Revolusi Hijau Jakarta: Investasi Rp 17,3 Triliun Siap Sulap Timbunan Sampah Menjadi Energi Listrik

Siti Aminah | Totonews
05 Mei 2026, 00:42 WIB
Revolusi Hijau Jakarta: Investasi Rp 17,3 Triliun Siap Sulap Timbunan Sampah Menjadi Energi Listrik

TotoNews — Jakarta kini tengah bersiap menghadapi transformasi besar dalam manajemen lingkungan hidupnya. Masalah menahun mengenai tumpukan sampah yang kian menggunung di ibu kota tampaknya mulai menemui titik terang melalui langkah strategis pemerintah. Proyek raksasa pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) diproyeksikan bakal menelan dana fantastis hingga mencapai angka US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 17,3 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.300 per dolar AS).

Langkah ambisius ini bukan sekadar wacana di atas kertas. CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa nilai investasi yang sangat besar tersebut sebanding dengan kapasitas pengolahan yang dirancang untuk menangani hingga 8.000 ton sampah setiap harinya. Dalam keterangannya di hadapan awak media di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rosan menegaskan komitmen pemerintah untuk mengubah beban lingkungan menjadi aset energi yang produktif.

Baca Juga

Operasional KRL Bekasi-Cikarang Pulih, Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Jalur Pasca-Insiden

Operasional KRL Bekasi-Cikarang Pulih, Menhub Dudy Purwagandhi Tinjau Langsung Jalur Pasca-Insiden

Visi Besar di Balik Angka Rp 17,3 Triliun

Angka Rp 17,3 triliun tentu bukan jumlah yang sedikit. Namun, bagi kota sebesar Jakarta, fasilitas PSEL ini merupakan kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan ekosistem urban. Rosan menjelaskan bahwa perhitungan anggaran tersebut didasarkan pada skala operasional yang masif. “Jika kita bicara kapasitas 8.000 ton per hari, investasinya memang berada di kisaran US$ 1 miliar,” ungkap Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.

Pembangunan infrastruktur ini dirancang dengan teknologi mutakhir yang mampu mengonversi limbah padat menjadi daya listrik secara efisien. Proyek ini diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional melalui skema Energi Baru Terbarukan (EBT).

Baca Juga

Strategi Danantara di Tengah Ketegangan Global: Mengintip 4 Sektor Prioritas yang Menjadi Incaran

Strategi Danantara di Tengah Ketegangan Global: Mengintip 4 Sektor Prioritas yang Menjadi Incaran

Misi Membersihkan ‘Warisan’ Sampah di Bantar Gebang

Salah satu poin menarik yang ditekankan oleh Rosan adalah ambisi pemerintah untuk tidak hanya mengelola sampah baru, tetapi juga membersihkan tumpukan sampah lama yang sudah mendekam selama puluhan tahun di TPST Bantar Gebang. Fasilitas yang akan dibangun direncanakan memiliki fleksibilitas kapasitas yang lebih tinggi dari target awal.

“Pemerintah saat ini menginginkan kapasitas pengolahan di atas 8.000 ton per hari. Mengapa? Karena tujuan utama kita adalah memastikan Bantar Gebang benar-benar bersih di masa depan,” jelas Rosan. Dengan teknologi terbaru, mesin-mesin PSEL nantinya mampu menyerap sampah yang sudah lama mengendap. Kapasitas pengolahan bisa saja ditingkatkan hingga mencapai 10.000 atau bahkan 12.000 ton per hari guna mempercepat proses ‘pembersihan’ sejarah sampah Jakarta tersebut.

Baca Juga

Saham BBCA Menyentuh Titik Terendah 5 Tahun: Mengurai Tekanan Eksternal di Tengah Fundamental yang Masih Kokoh

Saham BBCA Menyentuh Titik Terendah 5 Tahun: Mengurai Tekanan Eksternal di Tengah Fundamental yang Masih Kokoh

Sinergi Strategis: Pemprov DKI Jakarta dan Danantara

Keseriusan proyek ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Danantara. Kerja sama ini mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari penyediaan pasokan sampah secara konsisten hingga penyiapan lahan yang memadai untuk pembangunan fasilitas PSEL yang ramah lingkungan.

Kehadiran fasilitas PSEL ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam tata kelola perkotaan di Indonesia. Melalui teknologi berbasis lingkungan, residu sampah yang selama ini dianggap sebagai polutan akan diolah melalui proses termal atau biokimia untuk menggerakkan turbin generator listrik. Ini adalah bentuk nyata dari ekonomi sirkular, di mana nilai ekonomi diekstraksi kembali dari barang yang sudah tidak terpakai.

Baca Juga

Purbaya Yudhi Sadewa Buka Suara Soal Isu Miring dan Pembersihan Internal di Tubuh Kemenkeu

Purbaya Yudhi Sadewa Buka Suara Soal Isu Miring dan Pembersihan Internal di Tubuh Kemenkeu

Ekspansi Nasional: 11 Provinsi Siap Menyusul

Model pengolahan sampah modern ini dipastikan tidak akan berhenti di Jakarta saja. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, memberikan bocoran mengenai rencana besar pemerintah pusat. Menurutnya, Danantara akan memperluas cakupan kerja sama ini ke berbagai daerah lain di seluruh Indonesia.

“Minggu depan, kita akan masuk ke gelombang kedua. Ada 11 provinsi dan wilayah strategis yang akan menyusul penandatanganan MoU serupa,” kata Zulhas. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Yogyakarta, Lampung, Serang, Semarang, Surabaya, Bekasi, Medan, Tangerang, hingga Bogor Raya. Perluasan ini menunjukkan bahwa krisis sampah merupakan isu nasional yang memerlukan solusi terintegrasi dan pendanaan yang kuat melalui skema kemitraan strategis.

Peta Jalan Menuju Indonesia Bersih Sampah

Selain 11 wilayah utama tersebut, pemerintah juga sedang mempersiapkan daerah penyangga dan kota industri lainnya untuk tahap berikutnya. Beberapa lokasi yang masuk dalam radar pengembangan adalah Pekalongan, Tegal, wilayah Raya, Kabupaten Bandar, hingga Kabupaten Karawang. Pilihan lokasi ini mencerminkan fokus pemerintah pada daerah-daerah dengan pertumbuhan populasi dan industri yang pesat, yang secara otomatis menghasilkan volume sampah tinggi.

Upaya masif ini diharapkan mampu memberikan dampak domino yang positif. Selain lingkungan yang lebih bersih dan sehat, proyek PSEL akan menciptakan lapangan kerja baru di sektor teknologi hijau dan memberikan kepastian pasokan energi bagi jaringan listrik lokal. Keberhasilan proyek di Jakarta akan menjadi cetak biru (blueprint) bagi kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara.

Optimisme di Tengah Tantangan Logistik

Meskipun investasi sebesar US$ 1 miliar terdengar fantastis, tantangan sesungguhnya terletak pada integrasi logistik pengangkutan sampah dan stabilitas operasional fasilitas. Namun, dengan keterlibatan Danantara sebagai entitas pengelola investasi negara, proyek ini diharapkan memiliki daya tahan finansial dan manajerial yang kuat.

Rosan Roeslani menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa teknologi yang dibawa kali ini benar-benar mampu menjawab keresahan masyarakat akan polusi udara dan air yang diakibatkan oleh penumpukan sampah terbuka (open dumping). Jakarta sedang menuju era baru, di mana cahaya lampu di rumah warga mungkin saja berasal dari sampah yang mereka buang kemarin pagi. Sebuah siklus keberlanjutan yang telah lama dinantikan oleh publik.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *