Efek Domino Konflik Timur Tengah: Industri Telekomunikasi RI Waspadai Lonjakan Harga Material Fiber Optik

Andini Putri Lestari | Totonews
14 Apr 2026, 18:12 WIB
Efek Domino Konflik Timur Tengah: Industri Telekomunikasi RI Waspadai Lonjakan Harga Material Fiber Optik

TotoNews — Eskalasi ketegangan geopolitik yang menyelimuti kawasan Timur Tengah mulai memicu alarm bagi sektor infrastruktur digital di tanah air. Ketidakpastian global ini bukan sekadar isu politik luar negeri, melainkan telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi ketersediaan dan stabilitas harga material fiber optik yang menjadi tulang punggung internet Indonesia.

Tekanan Rantai Pasok Global

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Jerry Mangasas Swandy, mengungkapkan bahwa industri kini tengah menghadapi tekanan berat akibat melambungnya harga bahan baku kabel fiber optik. Salah satu komponen vital yang terdampak adalah corning, yang merupakan elemen inti dalam transmisi data kecepatan tinggi.

Kenaikan harga ini ditengarai sebagai dampak dari terganggunya rantai pasok logistik dunia. Konflik yang memanas di wilayah strategis memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi material industri strategis. Jerry menyebutkan bahwa situasi di Timur Tengah menciptakan efek domino yang sulit dihindari oleh para pelaku usaha di sektor telekomunikasi nasional.

Baca Juga

Ekspansi Strategis Microsoft: Saat ‘Gempuran’ Xbox ke PlayStation Berbuah Cuan Triliunan Rupiah

Ekspansi Strategis Microsoft: Saat ‘Gempuran’ Xbox ke PlayStation Berbuah Cuan Triliunan Rupiah

Harga HDPE Melambung Signifikan

Salah satu fakta lapangan yang paling mencolok adalah lonjakan harga High-Density Polyethylene (HDPE). Material ini merupakan pipa pelindung kabel fiber optik yang biasanya identik dengan warna oranye atau hitam di sepanjang jalur instalasi bawah tanah.

“Kami mencatat adanya kenaikan harga HDPE yang sangat signifikan, menyentuh angka 15 hingga 17 persen. Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp 10.000 per meter, saat ini terjadi kenaikan sekitar Rp 1.500 hingga Rp 1.700 per meter. Ini angka yang sangat besar bagi pengembang jaringan,” papar Jerry dalam keterangannya kepada TotoNews.

Logistik di Titik Kritis: Selat Hormuz

Selain persoalan bahan baku, persepsi pasar global juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas di Selat Hormuz. Jalur maritim vital ini menjadi kunci distribusi logistik internasional. Gangguan pada area ini tidak hanya menghambat pengiriman fisik, tetapi juga memicu kenaikan biaya asuransi pengiriman dan ongkos logistik yang akhirnya dibebankan pada harga material fiber optik.

Baca Juga

Samsung Galaxy A57 5G Resmi Meluncur: Inovasi Desain Tipis dan Kekuatan Exynos Terbaru di Indonesia

Samsung Galaxy A57 5G Resmi Meluncur: Inovasi Desain Tipis dan Kekuatan Exynos Terbaru di Indonesia

Harapan pada Intervensi Pemerintah

Melihat kondisi yang kian menantang, Apjatel berharap pemerintah tidak tinggal diam. Industri membutuhkan langkah proaktif dari otoritas terkait untuk terus memantau perkembangan situasi global dan dampaknya terhadap daya beli industri dalam negeri.

Langkah mitigasi diperlukan agar ambisi transformasi digital nasional tidak terhambat oleh membengkaknya biaya pembangunan infrastruktur. Stabilitas harga material menjadi kunci agar perluasan jaringan internet ke berbagai pelosok negeri tetap dapat berjalan sesuai target tanpa terbebani oleh gejolak ekonomi internasional.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *