Mengungkap Misteri Dunia yang Hilang: Jejak Protoplanet Purba dalam Meteorit Langka di Gurun Sahara

Andini Putri Lestari | Totonews
07 Jun 2026, 10:41 WIB
Mengungkap Misteri Dunia yang Hilang: Jejak Protoplanet Purba dalam Meteorit Langka di Gurun Sahara

TotoNews — Alam semesta selalu memiliki cara tersendiri untuk menyimpan rahasia besarnya, seringkali dalam bentuk serpihan batu yang tampak sederhana namun menyimpan sejarah miliaran tahun. Salah satu rahasia paling memukau baru-baru ini terungkap dari hamparan pasir Gurun Sahara yang luas. Sebuah meteorit langka yang ditemukan di sana ternyata bukan sekadar batu ruang angkasa biasa; ia adalah saksi bisu dari keberadaan sebuah dunia yang telah lama hilang, sebuah protoplanet misterius yang pernah eksis di fajar pembentukan tata surya kita.

Batu luar angkasa yang kini menjadi pusat perhatian komunitas ilmiah internasional ini dikenal dengan nama resmi Northwest Africa (NWA) 12774. Ditemukan pada tahun 2019, bongkahan seberat sekitar 454 gram ini awalnya mungkin terlihat seperti batuan vulkanik biasa. Namun, hasil analisis mendalam menunjukkan bahwa NWA 12774 adalah bagian dari kelompok meteorit sangat langka yang disebut angrite. Sebagai salah satu batuan vulkanik tertua yang pernah ditemukan, meteorit ini memberikan jendela unik ke masa 4,5 miliar tahun yang lalu, hanya beberapa juta tahun setelah tata surya kita mulai terbentuk dari awan gas dan debu raksasa.

Baca Juga

Terobosan GREE Indonesia: Layanan Purna Jual 24 Jam Nonstop, Pastikan Kenyamanan Konsumen Tanpa Jeda

Terobosan GREE Indonesia: Layanan Purna Jual 24 Jam Nonstop, Pastikan Kenyamanan Konsumen Tanpa Jeda

Angrite: Sang Saksi Bisu Fajar Tata Surya

Untuk memahami betapa pentingnya penemuan ini, kita perlu memahami apa itu angrite. Dalam khazanah meteorit, angrite menduduki kasta yang sangat istimewa. Dari lebih dari 80.000 meteorit yang pernah tercatat jatuh ke Bumi, hanya ada 68 buah yang teridentifikasi sebagai angrite. Kelangkaan ini menjadikannya salah satu benda paling dicari oleh para peneliti karena komposisi kimianya yang sangat murni dan kuno.

Berbeda dengan batuan dari Bumi atau Mars yang telah mengalami banyak perubahan geologis selama miliaran tahun, angrite seolah-olah membeku dalam waktu. Ia menyimpan jejak kimiawi dari era ketika matahari masih sangat muda. Aaron Bell, seorang ahli geosains terkemuka dari University of Colorado Boulder, menyatakan bahwa material pembentuk benda induk angrite ini secara mendasar berbeda dari bahan pembentuk planet berbatu yang kita kenal sekarang, seperti Bumi atau Mars. Penemuan ini memicu pertanyaan besar bagi para ilmuwan: dari manakah asal batuan ini sebenarnya?

Baca Juga

Revolusi Musik di Ujung Lidah: Aplikasi ‘Nada’ Ubah Senandung Menjadi Komposisi Profesional

Revolusi Musik di Ujung Lidah: Aplikasi ‘Nada’ Ubah Senandung Menjadi Komposisi Profesional

Paradoks Kimia dan Tekanan di Kedalaman Planet

Salah satu hal yang paling membingungkan para peneliti mengenai NWA 12774 adalah kandungan silikanya yang sangat rendah. Silika, atau bahan dasar pasir, merupakan komponen utama dalam pembentukan kerak planet-planet berbatu di lingkungan kita. Karena kelangkaan silika ini, selama bertahun-tahun para ilmuwan berasumsi bahwa angrite berasal dari asteroid kecil yang mendingin dengan cepat. Namun, analisis terbaru terhadap spesimen Sahara ini menjungkirbalikkan teori lama tersebut.

Bell dan timnya menemukan sesuatu yang luar biasa di dalam struktur mikroskopis NWA 12774: kristal mineral yang disebut klinopiroksen. Menariknya, kristal ini sangat kaya akan aluminium. Dalam dunia geologi, keberadaan klinopiroksen kaya aluminium adalah indikator pasti bahwa batuan tersebut terbentuk di bawah tekanan yang sangat masif, jauh melampaui tekanan yang bisa dihasilkan oleh asteroid kecil atau planet kerdil biasa.

Baca Juga

Kilas Balik Era 90-an: Nostalgia Unik yang Hanya Dimengerti Generasi Milenial

Kilas Balik Era 90-an: Nostalgia Unik yang Hanya Dimengerti Generasi Milenial

Melalui rekonstruksi laboratorium yang teliti, tim peneliti menemukan bahwa mineral tersebut membutuhkan tekanan setidaknya 17,5 kilobar untuk bisa terbentuk. Sebagai perbandingan, angka tersebut setara dengan lebih dari 17 kali lipat tekanan yang ditemukan di dasar Palung Mariana, titik terdalam di samudra Bumi. Kondisi ekstrem seperti ini hanya mungkin tercipta di kedalaman interior sebuah benda langit yang memiliki massa dan ukuran yang sangat besar.

Merekonstruksi Dimensi Dunia yang Hilang

Data tekanan tinggi ini membawa para ilmuwan pada kesimpulan yang mengejutkan. Benda induk atau “dunia asal” dari NWA 12774 bukanlah asteroid pengembara, melainkan sebuah protoplanet atau planet purba yang ukurannya cukup signifikan. Berdasarkan perhitungan model fisik, para peneliti memperkirakan bahwa dunia yang hilang ini memiliki radius sekitar 1.800 kilometer. Angka ini menempatkannya dalam kategori ukuran yang sebanding dengan Bulan kita, atau bahkan mendekati ukuran planet Mars.

Baca Juga

Deru Mesin Legendaris di Erangel: Kolaborasi Epik PUBG Mobile x Ford Hadirkan Mustang dan Raptor R

Deru Mesin Legendaris di Erangel: Kolaborasi Epik PUBG Mobile x Ford Hadirkan Mustang dan Raptor R

Dunia purba ini kemungkinan besar merupakan bagian dari generasi pertama planet yang terbentuk di tata surya bagian dalam. Yang membuat penemuan ini semakin menarik adalah sifat kristal di dalamnya. Kristal-kristal tersebut masih mempertahankan tepian yang tajam dan pola kimiawi yang jelas. Jika batuan ini terkubur terlalu lama di dalam interior planet yang panas, pola-pola halus tersebut seharusnya sudah memudar atau ter-rekristalisasi. Hal ini mengindikasikan bahwa tak lama setelah terbentuk di kedalaman, batuan ini segera terdorong ke permukaan atau mengalami peristiwa drastis yang mendinginkannya secara tiba-tiba.

Kiamat Kosmik dan Kehancuran Sang Protoplanet

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah: ke mana perginya dunia seukuran Bulan tersebut? Jika ia pernah ada, mengapa sekarang tidak ada lagi planet di posisi tersebut? Jawaban yang paling masuk akal bagi para astronom adalah sebuah akhir yang kataklismik. Tata surya muda adalah tempat yang sangat kacau dan berbahaya, di mana tabrakan antar benda langit berukuran besar terjadi hampir setiap saat dalam proses yang kita kenal sebagai evolusi planet.

Dunia asal NWA 12774 kemungkinan besar hancur berkeping-keping akibat tabrakan raksasa dengan proto-planet lain. Sebagian besar materialnya mungkin hancur menjadi debu, sebagian lagi bergabung membentuk planet-planet yang lebih besar seperti Bumi, dan sebagian kecil terlempar ke ruang hampa sebagai meteorit. NWA 12774 adalah salah satu fragmen langka yang berhasil selamat dan melintasi ruang angkasa selama miliaran tahun sebelum akhirnya terperangkap gravitasi Bumi dan jatuh di pasir Sahara.

Pencarian di Antara Koleksi yang Terlupakan

Studi mengenai NWA 12774 ini membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang silsilah keluarga tata surya. Ini membuktikan bahwa ada banyak “dunia gagal” atau protoplanet yang pernah eksis namun kini telah tiada, meninggalkan hanya sedikit jejak berupa batu meteorit. Aaron Bell meyakini bahwa penemuan ini hanyalah puncak dari gunung es.

Ia menekankan bahwa banyak rahasia astronomi mungkin masih tersembunyi di tempat-tempat yang tidak terduga. “Ada banyak meteorit yang masih tersimpan di laci-laci koleksi museum dan laboratorium yang belum dipelajari secara menyeluruh,” ungkap Bell. Dengan kemajuan teknologi analisis kimia saat ini, kemungkinan besar kita akan menemukan lebih banyak lagi bukti tentang keberadaan protoplanet lain yang selama ini kita abaikan.

Setiap meteorit yang jatuh ke Bumi adalah sepucuk surat dari masa lalu. Melalui NWA 12774, kita akhirnya bisa membaca salah satu surat tersebut dan menyadari bahwa sejarah planet kita jauh lebih kompleks dan penuh dengan peristiwa dahsyat daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Gurun Sahara, dengan segala kesunyiannya, sekali lagi membuktikan diri sebagai gudang penyimpanan arsip kosmik yang tak ternilai bagi umat manusia.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *