Badai Sektor Ketenagakerjaan: Mengapa Perusahaan Kini Pilih ‘Puasa’ Buka Lowongan Kerja?

Siti Aminah | Totonews
25 Apr 2026, 10:42 WIB
Badai Sektor Ketenagakerjaan: Mengapa Perusahaan Kini Pilih 'Puasa' Buka Lowongan Kerja?

TotoNews — Kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia saat ini sedang tidak berada dalam titik ideal. Fenomena melambatnya penyerapan tenaga kerja baru kian terasa nyata, di mana banyak pelaku industri memilih untuk menginjak rem dalam-dalam terkait pembukaan lowongan kerja. Langkah efisiensi ini diambil bukan tanpa alasan; perusahaan cenderung memprioritaskan stabilitas operasional di tengah ketidakpastian yang membayangi dunia usaha.

Tiga Pilar Rekrutmen yang Sedang Goyang

Menyoroti fenomena ini, praktisi HR kawakan sekaligus Ketua Umum Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, membedah bahwa secara fundamental terdapat tiga pintu masuk dalam proses rekrutmen perusahaan. Pertama adalah replacement atau penggantian posisi yang ditinggalkan karyawan lama. Kedua, pembukaan lowongan akibat adanya ekspansi bisnis, dan ketiga adalah rekrutmen karena masuknya investasi baru.

Baca Juga

AS Lumpuhkan Jalur Kripto Iran: Aset Senilai Rp 5,91 Triliun Resmi Dibekukan

AS Lumpuhkan Jalur Kripto Iran: Aset Senilai Rp 5,91 Triliun Resmi Dibekukan

Namun, dalam pantauan TotoNews, pos kedua—yaitu ekspansi—menjadi yang paling terdampak. Ivan mengungkapkan bahwa banyak korporasi yang saat ini sedang dalam proses pendampingannya justru memilih menahan laju ekspansi mereka. Berbagai faktor eksternal memaksa para pengusaha untuk berpikir dua kali sebelum menambah jumlah personil secara masif.

Efek Domino Biaya Operasional dan Regulasi

Salah satu potret nyata terjadi pada industri manufaktur. Ivan mencontohkan sektor produksi kaca yang sangat bergantung pada pasokan energi gas. Lonjakan harga gas dari Rp 6.000 menjadi Rp 9.000 per kilogram—kenaikan drastis sebesar 50%—langsung memukul rencana strategis perusahaan. Rencana awal untuk menyerap 2.000 tenaga kerja baru terpaksa dikoreksi karena membengkaknya biaya operasional yang tak terhindarkan.

Baca Juga

Purbaya Yudhi Sadewa Buka Suara Soal Isu Miring dan Pembersihan Internal di Tubuh Kemenkeu

Purbaya Yudhi Sadewa Buka Suara Soal Isu Miring dan Pembersihan Internal di Tubuh Kemenkeu

Tak hanya manufaktur konvensional, industri masa depan seperti kendaraan listrik pun tak luput dari awan mendung. Ketidakpastian regulasi, terutama mengenai perubahan insentif kendaraan listrik, membuat calon investor ragu. Perubahan kebijakan pemerintah yang mendadak sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat, yang ujung-ujungnya membuat target rekrutmen ribuan pekerja harus dipangkas secara signifikan.

“Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi kebijakan domestik membuat investor lebih memilih posisi ‘wait and see’. Pemerintah perlu memberikan sinyal positif berupa kepastian usaha jika ingin arus investasi dan penyerapan tenaga kerja kembali mengalir deras,” ujar Ivan dalam diskusi bersama TotoNews.

Survival Quotient: Strategi Bertahan bagi Pencari Kerja

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para pejuang loker di tengah sempitnya peluang? Ivan menyarankan agar para pencari kerja tidak hanya terpaku pada sektor formal atau pekerjaan impian semata. Di masa sulit seperti ini, fleksibilitas adalah kunci. Melakukan pekerjaan sampingan atau terjun ke sektor informal bisa menjadi pilihan cerdas untuk menjaga kelangsungan hidup sekaligus mengasah mental.

Baca Juga

Kemnaker Gandeng TikTok Luncurkan Program BISA: Upaya Cetak Ratusan Ribu Kreator Digital Masa Depan

Kemnaker Gandeng TikTok Luncurkan Program BISA: Upaya Cetak Ratusan Ribu Kreator Digital Masa Depan

Bagi para fresh graduate, Ivan menekankan pentingnya mengubah pola pikir. Berikut adalah beberapa poin penting untuk menghadapi pasar kerja yang ketat:

  • Jangan meremehkan pekerjaan di sektor informal selama itu memberikan pengalaman kerja yang nyata.
  • Asah Survival Quotient (SQ), yakni kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam kondisi sesulit apapun.
  • Gunakan waktu luang untuk meningkatkan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
  • Pahami bahwa pemberi kerja sangat menghargai kandidat yang memiliki daya juang tinggi meskipun latar belakang pekerjaannya tidak linier dengan pendidikan formal.

Ivan menegaskan bahwa saat perusahaan melakukan perampingan atau layoff, mereka akan mempertahankan individu yang memiliki resiliensi tinggi. Memiliki rekam jejak mampu bertahan di situasi sulit justru menjadi nilai jual tersendiri di mata HRD. Untuk itu, jangan berhenti mencoba dan teruslah mencari celah di tengah ketatnya lowongan kerja yang tersedia.

Baca Juga

Menelusuri Jejak Kelam May Day: Dari Eksploitasi hingga Lahirnya Solidaritas Buruh Dunia

Menelusuri Jejak Kelam May Day: Dari Eksploitasi hingga Lahirnya Solidaritas Buruh Dunia
Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *