Menilik Pesona Batik Ciwitan: Akulturasi Budaya dan Jantung Ekonomi Kreatif Desa Benteng

Siti Aminah | Totonews
07 Mei 2026, 06:43 WIB
Menilik Pesona Batik Ciwitan: Akulturasi Budaya dan Jantung Ekonomi Kreatif Desa Benteng

TotoNews — Di sebuah sudut tenang Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, kesibukan yang berbeda terasa setiap Selasa pagi. Bukan sekadar rutinitas domestik biasa, melainkan denting imajinasi yang tertuang di atas kain. Sejumlah ibu rumah tangga berkumpul dengan jemari yang lincah mengikat, melipat, dan menjahit kain-kain putih polos. Mereka adalah motor penggerak di balik lahirnya Batik Ciwitan, sebuah karya wastra unik yang kini menjadi ikon baru dalam kancah ekonomi kreatif di wilayah tersebut.

Lahirnya Inovasi dari Sentuhan ‘Ciwit’

Inisiatif luar biasa ini digagas oleh Eka Harijayanti, seorang perempuan visioner asal Bantul, Yogyakarta, yang membawa semangat seni dari tanah kelahirannya ke Ciampea. Menetap di Bogor sejak tahun 2012, Eka tidak membiarkan kreativitasnya tumpul. Ia merintis jenama Batik Ciwitan dan Eco Print Lawon Geulis sebagai wujud kecintaannya pada seni kain tradisional yang dipadukan dengan teknik modern.

Baca Juga

Postur Utang Pemerintah Capai Rp 9.920 Triliun, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Manajemen Risiko Kita Jauh Lebih Sehat dari Negara Tetangga

Postur Utang Pemerintah Capai Rp 9.920 Triliun, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Manajemen Risiko Kita Jauh Lebih Sehat dari Negara Tetangga

Nama “Ciwitan” sendiri memiliki filosofi yang membumi. Diambil dari bahasa Sunda, “ciwit” berarti mencubit. Penamaan ini merujuk pada teknik pembuatan pola yang dilakukan dengan cara mencubit atau menjumput kain sebelum proses pewarnaan. Namun, jangan salah sangka, teknik ini bukan sekadar jumputan biasa. Eka melakukan eksperimen berani dengan mengawinkan tradisi jumputan Jawa dengan seni Shibori asal Jepang.

“Teknik batiknya adalah hasil perkawinan silang. Kami memadukan kehangatan tradisi lokal dengan presisi seni Shibori yang estetik. Hasilnya adalah motif yang tidak akan pernah sama persis antara satu kain dengan kain lainnya,” ujar Eka saat ditemui tim TotoNews di galeri workshop-nya di Perumahan Asri Ciampea.

Baca Juga

Hitung-hitungan Purbaya: Program Makan Bergizi Gratis Siap Serap 1 Juta Tenaga Kerja

Hitung-hitungan Purbaya: Program Makan Bergizi Gratis Siap Serap 1 Juta Tenaga Kerja

Pemberdayaan Perempuan: Mengubah Kejenuhan Menjadi Penghasilan

Perjalanan Batik Ciwitan tidaklah instan. Pada awalnya, Eka menjalankan usaha ini secara mandiri di rumahnya. Namun, lonjakan pesanan yang signifikan antara tahun 2017 hingga 2019 membuatnya tersadar bahwa usaha ini memiliki potensi sosial yang lebih besar. Ia mulai merangkul para tetangga, terutama ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya berkutat dengan urusan dapur.

Saat ini, tercatat ada 15 ibu rumah tangga yang aktif bergabung. Eka berhasil mengubah stigma bahwa ibu rumah tangga hanya bisa berdiam diri di rumah. Melalui pelatihan yang intensif, para ibu ini kini bertransformasi menjadi perajin yang cekatan. Mereka mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan peran utama mereka di keluarga.

Baca Juga

Terobosan Rekrutmen Pertamina: Kini Cari Kerja Jadi Lebih Mudah dan Praktis Lewat Aplikasi MyPertamina

Terobosan Rekrutmen Pertamina: Kini Cari Kerja Jadi Lebih Mudah dan Praktis Lewat Aplikasi MyPertamina

“Dulu, banyak dari mereka yang merasa jenuh karena tidak ada aktivitas selain mengurus rumah. Sekarang, selain mendapatkan tambahan ekonomi, mereka punya ruang sosial untuk berkumpul. Menariknya, mereka sering kali bekerja sambil bercengkerama atau menonton drama Korea bersama, sehingga suasana kerjanya sangat menyenangkan dan minim tekanan,” tambah Eka dengan nada santai.

Proses Kreatif yang Menuntut Kesabaran Tinggi

Di balik selembar kain Batik Ciwitan yang indah, tersimpan proses panjang yang membutuhkan ketelitian ekstra. Eka menjelaskan bahwa setiap produk adalah karya eksklusif. Motif yang dihasilkan bersifat acak dan sangat dipengaruhi oleh suasana hati (mood) sang perajin saat menggambar pola awal. Inilah yang membuat nilai seninya semakin tinggi.

Baca Juga

Strategi Agresif Emiten: IHSG Melesat 2,34% Saat TRJA dan MPPA Siapkan Langkah Besar

Strategi Agresif Emiten: IHSG Melesat 2,34% Saat TRJA dan MPPA Siapkan Langkah Besar

Satu helai kain berukuran 2,5 meter bisa memakan waktu pengerjaan antara satu hingga tiga minggu. Prosesnya dimulai dari pembuatan desain pola oleh Eka, yang kemudian dilanjutkan oleh para ibu di rumah masing-masing untuk tahap penjahitan dan serutan. Untuk menjaga kualitas dan kebersamaan, mereka memiliki jadwal rutin yang terorganisir:

  • Selasa: Fokus pada menjahit dan menyerut kain mengikuti pola.
  • Kamis: Sesi pendalaman materi dan belajar membuat variasi pola baru.
  • Sabtu: Proses pewarnaan yang krusial di sanggar utama.

Dengan tingkat kerumitan tersebut, tidak mengherankan jika kain Batik Ciwitan dibanderol dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 750 ribu per lembarnya. Pangsa pasarnya adalah para kolektor wastra dan masyarakat yang benar-benar menghargai orisinalitas sebuah karya produk lokal.

Sinergi dengan Desa BRILiaN: Lompatan Menuju Pasar Global

Titik balik pertumbuhan Batik Ciwitan terjadi saat Desa Benteng resmi bergabung dalam program Desa BRILiaN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pengakuan ini membawa dampak sistemik bagi eksistensi sanggar milik Eka. Batik Ciwitan kini tidak hanya dikenal di tingkat kecamatan, tetapi telah menjadi destinasi wajib bagi tamu-tamu kedinasan maupun wisatawan yang berkunjung ke Desa Benteng.

Kunjungan rutin kini datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar lokal hingga mahasiswa internasional. Tercatat, delegasi dari Peru, Jepang, hingga Amerika Serikat pernah singgah untuk belajar langsung teknik menciwit kain di sanggar Lawon Geulis. Dampaknya pun terasa pada sisi komersial; dalam satu bulan, sanggar ini mampu menjual rata-rata 10 hingga 20 kain hanya dari kunjungan edukasi tersebut.

Wahyu Syarief Hidayat, Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, mengungkapkan bahwa Batik Ciwitan merupakan salah satu permata dalam ekosistem UMKM mereka. Pada tahun 2023, Desa Benteng menerima dana hibah sebesar Rp 1 miliar melalui program Desa BRILiaN, di mana Rp 200 juta dialokasikan khusus untuk memperkuat infrastruktur sanggar batik.

“Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk sarana prasarana yang lengkap, mulai dari meja cap, canting, hingga bahan pewarna berkualitas tinggi. Kami juga membangun gapura tematik sebagai penanda bahwa kawasan ini adalah pusat edukasi budaya yang didukung penuh oleh BRI,” papar Wahyu.

Visi Strategis BRI dalam Pembangunan Desa

Di tingkat nasional, inisiatif seperti yang terjadi di Desa Benteng merupakan bagian dari strategi besar BRI dalam membangun kemandirian bangsa dari tingkat akar rumput. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menekankan bahwa program Desa BRILiaN dirancang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Terdapat empat pilar utama yang menjadi fokus pemberdayaan BRI, yaitu penguatan peran BUMDes sebagai lokomotif ekonomi, digitalisasi untuk memperluas akses pasar, aspek keberlanjutan yang tangguh, serta inovasi yang adaptif. Dengan lebih dari 5.200 desa yang telah dibina hingga tahun 2025, BRI berkomitmen menjadikan desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.

Melalui sentuhan kreatif Eka Harijayanti dan dukungan perbankan yang tepat sasaran, Batik Ciwitan kini bukan sekadar kain hiasan. Ia adalah simbol keberdayaan perempuan Indonesia, jembatan akulturasi budaya, dan bukti nyata bahwa inovasi dari desa mampu berbicara banyak di panggung dunia.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *