Guncangan Rupiah di Level Rp 17.600: Antara Tekanan Politik Mundur dan Optimisme Stabilitas Bank Indonesia

Siti Aminah | Totonews
19 Mei 2026, 06:42 WIB
Guncangan Rupiah di Level Rp 17.600: Antara Tekanan Politik Mundur dan Optimisme Stabilitas Bank Indonesia

TotoNews — Suasana di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, mendadak tegang pada Senin siang itu. Di tengah fluktuasi ekonomi global yang kian tak menentu, sosok Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, harus berhadapan dengan hujan kritik dari para legislator. Topik utamanya tidak lain adalah anjloknya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka psikologis Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah level yang memicu alarm kewaspadaan di berbagai sektor industri dan masyarakat luas.

Kritik Pedas di Senayan: Desakan Mundur untuk Sang Gubernur

Kinerja Perry Warjiyo dalam menakhodai bank sentral kini berada di bawah mikroskop tajam parlemen. Salah satu suara paling vokal datang dari anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio. Dengan nada tegas, Primus menyarankan agar Perry mempertimbangkan untuk meletakkan jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas kondisi mata uang Garuda yang kian tak berdaya.

Baca Juga

Kurs Rupiah Mulai Pulih: Tekanan Dolar AS Melandai ke Rp 17.600 Setelah Intervensi Agresif Bank Indonesia

Kurs Rupiah Mulai Pulih: Tekanan Dolar AS Melandai ke Rp 17.600 Setelah Intervensi Agresif Bank Indonesia

Primus merujuk pada budaya integritas di negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, di mana para pejabat tinggi tak segan untuk mundur jika merasa gagal memenuhi mandat atau ketika kebijakan mereka memicu keresahan publik. Menurutnya, langkah mundur bukanlah sebuah penghinaan, melainkan tindakan ksatria atau gentleman yang justru akan meninggalkan warisan kehormatan.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang bapak mengundurkan diri. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang jika merasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik,” tegas Primus di hadapan forum rapat tersebut.

Logika Stabilitas vs Realita Level: Pembelaan Bank Indonesia

Menanggapi serangan bertubi-tubi tersebut, Perry Warjiyo tetap tenang. Ia mencoba memberikan perspektif berbeda mengenai bagaimana Bank Indonesia memandang pergerakan mata uang. Perry menegaskan bahwa fokus utama bank sentral saat ini bukanlah mempertahankan level nominal tertentu, melainkan menjaga stabilitas pergerakan atau volatilitasnya.

Baca Juga

Trump Tolak Proposal Damai Iran: Ancaman Serangan Total di Selat Hormuz Kian Nyata

Trump Tolak Proposal Damai Iran: Ancaman Serangan Total di Selat Hormuz Kian Nyata

Menurut kacamata BI, stabilitas diukur dari seberapa liar naik-turunnya nilai tukar dalam periode tertentu, yang dalam hal ini diukur menggunakan rata-rata pergerakan selama 20 hari. Perry berargumen bahwa meskipun angka nominalnya terlihat mengkhawatirkan, volatilitas rupiah secara year-to-date (ytd) masih berada di level 5,4%. Angka ini, menurutnya, masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan guncangan yang dialami oleh mata uang negara-negara berkembang lainnya.

“Kata-katanya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah. Kita bicara stabilitas, bukan level. Inilah yang kami jabarkan. Volatilitas rata-rata 20 hari kami menunjukkan angka 5,4%, yang secara faktual masih dalam kategori stabil di tengah gejolak ekonomi global yang masif,” jelas Perry mencoba meyakinkan para anggota dewan.

Baca Juga

Aksi Tegas KKP: Tiga Kapal Malaysia Tak Berkutik Diciduk Saat Jarah Ikan di Selat Malaka

Aksi Tegas KKP: Tiga Kapal Malaysia Tak Berkutik Diciduk Saat Jarah Ikan di Selat Malaka

Siklus Musiman: Mengapa April hingga Juni Selalu Berat?

Dalam narasinya, Perry juga membedah fenomena pelemahan rupiah dari sisi siklus tahunan. Ia mengklaim bahwa tekanan hebat yang terjadi pada periode April hingga Juni adalah pola musiman yang lumrah terjadi setiap tahunnya. Pada kuartal kedua, biasanya terjadi permintaan valuta asing yang tinggi untuk keperluan pembayaran dividen ke luar negeri serta pelunasan utang luar negeri yang jatuh tempo.

Dengan penuh keyakinan, Perry memproyeksikan bahwa mata uang Garuda akan kembali menemukan pijakannya dan menguat pada bulan Juli hingga Agustus mendatang. Ia optimis bahwa rata-rata nilai tukar sepanjang tahun 2026 akan tetap berada dalam rentang asumsi makro yang telah ditetapkan pemerintah dalam APBN.

Baca Juga

Lonjakan Harga BBM Hari Ini: BP Ultimate Diesel Tembus Rp 25.560 per Liter

Lonjakan Harga BBM Hari Ini: BP Ultimate Diesel Tembus Rp 25.560 per Liter

“Nilai fundamentalnya berapa? Rata-rata tahunan di Rp 16.500. Kisaran bawahnya Rp 16.200 dan batas atas Rp 16.800. Apakah BI yakin akan masuk ke rentang itu? Yakin. Pengalaman kami menunjukkan, setelah tekanan tinggi di bulan April-Juni, kondisi akan melandai dan menguat di semester kedua,” tambahnya.

Paradoks Ekonomi: Pertumbuhan Tinggi di Tengah Depresiasi

Kritik dari DPR tidak berhenti pada angka nominal dolar AS saja. Primus Yustisio menyoroti adanya anomali yang cukup ironis dalam struktur ekonomi domestik. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat cukup impresif di angka 5,61%. Namun di sisi lain, daya beli mata uang domestik justru merosot tajam terhadap hampir semua mata uang utama dunia.

Tidak hanya keok di hadapan Dolar AS, rupiah tercatat melemah terhadap Dolar Singapura, Dolar Australia, Ringgit Malaysia, hingga Euro. Primus mengingatkan memori publik pada awal tahun 2006 di mana Euro masih berada di kisaran Rp 7.000, sementara kini sudah mendekati angka Rp 20.000. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahwa ada masalah fundamental yang tidak bisa hanya dijawab dengan narasi stabilitas volatilitas semata.

Sentimen pasar yang negatif dan kekhawatiran pelaku usaha terhadap inflasi yang dipicu oleh pelemahan rupiah (imported inflation) menjadi bumbu pedas dalam perdebatan ini. Masyarakat mulai merasakan dampak nyata pada harga barang-barang impor dan biaya logistik yang kian membengkak.

Jawaban Singkat Perry Warjiyo di Istana

Usai meladeni debat panas di parlemen, Perry Warjiyo sempat terlihat di Kompleks Istana Kepresidenan untuk menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri bidang ekonomi. Pertemuan tersebut diduga kuat membahas langkah-langkah strategis untuk menahan laju depresiasi rupiah agar tidak mengganggu stabilitas makroekonomi nasional.

Saat dikonfirmasi oleh awak media mengenai desakan mundur yang dilontarkan oleh Primus Yustisio, Perry enggan memberikan jawaban panjang lebar. Sambil berjalan menuju mobil dinasnya, ia hanya melontarkan kalimat singkat yang menunjukkan keteguhannya.

“Yakin stabil,” ucapnya singkat seraya menutup pintu mobil dan meninggalkan area Istana. Jawaban minimalis ini seolah menjadi pesan bahwa BI tetap pada pendiriannya dan akan terus menggunakan instrumen moneter yang ada—mulai dari intervensi pasar hingga penyesuaian suku bunga—untuk mengawal nilai tukar rupiah di tengah badai ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Kini, publik tinggal menunggu apakah prediksi sang Gubernur akan menjadi kenyataan di bulan Juli nanti, ataukah tekanan politik dan pasar akan memaksa dilakukannya perubahan radikal di kursi pimpinan Bank Indonesia.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *