APINDO Angkat Bicara: Program Magang Bukan Kedok Upah Murah, Melainkan Solusi Kesenjangan Skill
TotoNews — Isu mengenai eksploitasi tenaga kerja melalui program magang belakangan ini tengah menjadi sorotan hangat di masyarakat. Menanggapi polemik tersebut, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dengan tegas menepis anggapan bahwa maraknya program magang di berbagai perusahaan hanyalah strategi licik untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah murah.
Menjembatani Kesenjangan Kualitas Pendidikan
Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, menjelaskan bahwa program magang sebenarnya merupakan jembatan krusial untuk memoles kualitas calon pekerja di Indonesia. Menurutnya, terdapat jurang yang cukup lebar antara kualifikasi yang dihasilkan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata di lapangan kerja.
Bob mengungkapkan fakta di lapangan bahwa banyak calon pekerja yang gugur saat menjalani proses seleksi karyawan tetap. Masalah utamanya bukan pada kemauan bekerja, melainkan pada kompetensi yang belum matang akibat kualitas pendidikan yang belum merata di berbagai daerah.
Banjir Diskon Transmart Full Day Sale: Refresh Ruang Tamu dengan Sarung Bantal Cuma Rp 20 Ribuan!
“Banyak yang kita tes, terutama dari latar belakang pendidikan tertentu, langsung tidak diterima karena tidak memenuhi standar. Namun, melalui proses magang selama 3 hingga 6 bulan, mereka perlahan bisa menunjukkan performa yang baik. Jadi ini bukan salah individu, tapi memang sistem pendidikan kita yang perlu dikejar,” ujar Bob saat ditemui usai rapat di Gedung DPR.
Magang Sebagai Masa Adaptasi dan Pembelajaran
Lebih lanjut, Bob menekankan bahwa perbedaan kompensasi antara peserta magang dan karyawan tetap adalah hal yang logis secara profesional. Peserta magang masih berada dalam fase belajar dan belum memiliki tanggung jawab serta keterampilan penuh layaknya tenaga kerja profesional yang sudah berpengalaman.
Strategi Besar Pemerintah Perkuat Desa: Calon Manajer Koperasi Bakal Digembleng Pelatihan Khusus 2 Bulan
“Magang memberikan mereka kesempatan untuk ‘catch up’ atau mengejar ketertinggalan. Sangat tidak adil jika magang disalahartikan sebagai upah murah. Tentu gajinya tidak bisa disamakan dengan karyawan senior, namun setiap bulannya kita arahkan agar keterampilan mereka meningkat,” tambahnya.
Sinyal Bahaya: 67% Perusahaan Enggan Rekrut Karyawan Baru
Di balik pembelaan terhadap program magang, APINDO juga membawa kabar kurang sedap mengenai kondisi ekonomi nasional. Berdasarkan hasil survei internal mereka, ditemukan fakta mengejutkan bahwa sebanyak 67% perusahaan saat ini tidak memiliki rencana untuk membuka lowongan kerja baru bagi pegawai tetap.
Kondisi stagnasi ini semakin diperparah dengan data yang menunjukkan bahwa 50% perusahaan memilih untuk menahan diri dan tidak melakukan ekspansi bisnis dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Bob Azam memperingatkan pemerintah bahwa tren ini harus disikapi dengan serius agar tidak memicu krisis pengangguran yang lebih luas.
Badai PHK 2026: Jawa Barat Masih Menjadi Wilayah Paling Terdampak, Ini Daftar Lengkapnya
“Hasil survei kami menunjukkan separuh perusahaan tidak berencana ekspansi. Ini adalah alarm bagi kita semua, terutama dalam pembahasan RUU Ketenagakerjaan di Komisi IX DPR RI, agar tercipta iklim usaha yang lebih kondusif,” tutupnya.