Sebulan Terperangkap Banjir Rob, Warga Tunggulsari Pati Mulai Diserang Penyakit dan Kelelahan Akut

Rizky Ramadhan | Totonews
23 Jun 2026, 04:42 WIB
Sebulan Terperangkap Banjir Rob, Warga Tunggulsari Pati Mulai Diserang Penyakit dan Kelelahan Akut

TotoNews — Genangan air laut yang tidak kunjung surut selama lebih dari satu bulan kini telah berubah menjadi mimpi buruk yang nyata bagi warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Fenomena banjir rob yang biasanya datang dan pergi dalam hitungan jam, kini seolah enggan beranjak dari permukiman warga, meninggalkan jejak penderitaan yang mendalam, mulai dari gangguan kesehatan hingga beban psikologis yang kian berat.

Kondisi ini bukan lagi sekadar rutinitas pesisir yang biasa. Air asin yang merendam rumah-rumah warga selama berminggu-minggu telah menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Kelembapan yang tinggi serta sanitasi yang memburuk membuat warga mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, dengan penyakit kulit sebagai keluhan yang paling dominan di kalangan masyarakat setempat.

Baca Juga

Update Kasus Pembunuhan Nus Kei: Penyidikan Dimulai, Dua Tersangka Hadapi Ancaman Hukuman Mati

Update Kasus Pembunuhan Nus Kei: Penyidikan Dimulai, Dua Tersangka Hadapi Ancaman Hukuman Mati

Jeritan Warga di Tengah Kepungan Air Asin

Salah satu warga yang merasakan pahitnya hidup di tengah kepungan rob adalah Suparno (60). Pria senja ini tampak guratan lelah di wajahnya saat ditemui tim redaksi. Ia mengaku bahwa dalam sebulan terakhir, hidupnya tidak lagi tenang. Tidur yang seharusnya menjadi waktu untuk melepas penat, kini berganti dengan rasa gelisah yang menghantui setiap kali air mulai merayap naik ke dalam rumah.

“Airnya seperti ini terus, sangat menyusahkan. Kalau bisa, kami sangat memohon agar pemerintah kabupaten Pati memberikan prioritas penanganan di sini. Warga sudah sangat gelisah, mau tidur pun tidak tenang karena memikirkan air yang masuk,” keluh Suparno dengan nada penuh harap. Kondisi rumah yang terus-menerus basah membuat suasana hunian menjadi tidak nyaman dan cenderung membahayakan kesehatan penghuninya.

Baca Juga

Tragedi Kemanusiaan di Arab Salim: Serangan Udara Israel Gempur Nabatieh, Petugas Medis Jadi Korban Jiwa

Tragedi Kemanusiaan di Arab Salim: Serangan Udara Israel Gempur Nabatieh, Petugas Medis Jadi Korban Jiwa

Serangan Penyakit Kulit dan Kelelahan Fisik

Dampak kesehatan yang paling nyata dirasakan oleh warga Desa Tunggulsari adalah gatal-gatal yang menyerang kaki dan tangan. Air laut yang bercampur dengan limbah domestik dan kotoran menciptakan media berkembang biaknya kuman dan bakteri. Suparno menceritakan bagaimana rasa gatal tersebut seringkali dibarengi dengan kondisi tubuh yang meriang atau demam ringan.

“Rasanya luar biasa capek. Selain sakit gatal-gatal, badan ini rasanya lelah sekali. Semua ini karena saya harus terus-menerus membersihkan sisa banjir. Bayangkan saja, pagi-pagi kami bersihkan rumah sampai kering, tapi siang hari air sudah datang lagi. Malam hari pun kondisi lantai rumah masih basah dan lembap,” ungkapnya. Siklus membersihkan rumah yang sia-sia ini menjadi beban fisik yang sangat melelahkan, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia.

Baca Juga

Kemayoran Berduka: Kronologi Kebakaran Hebat 7 Jam dan Nasib Ratusan Warga di Pengungsian

Kemayoran Berduka: Kronologi Kebakaran Hebat 7 Jam dan Nasib Ratusan Warga di Pengungsian

Masalah kesehatan masyarakat di daerah pesisir seperti ini memang krusial. Kontak terus-menerus dengan air payau yang terkontaminasi dapat menyebabkan dermatitis kontak hingga infeksi sekunder jika luka garukan tidak segera diobati. Warga berharap ada bantuan medis atau pemeriksaan kesehatan rutin yang masuk ke desa mereka selama masa darurat rob ini berlangsung.

Siklus Pasang Surut yang Tidak Menentu

Banjir rob di Tunggulsari memiliki pola yang sangat mengganggu aktivitas harian. Biasanya, air mulai merangkak naik ke permukiman pada siang hingga sore hari. Saat laut pasang mencapai puncaknya, genangan air dengan mudah melompati tanggul-tanggul darurat yang dibuat warga dan masuk ke dalam ruang tamu, dapur, hingga kamar tidur.

Baca Juga

Langit Tangerang Membara: Kebakaran Hebat Hanguskan Pabrik Karet di Tanah Tinggi

Langit Tangerang Membara: Kebakaran Hebat Hanguskan Pabrik Karet di Tanah Tinggi

Ketidakpastian ini membuat warga sulit untuk merencanakan aktivitas ekonomi maupun domestik. Banyak perabotan rumah tangga yang rusak akibat terendam air asin dalam jangka waktu lama. Kaki-kaki lemari yang keropos, dinding yang mengelupas, hingga kerusakan elektronik menjadi kerugian material yang tidak sedikit bagi warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan atau buruh tani.

Dampak Psikologis dan Kebutuhan Solusi Permanen

Di balik kerusakan fisik, ada beban mental yang tidak kasat mata. Rasa was-was setiap kali awan mendung datang atau saat jadwal pasang air laut tiba telah menciptakan stres kolektif di Desa Tunggulsari. Kelelahan bukan hanya dirasakan oleh fisik karena harus menguras air, tetapi juga mental karena merasa tidak ada kepastian kapan bencana ini akan berakhir.

Warga menilai bahwa penanganan sementara seperti pembagian logistik atau bantuan sembako memang membantu, namun yang lebih mereka butuhkan adalah solusi infrastruktur yang permanen. Pembangunan tanggul laut yang lebih kokoh, perbaikan sistem drainase, atau peninggian jalan desa menjadi aspirasi utama yang sering diteriakkan masyarakat.

Upaya Swadaya dan Harapan pada Pemerintah

Sejauh ini, warga hanya bisa mengandalkan upaya swadaya dengan meninggikan lantai rumah menggunakan tanah urug atau membuat tanggul kecil di depan pintu rumah. Namun, upaya ini seringkali kalah kuat dengan tekanan air laut yang terus meningkat setiap tahunnya akibat fenomena penurunan muka tanah dan kenaikan level air laut global.

“Kami tidak bisa selamanya seperti ini. Ekonomi kami sulit, ditambah lagi beban untuk memperbaiki rumah terus-menerus karena rob. Kami butuh perhatian nyata dari pihak terkait agar desa kami tidak tenggelam perlahan,” tambah seorang warga lainnya. Masalah banjir rob di pesisir utara Jawa, termasuk di Pati, memang menjadi tantangan besar dalam mitigasi bencana di masa depan.

Kesimpulan: Urgensi Penanganan Cepat

Kisah Suparno dan warga Desa Tunggulsari adalah potret kecil dari krisis pesisir yang sedang melanda negeri ini. Sebulan direndam rob bukan waktu yang singkat. Ini adalah masa sulit yang menguji batas kesabaran dan kesehatan manusia. Tanpa adanya intervensi kebijakan yang strategis dan langkah nyata dari pemerintah, penderitaan warga akibat gatal-gatal, meriang, dan kelelahan ini akan terus berulang setiap tahunnya.

Sudah saatnya isu lingkungan dan tata ruang di wilayah pesisir mendapatkan perhatian serius. Perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di garis depan perubahan iklim ini harus menjadi prioritas utama. Warga Tunggulsari hanya ingin satu hal: bisa tidur dengan tenang di malam hari tanpa perlu khawatir terbangun dalam kondisi kaki terendam air laut yang dingin dan perih.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *