IHSG Masih Tertahan di Level 6.900, Rupiah Terdepresiasi ke Titik Terendah Sepanjang Masa
TotoNews — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nampaknya masih menemui jalan terjal untuk kembali menembus level psikologis 7.000 pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan pantauan pasar, indeks domestik dibuka dengan tren melemah tipis dan masih betah berkutat di area 6.900-an.
Mengacu pada data RTI pada Selasa (7/4/2026) pukul 09.10 WIB, IHSG terpantau parkir di level 6.984,37, atau terkoreksi sekitar 0,06 persen yang setara dengan 4,48 poin. Meskipun sempat menyentuh level tertinggi di angka 7.015,89 sesaat setelah pembukaan, tekanan jual membawa indeks kembali melandai hingga menyentuh titik terendah pagi ini di level 6.976,77.
Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebanyak 2,67 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi (turnover) mencapai Rp 1,16 triliun. Secara statistik, terdapat 295 saham yang berhasil menguat, sementara 210 saham tertekan di zona merah, dan 186 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak bergerak. Dinamika investasi saham di awal kuartal ini memang terlihat cukup menantang bagi para pelaku pasar.
Strategi Baru ESDM: Ubah Formula Harga Patokan Mineral demi Dongkrak Pendapatan Negara
Tekanan Kurs Rupiah dan Aliran Modal Asing
Kondisi pasar modal Indonesia saat ini tengah dibayangi oleh sentimen negatif dari dalam negeri, terutama terkait nilai tukar mata uang. Rupiah JISDOR dilaporkan terdepresiasi hingga menyentuh angka Rp 17.037 per USD, yang merupakan level terendah sepanjang sejarah. Tekanan ini berimbas pada aksi jual investor asing yang mencatatkan outflow sebesar Rp 623 miliar di seluruh pasar ekuitas.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dalam risetnya yang diterima TotoNews menyebutkan bahwa IHSG hari ini diprediksi akan bergerak variatif dalam kisaran 6.900 hingga 7.050. Beliau menyoroti bahwa secara kumulatif sejak awal tahun, kinerja IHSG telah terkoreksi sebesar -19,17% ytd. Angka ini menempatkan Bursa Efek Indonesia di posisi ke-35 dari total 36 bursa saham yang tergabung dalam World Federation of Exchanges (WFE).
Kursi Panas Direksi BEI: Pandu Sjahrir Ungkap Kriteria Ideal Versi Danantara
Geliat Pasar Perdana dan IPO Perusahaan Baru
Di tengah lesunya pasar sekunder, optimisme datang dari sektor riil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 15 perusahaan yang masuk dalam daftar tunggu atau pipeline untuk melakukan initial public offering (IPO). Aksi korporasi ini diperkirakan mampu menghimpun dana segar hingga Rp 13,8 triliun.
Hingga awal April 2026, tercatat baru satu emiten yakni WBSA yang bergerak di sektor transportasi dan logistik yang tengah dalam masa penawaran umum. Saham ini ditawarkan pada harga Rp 168 per lembar dengan target perolehan dana mencapai Rp 302,4 miliar.
Ketegangan Geopolitik Global Jadi Penentu
Sentimen eksternal juga tak kalah sengit dalam memengaruhi psikologi pasar. Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menolak proposal gencatan senjata terbaru. Kondisi ini memicu ancaman dari Amerika Serikat terkait potensi serangan militer skala besar terhadap infrastruktur vital Iran jika negosiasi tidak membuahkan hasil hingga batas waktu yang ditentukan.
Revolusi Digital Banking: CIMB Niaga Luncurkan OCTOBIZ untuk Transformasi Bisnis Masa Depan
Di sisi lain, investor global juga tengah bersiap menanti risalah FOMC dari The Fed untuk mencermati arah kebijakan suku bunga yang dijadwalkan pada akhir April mendatang. Di pasar regional Asia sendiri, pergerakan indeks terpantau beragam; Nikkei menguat 0,16 persen, sedangkan Hang Seng harus rela terkoreksi 0,70 persen.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan cermat dalam memantau dinamika ekonomi global yang saat ini tengah berada dalam fase fluktuatif yang cukup tinggi.