Menepis Badai PHK Massal: Strategi Penyelamatan Industri di Tengah Eskalasi Global

Siti Aminah | Totonews
14 Apr 2026, 18:13 WIB
Menepis Badai PHK Massal: Strategi Penyelamatan Industri di Tengah Eskalasi Global

TotoNews — Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah kini tak sekadar menjadi isu mancanegara, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi domestik. Di tengah bayang-bayang resesi industri, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyuarakan alarm waspada terkait potensi gelombang PHK massal yang mungkin menghantam para pekerja tanah air dalam waktu dekat.

Menjaga Stabilitas Energi Industri

Iqbal menekankan bahwa prioritas utama yang harus segera dilakukan pemerintah adalah menjamin kelancaran pasokan BBM industri. Menurutnya, kelangkaan bahan bakar non-subsidi akan memicu lonjakan harga yang berujung pada membengkaknya biaya operasional perusahaan. Jika beban produksi tak lagi tertahankan, efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja menjadi pilihan pahit yang tak terelakkan bagi para pengusaha.

Baca Juga

Revolusi Digital Salon Indonesia: Meninggalkan Buku Catatan Usang Menuju Ekosistem Terintegrasi

Revolusi Digital Salon Indonesia: Meninggalkan Buku Catatan Usang Menuju Ekosistem Terintegrasi

“Langkah krusial adalah memastikan ketersediaan BBM industri tetap aman. Tanpa kepastian pasokan, harga akan melambung tinggi, dan ini sangat membebani sektor industri kita yang sudah tertekan akibat fluktuasi ekonomi global,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan yang diterima TotoNews.

Fiskal Longgar, Napas Panjang bagi Perusahaan

Selain urusan energi, TotoNews mencatat bahwa relaksasi fiskal menjadi poin penting dalam usulan Said Iqbal. Beliau mendorong adanya kebijakan pajak yang lebih ramah bagi pelaku usaha guna menjaga arus kas perusahaan tetap sehat. Salah satu usulan yang cukup signifikan adalah penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Iqbal menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan untuk menurunkan PPN dari 11% menjadi 10% atau bahkan 9%. Strategi ini merujuk pada langkah yang telah diambil oleh Vietnam untuk menjaga daya beli masyarakat tetap stabil. Dengan pajak yang lebih rendah, harga jual produk dapat ditekan meskipun biaya produksi naik akibat dampak perang, sehingga daya serap pasar tidak merosot tajam.

Baca Juga

Menakar Ketangguhan Sektor Keuangan: Mengapa OJK Tempatkan 16 Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun dalam Radar Khusus?

Menakar Ketangguhan Sektor Keuangan: Mengapa OJK Tempatkan 16 Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun dalam Radar Khusus?
  • Penurunan tarif PPN untuk menjaga stabilitas harga di pasar domestik.
  • Relaksasi pajak badan demi melonggarkan ruang fiskal operasional perusahaan.
  • Insentif khusus bagi industri manufaktur yang memiliki padat karya tinggi.

Sinyal Bahaya dari 10 Perusahaan Besar

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan yang kuat. Berdasarkan pemantauan di lapangan, setidaknya terdapat 10 perusahaan besar yang sudah mulai memberikan sinyal kuning terkait keberlangsungan usahanya. Meski belum ada tindakan pemecatan secara massal hari ini, komunikasi intensif mengenai rencana efisiensi dalam jangka waktu tiga bulan ke depan sudah mulai dibahas bersama perwakilan buruh.

Jika pemerintah terlambat merespons situasi ini dengan kebijakan yang pro-aktif, dampak sosial yang ditimbulkan dari pengangguran baru bisa menjadi beban berat bagi negara di masa depan. Oleh karena itu, sinergi antara stabilitas pasokan energi dan insentif kebijakan pajak menjadi kunci utama dalam meredam badai PHK yang kini tengah mengintai di depan mata.

Baca Juga

Transformasi Besar Matahari: Alasan di Balik Pergantian Nama Menjadi PT MDS Retailing Tbk

Transformasi Besar Matahari: Alasan di Balik Pergantian Nama Menjadi PT MDS Retailing Tbk
Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *