Suku Bunga The Fed Tetap Bertahan, Gejolak Internal Warnai Keputusan FOMC Terbaru
TotoNews — Federal Reserve (The Fed) kembali mengambil langkah hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir pada Rabu (29/4) waktu setempat, bank sentral AS tersebut memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Perpecahan Suara Terbesar Sejak 1992
Keputusan kali ini tidaklah mengalir dengan bulat. Aroma perselisihan pendapat tercium kuat di antara para pejabat tinggi bank sentral. Sebanyak delapan anggota, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell, sepakat untuk menahan posisi saat ini sembari memberikan sinyal pelonggaran (easing) di masa depan. Namun, empat anggota lainnya secara terbuka menyatakan perbedaan pendapat (dissent) dengan argumen yang tidak seragam.
IHSG Parkir di Level Psikologis 7.500: ERAA Raup Laba Jumbo, ARNA Siap Guyur Dividen Berlimpah
Hasil pemungutan suara 8-4 ini mencatatkan sejarah tersendiri sebagai tingkat perbedaan pendapat tertinggi yang pernah terjadi di tubuh FOMC sejak tahun 1992. Hal ini mencerminkan betapa peliknya tantangan ekonomi yang dihadapi AS saat ini, di mana para pengambil kebijakan mulai memiliki visi yang berseberangan mengenai langkah mitigasi risiko ekonomi global.
Hantu Inflasi dan Tekanan Global
Pernyataan resmi The Fed menggarisbawahi bahwa tingkat inflasi AS masih bertengger di atas target ideal 2%. “Inflasi tetap tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini,” tulis pernyataan tersebut seperti dikutip dari CNBC. Fenomena membandelnya angka inflasi ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal, mulai dari kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump hingga lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Waspada Jebakan Batman di TikTok: Modus Pinjaman BCA Palsu Gunakan Teknologi AI untuk Kelabui Korban
Meskipun secara historis The Fed cenderung mengabaikan guncangan harga energi yang bersifat sementara, durasi ketidakpastian yang berlarut-larut kali ini mulai menimbulkan kecemasan. Para analis menilai bahwa tekanan harga yang menetap dalam jangka panjang dapat menggerus daya beli konsumen secara fundamental.
Resiliensi Pasar Tenaga Kerja
Di tengah tekanan inflasi, mandat ganda The Fed terkait stabilitas pasar tenaga kerja menunjukkan performa yang cukup tangguh. Data terbaru menunjukkan jumlah pekerja non-pertanian pada bulan Maret meningkat sebanyak 178.000 orang, melampaui ekspektasi pasar. Angka pengangguran pun terpantau melandai ke level 4,3%.
Memasuki bulan April, laporan dari ADP menunjukkan pertumbuhan pekerja swasta mingguan rata-rata berada di angka 40.000. Meskipun tidak menunjukkan pertumbuhan yang agresif, pasar kerja Amerika Serikat dinilai masih berada dalam koridor yang sehat. Situasi inilah yang memberikan landasan bagi Jerome Powell untuk tetap menahan suku bunga, sembari menyeimbangkan antara upaya menekan inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Kritikan Pedas Menkeu Purbaya: Perbankan Indonesia Dinilai Terlalu ‘Malas’ dan Gemar Parkir Uang