Ketegangan Memuncak: Ancaman Keras Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
TotoNews — Panggung geopolitik global kembali memanas seiring dengan meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, baru saja melontarkan ancaman serius yang menargetkan fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk jalur pelayaran internasional. Pernyataan provokatif ini sontak mengirimkan gelombang kejut ke pasar komoditas, memaksa harga minyak dunia merangkak naik secara signifikan pada perdagangan akhir pekan ini.
Pasar Energi Bereaksi Terhadap Retorika ‘Neraka’
Data terbaru menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan sebesar 1,4%, bertengger di level US$ 110,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) mencatatkan lonjakan yang lebih tajam, yakni 1,8% menuju angka US$ 113,60 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran para investor akan terganggunya rantai pasok energi global di salah satu jalur nadi perdagangan paling vital di dunia.
Awan Mendung Sektor Industri: 10 Perusahaan Beri Sinyal PHK Massal Imbas Gejolak Global
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menuliskan pesan bernada ultimatum yang sangat keras. Ia menyebut bahwa Selasa mendatang akan menjadi hari yang menentukan bagi infrastruktur Iran. “Akan ada Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya jadi satu di Iran. Tidak akan ada yang pernah melihat hal seperti ini sebelumnya! Buka selat itu sekarang juga, atau kalian akan hidup dalam neraka—LIHAT SAJA!” tulis Trump dalam unggahan yang dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Respons Iran dan Diplomasi di Balik Layar
Menanggapi ancaman tersebut, otoritas Teheran tidak tinggal diam. Seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi pelayaran internasional hingga negaranya menerima kompensasi penuh atas segala kerusakan yang timbul akibat konflik bersenjata sebelumnya. Sikap keras ini memperumit upaya stabilisasi pasokan energi yang saat ini tengah diupayakan berbagai pihak.
Bencana Energi Global: Dampak Perang AS-Iran Lenyapkan 500 Juta Barel Minyak dan Rugikan Dunia Rp 859 Triliun
Di tengah kebuntuan ini, Oman mencoba mengambil peran sebagai mediator. Perwakilan Oman dikabarkan telah bertemu dengan pihak Iran untuk mencari jalan tengah guna membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Sementara itu, aliansi negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ menyatakan keprihatinan mendalam. Mereka memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi hanya akan memperburuk situasi ekonomi global, mengingat pemulihan permintaan minyak memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu yang tidak sebentar.
Dampak Nyata bagi Konsumen
Gejolak di tingkat elite ini mulai merembet ke kantong masyarakat umum. Gangguan pasokan di Timur Tengah telah mendorong harga bensin rata-rata di Amerika Serikat ke level tertingginya sejak tahun 2022. Berdasarkan data dari AAA, harga bensin telah menyentuh angka US$ 4,11 per galon, atau melonjak hampir 38% sejak konflik ini pecah.
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Presiden Prabowo Pastikan Ketahanan Energi Indonesia Tetap Stabil
Kini, perhatian dunia tertuju pada batas waktu yang diberikan oleh Gedung Putih. Meski sebelumnya sempat menyatakan bahwa AS tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz, manuver terbaru Trump menunjukkan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militernya untuk mengamankan kepentingan energi global. Apakah diplomasi akan menang, ataukah dunia akan menyaksikan babak baru konflik bersenjata di Timur Tengah? TotoNews akan terus memantau perkembangan situasi ini secara eksklusif.