Kisah Haru di Balik Call Center 110: Tas Bocah Tertinggal di Sabang Berhasil Ditemukan Berkat Gerak Cepat Polisi

Rizky Ramadhan | Totonews
14 Mei 2026, 14:46 WIB
Kisah Haru di Balik Call Center 110: Tas Bocah Tertinggal di Sabang Berhasil Ditemukan Berkat Gerak Cepat Polisi

TotoNews — Ketegangan menyelimuti sebuah keluarga asal Depok saat jarum jam menunjukkan pukul 12 malam lewat. Di tengah keheningan dini hari, sebuah keriuhan kecil pecah di sebuah rumah tinggal di kawasan Jawa Barat. Bukan tanpa alasan, kepanikan itu bermula dari sebuah tas kecil milik seorang bocah berusia tujuh tahun yang tertinggal di hiruk-pikuk pusat kota Jakarta. Namun, siapa sangka, layanan darurat yang sering kali dianggap hanya untuk urusan kriminal besar, justru menjadi juru selamat dalam urusan yang terasa personal ini.

Pengalaman tak terlupakan ini dialami oleh Lia, seorang ibu yang mulanya merasa pesimis terhadap respons aparat keamanan. Namun, persepsinya berubah total setelah ia memberanikan diri menekan tiga digit angka pada ponselnya: 110. Layanan call center 110 Polri membuktikan bahwa eksistensi mereka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata kehadiran negara di tengah kesulitan masyarakat, sekecil apa pun masalahnya.

Baca Juga

Skandal Jeratan Utang di Satpol PP Bogor: Istri Korban Bongkar Muslihat Atasan yang Gadai SK Demi ‘Urusan Kantor’

Skandal Jeratan Utang di Satpol PP Bogor: Istri Korban Bongkar Muslihat Atasan yang Gadai SK Demi ‘Urusan Kantor’

Malam yang Melelahkan di Jantung Jakarta

Semuanya bermula pada Rabu malam (13/5), ketika Lia bersama suami dan kedua anaknya memutuskan untuk menikmati suasana kuliner malam di Jalan Sabang, Menteng, Jakarta Pusat. Jalan Sabang, yang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner Jakarta, malam itu masih cukup ramai. Mereka memilih sebuah warung pecel ayam untuk mengisi perut sebelum kembali ke rumah.

“Awalnya kami berempat makan di sana sekitar pukul 23.30 WIB,” kenang Lia saat berbincang dengan tim redaksi. Namun, rencana makan di tempat tersebut harus berubah mendadak. Anak bungsunya mulai rewel karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Sebagai orang tua, Lia dan suaminya memutuskan untuk membungkus pesanan mereka dan segera beranjak pulang demi kenyamanan sang buah hati.

Baca Juga

Malam Kelabu di Bogor: Rivalitas Tak Sehat Berujung Bentrok Berdarah Dua Kelompok Suporter di Jalan Sholis

Malam Kelabu di Bogor: Rivalitas Tak Sehat Berujung Bentrok Berdarah Dua Kelompok Suporter di Jalan Sholis

Dalam ketergesaan itu, ada satu detail yang terlewatkan. Putri sulungnya yang berinisial C (7), meletakkan tas berisi perangkat tablet miliknya di bawah meja dekat kursi. Karena fokus menenangkan si bungsu, tas tersebut luput dari pengawasan saat mereka bergegas menuju mobil. Keluarga kecil ini pun meluncur membelah jalanan Jakarta menuju kediaman mereka di Depok tanpa menyadari ada harta benda yang tertinggal di belakang.

Kepanikan di Tengah Malam: Dilema Antara Depok dan Menteng

Sesampainya di rumah di Depok, Jawa Barat, suasana tenang mendadak pecah oleh tangisan. Sang anak baru menyadari bahwa tas kesayangannya tidak ada di tangannya. Lia seketika lemas. Bayangan harus menempuh perjalanan kembali ke Jakarta Pusat di tengah malam yang sudah melewati pukul 00.00 WIB terasa sangat berat.

Baca Juga

Kemarau 2026 Tapi Masih Hujan? Begini Penjelasan Lengkap BMKG dan Fakta di Baliknya

Kemarau 2026 Tapi Masih Hujan? Begini Penjelasan Lengkap BMKG dan Fakta di Baliknya

“Saya posisi bingung, mana capek karena sudah jam 12 tengah malam. Kalau kami kembali ke sana tetapi ternyata barangnya sudah tidak ada, rasanya cuma buang-buang waktu dan tenaga,” ungkap Lia dengan nada emosional. Dalam kebuntuan itu, ia teringat akan layanan layanan masyarakat 110 yang pernah ia dengar di media sosial.

Tanpa ekspektasi berlebih, Lia mencoba menghubungi nomor tersebut. Karena posisinya berada di Depok, panggilannya secara otomatis terhubung ke operator di Polres Metro Depok. Di sinilah koordinasi antarwilayah kepolisian menunjukkan taringnya. Meski kejadian berada di wilayah hukum Jakarta Pusat, operator di Depok merespons dengan profesionalisme tinggi.

Sinergi Antarwilayah: Dari Depok ke Jakarta Pusat

Lia menceritakan betapa ia awalnya merasa skeptis. Ia khawatir laporannya akan dianggap remeh karena hanya menyangkut sebuah tas anak yang tertinggal. Namun, operator Polres Metro Depok justru mendengarkan dengan seksama dan segera menghubungkan koordinasi tersebut ke Polres Metro Jakarta Pusat.

Baca Juga

Ocha SMAN 1 Pontianak Temui Gibran: Dari Polemik Juri LCC MPR Hingga Bocoran Ilmu Debat Kelas Dunia

Ocha SMAN 1 Pontianak Temui Gibran: Dari Polemik Juri LCC MPR Hingga Bocoran Ilmu Debat Kelas Dunia

“Singkatnya, call center 110 Polres Metro Jakpus juga menerima panggilan dan merespons dengan sangat baik dan cepat. Intinya saya meminta tolong pak polisi untuk mengecek tas anak saya yang tertinggal di warung tersebut,” ujar Lia. Koordinasi yang mulus ini menunjukkan bahwa sistem digitalisasi kepolisian saat ini telah terintegrasi dengan sangat baik, melampaui batas-batas administratif wilayah.

Hanya dalam hitungan menit, laporan tersebut diteruskan ke unit lapangan yang paling dekat dengan lokasi kejadian, yakni Polsek Menteng. Kecepatan ini sangat krusial, mengingat barang berharga di tempat umum bisa berpindah tangan dalam hitungan detik jika tidak segera diamankan.

Aksi Nyata Personel Polsek Menteng di Lapangan

Tak lama setelah menutup telepon, Lia dikejutkan dengan sebuah panggilan masuk. Rupanya, itu adalah personel dari Polsek Menteng bernama Pak Joko yang sudah berada di lokasi warung pecel ayam di Jalan Sabang. Kehadiran polisi di lokasi begitu cepat, seolah-olah mereka memang sudah bersiap siaga di sekitar sana.

Melalui sambungan video call, Pak Joko menunjukkan situasi di warung tersebut. Lia memberikan petunjuk spesifik di mana posisi tas itu diletakkan sebelumnya. “Nggak lama kemudian, Pak Joko video call saya dari tempat makan itu dan menunjukkan tas putri saya, ‘ini bukan bu tasnya?’. Dan ternyata masih ada di situ, diamankan sama ibu pemilik warung,” ungkap Lia dengan rasa syukur yang mendalam.

Kejujuran pemilik warung bernama Ibu Nur Azizah juga patut diacungi jempol. Ia tidak berniat menyembunyikan tas tersebut, melainkan menyimpannya dengan aman sambil menunggu pemiliknya kembali. Sinergi antara kejujuran warga dan kesigapan polisi inilah yang membuat drama tengah malam ini berakhir dengan senyuman.

Apresiasi untuk Transformasi Pelayanan Polri

Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi Lia. Ia mengakui bahwa stigma lama tentang sulitnya melapor ke polisi kini terbantahkan melalui pengalamannya sendiri. “Saya sangat mengapresiasi bapak-bapak kepolisian. Call center 110 benar-benar membantu. Ini pertama kali saya mencoba menghubungi 110 dan benar-benar dilayani dengan baik,” tuturnya.

Selain kepada aparat kepolisian, Lia juga secara khusus berterima kasih kepada Ibu Nur Azizah. Keberuntungan bertemu orang-orang baik di saat darurat adalah hal yang sangat ia syukuri. “Kalau yang menemukan orang jahat, mungkin sudah hilang tablet tersebut. Terima kasih juga kepada Subdit Resmob Polda Metro Jaya yang ikut memberikan atensi,” tambahnya.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap laporan yang masuk melalui mekanisme keamanan masyarakat seperti 110 akan ditindaklanjuti secara serius. “Benar ada laporan dari 110 dan alhamdulillah petugas respons dan mendatangi tempat tersebut, sehingga bisa ditemukan tas anaknya,” kata Reynold.

Wujud Nyata Kehadiran Polri di Tengah Masyarakat

Kombes Reynold menekankan bahwa respons cepat yang diberikan oleh jajarannya bukan sekadar mengejar performa, melainkan bagian dari filosofi pelayanan Polri yang modern dan humanis. Layanan 110 dirancang agar masyarakat bisa mendapatkan bantuan instan tanpa harus datang ke kantor polisi terlebih dahulu.

“Respons cepat layanan call center 110 Polri merupakan wujud bahwa Polri hadir untuk melayani masyarakat dalam kondisi apa pun. Mohon doa dan dukungannya agar kami Kepolisian Polres Jakarta Pusat selalu bekerja melayani masyarakat dengan baik,” tutup Kombes Reynold.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa teknologi di tangan yang tepat dapat menciptakan rasa aman yang nyata. Pelayanan publik yang responsif, transparan, dan tanpa pandang bulu adalah harapan setiap warga negara, dan apa yang dialami Lia adalah bukti bahwa transformasi tersebut sedang berlangsung di tubuh kepolisian kita. TotoNews terus berkomitmen mengabarkan informasi yang akurat dan inspiratif dari berbagai penjuru tanah air.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *