk menciptakan ekosistem teknologi yang tidak hanya canggih secara fitur, tetapi juga bersih secara etika dan dampak lingkungan. Telkomsel membuktikan bahwa menjadi raksasa teknologi tidak harus berarti menjadi beban bagi alam.

Dengan strategi yang komprehensif ini, Telkomsel bertransformasi dari sekadar penyedia layanan telepon dan internet menjadi motor penggerak ekosistem digital berkelanjutan. Sebuah langkah inspiratif yang membuktikan bahwa inovasi dan konservasi bisa berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih hijau dan terkoneksi.

Upaya ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremonial Hari Lingkungan Hidup, tetapi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi seperti 5G yang juga dirancang untuk lebih hemat energi. Melalui kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, cita-cita untuk mencapai kemandirian digital yang ramah lingkungan bukan lagi sekadar impian di siang bolong.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *