Harga Bensin Tembus Rp 70.000 Seliter, Warga Hong Kong Berbondong-bondong ‘Berburu’ BBM ke China Daratan

Bagus Setiawan | Totonews
07 Apr 2026, 14:51 WIB
Harga Bensin Tembus Rp 70.000 Seliter, Warga Hong Kong Berbondong-bondong 'Berburu' BBM ke China Daratan

TotoNews — Krisis harga energi global kian mencekik warga Hong Kong, menempatkan kota ini di puncak daftar wilayah dengan biaya hidup paling ekstrem bagi pemilik kendaraan. Bayangkan, untuk setetes bahan bakar saja, para pengendara harus merogoh kocek hingga Rp 70.000 per liter. Situasi yang kian tak terkendali ini memicu fenomena unik, di mana warga lokal memilih melakukan ‘eksodus’ singkat ke daratan China demi mendapatkan harga yang lebih manusiawi.

Rekor Harga BBM Tertinggi di Dunia

Berdasarkan pantauan tim TotoNews dari berbagai sumber otoritas energi, Hong Kong secara konsisten menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan harga bensin termahal di dunia. Gejolak geopolitik di Timur Tengah dan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi katalis utama yang melambungkan harga minyak mentah global ke level yang mengkhawatirkan.

Baca Juga

Gedung Parkir BYD di Shenzhen Terbakar, Ratusan Mobil Uji Dilaporkan Hangus

Gedung Parkir BYD di Shenzhen Terbakar, Ratusan Mobil Uji Dilaporkan Hangus

Data dari GlobalPetrolPrices.com memperkuat fakta ini. Di SPBU Shell Hong Kong, varian Shell FuelSave Unleaded yang merupakan produk paling ekonomis dibanderol sekitar 32,39 dolar Hong Kong atau setara Rp 70.234 per liter. Jika Anda menginginkan performa lebih melalui Shell V-Power Racing, bersiaplah membayar Rp 74.137 per liter. Sementara itu, bahan bakar diesel justru lebih mencekik dengan angka mencapai Rp 75.829 per liter.

Dilema Pemilik Kendaraan Pribadi

Tidak hanya Shell, kompetitor seperti Caltex juga mematok harga yang nyaris serupa untuk produk bensin jenis Gold dan Platinum mereka. Tingginya biaya bahan bakar ini, ditambah dengan biaya parkir yang selangit serta pajak registrasi kendaraan yang mahal, membuat kepemilikan mobil pribadi di Hong Kong menjadi sebuah kemewahan yang langka. Tercatat, hanya sekitar 8,4 persen penduduk yang memiliki kendaraan pribadi, sementara mayoritas lainnya sangat bergantung pada jaringan transportasi umum yang memang sudah terintegrasi dengan sangat baik.

Baca Juga

Suzuki Burgman Street 125 Resmi Meluncur: Tampil Lebih Elegan dengan Fitur Canggih, Harga Mulai Rp 18 Jutaan

Suzuki Burgman Street 125 Resmi Meluncur: Tampil Lebih Elegan dengan Fitur Canggih, Harga Mulai Rp 18 Jutaan

Fenomena Melintas Batas demi Bensin Murah

Kondisi ini melahirkan tren baru. Banyak pemilik mobil di Hong Kong yang kini rela menyeberang ke China daratan, khususnya ke kota Shenzhen. Mengapa? Karena di sana, harga BBM bisa jauh lebih murah hingga sepertiganya. Jason Kan, seorang konsultan komersial di Hong Kong, memaparkan bahwa kenaikan harga ini sangat berdampak pada pendapatan rata-rata penduduk, terutama jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Jepang atau Taiwan.

“Kenaikan sebesar 15 persen saja sudah terasa sangat berat karena harga dasarnya sudah sangat tinggi sejak awal,” ujar Kan. Hal ini memaksa warga untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau di luar perbatasan kota mereka sendiri.

Baca Juga

Era Baru Berburu Mobil Bekas: Mengapa Konsumen Milenial dan Gen Z Kini Lebih ‘Sakti’?

Era Baru Berburu Mobil Bekas: Mengapa Konsumen Milenial dan Gen Z Kini Lebih ‘Sakti’?

Sektor Logistik dan Pengantar Makanan Terpukul

Dampak dari krisis minyak ini juga dirasakan langsung oleh para pekerja sektor informal. Liu, seorang pengantar makanan yang sehari-hari menggunakan sepeda motor, mengeluhkan margin keuntungannya yang terus menipis. Bagi para pekerja seperti Liu, kenaikan operasional tidak dibarengi dengan kenaikan upah, sehingga pengeluaran untuk bensin kini mendominasi sebagian besar pendapatan harian mereka.

Para analis ekonomi merumuskan bahwa tingginya harga bensin di Hong Kong bukan hanya soal harga minyak mentah dunia, melainkan juga akibat kombinasi rumit dari pajak bahan bakar yang sangat tinggi dan terbatasnya ketersediaan lahan yang membuat biaya operasional SPBU melonjak tajam. Hingga solusi struktural ditemukan, warga Hong Kong tampaknya harus terus bertahan di tengah himpitan harga energi yang tak kunjung mereda.

Baca Juga

Denza B8: SUV Premium BYD Bertenaga Monster yang Siap Sapa Pasar Indonesia

Denza B8: SUV Premium BYD Bertenaga Monster yang Siap Sapa Pasar Indonesia
Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *