Badai Capital Outflow: Dana Asing Senilai Puluhan Triliun Mengalir Keluar dari Pasar Modal Indonesia
TotoNews — Tekanan hebat tengah menghantam pasar modal Indonesia seiring dengan aksi jual bersih atau net foreign sell yang dilakukan investor asing dalam skala masif. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, dana asing senilai puluhan triliun rupiah tercatat meninggalkan lantai bursa, memicu koreksi tajam pada pergerakan indeks.
Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aksi jual bersih oleh investor asing di pasar saham mencapai angka fantastis, yakni sebesar Rp 23,34 triliun hanya dalam satu bulan. Kondisi ini berbanding lurus dengan melesunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjun bebas hingga lebih dari 14 persen pada periode yang sama.
IHSG Terkoreksi di Tengah Ketidakpastian
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pada akhir Maret lalu, IHSG ditutup pada level 7.048,22. Angka ini menunjukkan adanya koreksi signifikan sebesar 14,42 persen secara month-to-month.
Ambisi Militer yang Mahal: Prediksi Biaya Perang AS Lawan Iran Berpotensi Tembus US$ 1 Triliun
“Meski dinamika pasar cukup menantang, resiliensi dan likuiditas di pasar modal domestik secara umum masih dapat terjaga dengan baik. Namun, kita tidak bisa memungkiri adanya tekanan dari investor asing yang membukukan net sale senilai Rp 23,34 triliun,” ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK yang dihimpun tim redaksi TotoNews.
Tekanan di Pasar Obligasi dan SBN
Fenomena eksodus modal ini tidak hanya terjadi di pasar saham. Sektor obligasi pun turut merasakan dampaknya. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) mencatatkan pelemahan sebesar 2,03 persen ke level 433,16. Jika ditarik lebih jauh, koreksi ini mencapai 1,74 persen sejak awal tahun (year to date).
Di sisi lain, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) juga tak luput dari aksi lepas aset. Investor non-residen tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp 21,80 triliun dalam sebulan terakhir. Langkah defensif para pemilik modal ini disinyalir merupakan respons terhadap meningkatnya risiko global.
Babak Baru Perseteruan Trump vs Powell: Kursi Panas Bos The Fed di Tengah Skandal Renovasi
“Meningkatnya persepsi risiko akibat ketidakpastian global memicu investor non-residen untuk melakukan aksi jual di pasar SBN,” tambah Hasan. Ketegangan geopolitik dan fluktuasi kebijakan ekonomi negara maju menjadi faktor utama yang mendorong para pemodal mengalihkan aset mereka ke tempat yang dianggap lebih aman (safe haven).
Hasan juga menjelaskan bahwa lonjakan net foreign sell ini sebagian dipicu oleh transaksi besar di pasar negosiasi terhadap sejumlah emiten tertentu di Bursa Efek Indonesia (BEI). TotoNews akan terus memantau perkembangan arus modal ini sebagai indikator vital kesehatan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar finansial global.