Tragedi Api di Mimika: Gereja Stasi Santo Fransiskus Ludes Terbakar, Diduga Akibat Kelalaian Lilin Altar

Rizky Ramadhan | Totonews
28 Mei 2026, 02:41 WIB
Tragedi Api di Mimika: Gereja Stasi Santo Fransiskus Ludes Terbakar, Diduga Akibat Kelalaian Lilin Altar

TotoNews — Suasana tenang di kawasan pesisir Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur, mendadak berubah menjadi mencekam ketika api dengan cepat melahap bangunan suci Gereja Katolik Stasi Santo Fransiskus. Peristiwa memilukan yang terjadi di wilayah hukum Kabupaten Mimika, Papua Tengah ini, menyisakan duka mendalam bagi umat setempat yang harus menyaksikan tempat ibadah kebanggaan mereka rata dengan tanah dalam waktu singkat.

Kronologi Kejadian: Kepulan Asap yang Mengagetkan Warga

Insiden kebakaran hebat ini dilaporkan terjadi pada hari Kamis (28/5/2026). Berdasarkan laporan lapangan tim TotoNews, api pertama kali terlihat muncul dari bagian dalam gedung gereja yang berlokasi di Kampung Pomako LS RT 03. Saksi mata yang berada di sekitar lokasi kejadian menuturkan bahwa awalnya mereka hanya melihat kepulan asap tipis yang keluar dari celah atap, namun dalam hitungan menit, asap tersebut berubah menjadi hitam pekat dan diikuti oleh lidah api yang menjilat bagian dinding.

Baca Juga

Terbongkarnya Jaringan Obat Keras di Jantung Bekasi: Polsek Babelan Ringkus Pengedar di Kawasan Padat Penduduk

Terbongkarnya Jaringan Obat Keras di Jantung Bekasi: Polsek Babelan Ringkus Pengedar di Kawasan Padat Penduduk

Kapolsek Kawasan Pelabuhan Pomako, Iptu Fits Gerald M Nalohy, memberikan keterangan resmi terkait musibah ini. Menurutnya, keterangan yang dihimpun dari para saksi di lokasi kejadian mengonfirmasi bahwa kobaran api menyebar dengan sangat agresif. Faktor cuaca dan konstruksi bangunan menjadi kombinasi yang mematikan dalam peristiwa kebakaran hebat ini. Angin yang bertiup cukup kencang dari arah timur seolah memberikan suplai oksigen bagi api untuk terus merambat ke seluruh penjuru gedung.

Konstruksi Kayu dan Tantangan Pemadaman yang Pelik

Salah satu penyebab mengapa api begitu sulit dikendalikan adalah material bangunan gereja itu sendiri. Gereja Stasi Santo Fransiskus diketahui memiliki konstruksi yang didominasi oleh bahan-bahan yang mudah terbakar. “Bangunan gereja sebagian besar terbuat dari bahan kayu, papan, hingga anyaman bambu pada bagian dindingnya. Material-material organik ini sangat rentan ketika terkena panas ekstrem,” jelas Iptu Fits dalam keterangannya kepada media.

Baca Juga

Ironi di Jalur Pedestrian: Satpol PP DKI Jakarta Minta Maaf Usai Mobil Dinas Parkir di Trotoar Viral

Ironi di Jalur Pedestrian: Satpol PP DKI Jakarta Minta Maaf Usai Mobil Dinas Parkir di Trotoar Viral

Upaya warga untuk melakukan pemadaman secara mandiri pun menemui jalan buntu yang tragis. Di saat warga berbondong-bondong membawa peralatan seadanya, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kondisi air laut di Kampung Pomako sedang dalam keadaan surut. Fenomena alam ini membuat akses terhadap sumber air menjadi sangat terbatas, padahal ketersediaan air yang melimpah sangat krusial untuk menjinakkan api yang sudah membumbung tinggi di Kabupaten Mimika tersebut.

Penyebab Utama: Dugaan Kelalaian Lilin Pasca-Ibadah

Setelah dilakukan penyelidikan awal dan pengumpulan informasi dari pengurus gereja, muncul dugaan kuat mengenai asal muasal api. Iptu Fits mengungkapkan bahwa api disinyalir berasal dari sebuah lilin yang dinyalakan di depan altar. Lilin tersebut digunakan oleh umat untuk berdoa, namun diduga kuat lupa dipadamkan setelah aktivitas ibadah atau doa pribadi selesai dilakukan.

Baca Juga

Jejak Pelarian Mafia Valas: Bareskrim Bekuk Pelaku Penggelapan Rp 1,2 Miliar di Jakarta Barat

Jejak Pelarian Mafia Valas: Bareskrim Bekuk Pelaku Penggelapan Rp 1,2 Miliar di Jakarta Barat

Lilin yang masih menyala tersebut diduga terjatuh atau panasnya merambat ke alas yang mudah terbakar, yang kemudian memicu percikan api awal di area altar. “Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara dan keterangan saksi-saksi, disimpulkan bahwa penyebab utama kebakaran adalah lilin yang tidak dipadamkan dengan sempurna dan diletakkan di posisi yang kurang aman,” tambah Iptu Fits. Hal ini menjadi pengingat keras bagi semua pengelola fasilitas umum dan tempat ibadah akan pentingnya protokol keamanan api.

Dampak Kerugian Materiil dan Moril

Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini, kerugian materiil yang diderita oleh pihak gereja sangatlah besar. Berdasarkan estimasi sementara, kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Seluruh bangunan fisik gereja hangus tak bersisa, termasuk benda-benda liturgi yang dianggap sakral oleh umat Katolik.

Baca Juga

Misi Damai Pakistan: Mengurai Benang Kusut Perang AS-Israel dan Iran Lewat ‘Kesepakatan Islamabad’

Misi Damai Pakistan: Mengurai Benang Kusut Perang AS-Israel dan Iran Lewat ‘Kesepakatan Islamabad’
  • Meja altar yang menjadi pusat peribadatan ludes terbakar.
  • Ratusan kursi kayu untuk jemaat berubah menjadi abu.
  • Buku-buku lagu dan perlengkapan liturgi lainnya tidak sempat diselamatkan.
  • Dokumen-dokumen penting milik stasi juga dilaporkan ikut hangus.

Kehilangan ini bukan sekadar soal angka rupiah, melainkan hilangnya pusat aktivitas spiritual warga Kampung Pomako. Gereja ini selama ini berfungsi sebagai ruang komunal bagi masyarakat untuk memperkuat iman dan menjalin tali persaudaraan di tengah keberagaman Papua Tengah.

Harapan Akan Uluran Tangan dan Pembangunan Kembali

Saat ini, puing-puing sisa kebakaran masih berserakan di lokasi kejadian. Sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran memang sempat tiba di lokasi, namun api yang terlalu besar telah menghanguskan sebagian besar struktur sebelum proses pendinginan maksimal bisa dilakukan. Kini, harapan satu-satunya warga adalah adanya bantuan dari berbagai pihak untuk membangun kembali tempat ibadah mereka.

Masyarakat Kampung Pomako sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah daerah maupun para dermawan untuk memberikan bantuan pembangunan gereja. Tanpa gedung yang memadai, kegiatan ibadah rutin dan pembinaan umat di distrik tersebut dipastikan akan terganggu untuk waktu yang cukup lama. Solidaritas antarumat beragama dan kepedulian sosial sangat dibutuhkan untuk memulihkan kembali semangat warga pasca-tragedi ini.

Pelajaran Berharga Tentang Keamanan Bangunan

Peristiwa yang menimpa Gereja Stasi Santo Fransiskus ini menjadi pelajaran penting mengenai standarisasi keamanan bangunan, terutama untuk gedung-gedung yang menggunakan material kayu. Penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan edukasi mengenai bahaya kebakaran akibat benda kecil seperti lilin harus terus ditingkatkan.

Pihak kepolisian setempat pun mengimbau kepada seluruh pengurus tempat ibadah agar selalu melakukan pengecekan ganda terhadap kondisi kelistrikan maupun sumber api seperti lilin dan dupa sebelum meninggalkan ruangan. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan, demi menjaga keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat luas di wilayah Papua dan sekitarnya.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *