Bukan Sekadar Klakson, Inilah Pemicu Utama Emosi di Jalan Raya Menurut Riset Global

Rizky Ramadhan | Totonews
27 Jun 2026, 12:42 WIB
Bukan Sekadar Klakson, Inilah Pemicu Utama Emosi di Jalan Raya Menurut Riset Global

TotoNews — Pernahkah Anda merasa denyut nadi meningkat dan emosi meluap saat berada di balik kemudi? Fenomena yang dikenal sebagai road rage atau kemarahan di jalan raya ternyata bukan sekadar masalah klakson yang bising. Sebuah studi mendalam mengungkap bahwa ada faktor-faktor perilaku yang jauh lebih mengganggu stabilitas psikologis para pengendara dibandingkan sekadar suara peringatan dari kendaraan lain.

Menelusuri Akar Kemarahan: Metodologi di Balik Data

Laporan eksklusif yang dihimpun oleh TotoNews merujuk pada hasil survei terbaru dari DiscoverCars yang dilakukan pada April 2026. Penelitian ini melibatkan lebih dari 700 responden dari berbagai belahan dunia, dengan fokus utama pada para pelanggan platform penyewaan mobil yang sering melakukan perjalanan internasional. Para responden ini, yang mayoritas adalah wisatawan, memberikan perspektif unik tentang bagaimana etika berkendara bervariasi di lintas negara.

Baca Juga

Tito Karnavian Tekan Ego Sektoral: Dana Hibah Rp 10,6 Triliun Harus Segera Sampai ke Rakyat

Tito Karnavian Tekan Ego Sektoral: Dana Hibah Rp 10,6 Triliun Harus Segera Sampai ke Rakyat

Dalam studi tersebut, para pengemudi diminta untuk merefleksikan pengalaman mereka, mengidentifikasi perilaku yang paling memicu kekesalan, hingga menilai tingkat agresivitas pengemudi di negara mereka sendiri. Penilaian menggunakan skala 1 (sangat tenang) hingga 5 (sangat agresif), memberikan gambaran objektif tentang peta psikologi berkendara di tingkat global.

Lima ‘Dosa Besar’ di Jalan Raya yang Memancing Emosi

Hasil survei menunjukkan angka yang cukup mencengangkan: 9 dari 10 pengemudi atau sekitar 90% mengaku pernah merasa sangat terganggu oleh perilaku orang lain saat di jalan. Namun, apa sebenarnya yang membuat mereka geram? Berikut adalah lima faktor utama yang diidentifikasi:

  • Lupa Menyalakan Lampu Sein (56%): Ini adalah pemicu nomor satu. Komunikasi antar pengemudi sangat bergantung pada isyarat lampu. Ketika seseorang berbelok atau berpindah jalur tanpa memberi tanda, hal itu menciptakan ketidakpastian yang berbahaya dan memicu kemarahan spontan.
  • Tailgating atau Menempel Terlalu Dekat (46%): Merasa diburu oleh kendaraan di belakang yang jaraknya terlalu sempit sangat mengintimidasi. Kebiasaan ini tidak hanya tidak sopan tetapi juga meningkatkan risiko tabrakan beruntun secara signifikan.
  • Mengemudi Lambat di Jalur Menyalip (43%): Jalur kanan (atau kiri tergantung negara) diperuntukkan bagi mereka yang ingin mendahului. Ketika jalur ini terhambat oleh pengemudi yang santai, ego dan rasa frustrasi pengemudi lain biasanya akan meledak.
  • Pengemudi yang Terdistraksi (39%): Melihat pengemudi lain asyik dengan ponsel atau tidak fokus pada jalan menciptakan rasa tidak aman bagi pengguna jalan lainnya.
  • Pengereman Mendadak (20%): Tindakan ini sering dianggap sebagai perilaku agresif yang provokatif, yang memaksa pengemudi di belakangnya untuk bereaksi secara ekstrem.

Geografi Agresivitas: Negara dengan Pengemudi Paling ‘Galak’

TotoNews mencatat bahwa lokasi geografis ternyata berpengaruh besar terhadap temperamen pengemudi. Berdasarkan persepsi global, beberapa negara muncul sebagai wilayah dengan tingkat agresivitas tertinggi. Italia menduduki posisi puncak dengan skor persepsi global mencapai 23%. Menariknya, warga Italia sendiri pun sepakat dengan penilaian tersebut, memberikan skor 3,5 dari 5 untuk tingkat agresivitas mereka sendiri.

Baca Juga

Tragedi Berdarah di Bandara Karel Sadsuitubun: Nus Kei Tewas dengan Empat Luka Tusuk Mematikan

Tragedi Berdarah di Bandara Karel Sadsuitubun: Nus Kei Tewas dengan Empat Luka Tusuk Mematikan

Kota-kota bersejarah seperti Naples dan Roma disebut-sebut sebagai ‘pusat badai’ bagi pengemudi yang emosional. Di sisi lain, Britania Raya mengekor di posisi kedua dengan 11%, di mana London menjadi kota yang paling disoroti akibat kepadatan lalu lintas yang melelahkan mental. Amerika Serikat menempati posisi ketiga (9%), dipimpin oleh hiruk-pikuk New York yang terkenal keras bagi para pengemudi pemula.

Prancis dan Australia masing-masing mengantongi angka 5%. Meski Australia sering dianggap sebagai negara yang santai, fakta bahwa 5% responden global menganggap pengemudi di sana agresif menunjukkan adanya pergeseran budaya dalam etika lalu lintas di benua kangguru tersebut.

Antara Klakson dan Kesabaran: Bagaimana Kita Bereaksi?

Meskipun tingkat kejengkelan di jalan raya sangat tinggi, data menunjukkan adanya kecenderungan untuk menahan diri secara fisik. Sekitar 65% pengemudi mengaku hanya membunyikan klakson sesekali saat benar-benar diperlukan. Bahkan, 32% lainnya mengklaim tidak pernah menggunakan klakson sama sekali sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Baca Juga

Tragedi di Kamp Al-Bureij: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 7 Orang Meski Gencatan Senjata Berlangsung

Tragedi di Kamp Al-Bureij: Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 7 Orang Meski Gencatan Senjata Berlangsung

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang sebenarnya menyadari pentingnya menjaga ketenangan demi keselamatan berkendara. Namun, kemarahan yang dipendam tetap bisa berdampak pada fokus berkendara. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami bahwa jalan raya adalah ruang publik yang membutuhkan empati, bukan sekadar kecepatan.

Mengelola Road Rage: Tips Tetap Tenang di Balik Kemudi

Menghadapi perilaku buruk pengemudi lain memang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin untuk tetap tenang. Pakar menyarankan untuk selalu memberikan ruang ekstra bagi kendaraan yang terlihat tidak stabil atau agresif. Menghindari kontak mata langsung dengan pengemudi yang marah juga dapat mencegah eskalasi konflik fisik di jalan.

Baca Juga

Norwegia Melarang Penggunaan AI di Sekolah Dasar: Fokus Kembali ke Literasi Dasar dan Tradisi Menulis

Norwegia Melarang Penggunaan AI di Sekolah Dasar: Fokus Kembali ke Literasi Dasar dan Tradisi Menulis

Selain itu, memastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan prima sebelum mulai menyetir adalah kunci utama. Kurang tidur atau stres dari pekerjaan seringkali menjadi ‘bensin’ yang mempercepat api kemarahan saat terjadi insiden kecil di jalanan. Selalu ingat bahwa tujuan utama berkendara adalah sampai di tujuan dengan selamat, bukan memenangkan perdebatan di aspal.

Dengan memahami pemicu-pemicu utama emosi ini, diharapkan para pembaca setia TotoNews dapat lebih mawas diri dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan jalan raya yang lebih harmonis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tips otomotif dan berita terkini lainnya, pastikan Anda selalu memperbarui informasi bersama kami.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *