Tragedi Daycare Little Aresha: Jeritan Hati Orang Tua Korban PTSD dan Mimpi Buruk di Balik Penitipan Anak

Rizky Ramadhan | Totonews
09 Jun 2026, 16:42 WIB
Tragedi Daycare Little Aresha: Jeritan Hati Orang Tua Korban PTSD dan Mimpi Buruk di Balik Penitipan Anak

TotoNews — Suasana haru sekaligus mencekam menyelimuti ruang rapat Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026). Di tengah heningnya persidangan, terdengar getaran suara para orang tua yang selama ini menyimpan luka mendalam. Mereka bukan sekadar mengadu, melainkan menumpahkan duka lara atas dugaan penyiksaan yang dialami buah hati mereka di Daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta. Kasus ini bukan lagi sekadar berita kriminal biasa, melainkan sebuah alarm keras mengenai keamanan anak di institusi penitipan yang seharusnya menjadi rumah kedua yang nyaman.

Satu per satu kesaksian mulai terungkap, membeberkan tabir gelap di balik dinding daycare tersebut. Kekerasan anak yang terjadi diduga telah meninggalkan bekas permanen, baik secara fisik maupun psikologis, yang mungkin akan dibawa oleh para korban hingga mereka dewasa. Rapat Dengar Pendapat (RDP) ini menjadi panggung bagi para orang tua untuk mencari keadilan di tengah bayang-bayang trauma yang tak kunjung usai.

Baca Juga

Tema Hari Lansia Nasional 2026: Mewujudkan Generasi Emas yang Sehat dan Mandiri di Usia Senja

Tema Hari Lansia Nasional 2026: Mewujudkan Generasi Emas yang Sehat dan Mandiri di Usia Senja

Kesaksian Memilukan: Tiga Tahun dalam Bayang-Bayang Ketakutan

Ismanto, salah satu orang tua korban yang hadir secara daring, memberikan pernyataan yang menyayat hati. Anaknya telah dititipkan di Daycare Little Aresha selama kurang lebih tiga tahun satu bulan. Selama kurun waktu tersebut, ia menyaksikan perubahan drastis yang semula ia anggap sebagai proses pertumbuhan biasa, namun ternyata merupakan sinyal bahaya dari kondisi psikologis yang hancur. Ismanto mengungkapkan bahwa anaknya kini mengalami perubahan temperamen yang sangat signifikan.

“Kondisi anak kami secara fisik maupun psikis mengalami perubahan yang sangat mengkhawatirkan. Ia menjadi sangat mudah marah dan temperamental. Yang paling menyedihkan adalah ketakutannya yang luar biasa terhadap orang baru,” ungkap Ismanto dengan nada bicara yang berat. Selain itu, anaknya sering kali berteriak histeris di tengah malam, sebuah fenomena yang dikenal sebagai night terrors, yang dipicu oleh trauma psikologis mendalam.

Baca Juga

Prabowo Subianto Waspadai Ancaman Hoaks AI: Kisah di Balik Pidato Mandarin dan Suara Nyanyian Palsu

Prabowo Subianto Waspadai Ancaman Hoaks AI: Kisah di Balik Pidato Mandarin dan Suara Nyanyian Palsu

Ismanto juga menceritakan kebiasaan aneh yang muncul pada anaknya, yaitu selalu ingin tidur di lantai keramik yang dingin. Setelah ditelusuri lebih lanjut melalui bukti-bukti video yang sempat viral, barulah terungkap bahwa selama berada di daycare, anak-anak diduga tidak diberikan fasilitas tidur yang layak di atas kasur, melainkan dipaksa tidur di atas lantai keramik yang keras. Hal ini memicu kecurigaan bahwa pola asuh yang diterapkan di sana jauh dari kata manusiawi.

Luka Fisik yang Nyata: Dari Stunting hingga Pneumonia

Tak hanya luka batin, dampak fisik yang dialami anak Ismanto jauh lebih mengerikan. Di usianya yang menginjak 3 tahun 3 bulan, berat badan sang anak hanya menyentuh angka 10 kilogram. Secara medis, kondisi ini masuk dalam kategori gizi buruk atau stunting yang cukup parah. Garis merah pada kartu menuju sehat menjadi bukti nyata bahwa nutrisi dan perhatian yang dijanjikan pihak daycare hanyalah isapan jempol belaka.

Baca Juga

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Menakar Ulang Makna Bernegara di Tengah Arus Modernitas

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Menakar Ulang Makna Bernegara di Tengah Arus Modernitas

Kisah pilu berlanjut saat Ismanto menceritakan kondisi kesehatan anaknya di masa bayi. Pada usia empat hingga lima bulan, sang buah hati didiagnosa menderita pneumonia. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa mantan pengasuh, terungkap fakta mengejutkan bahwa bayi sekecil itu dimandikan dengan air dingin tanpa pemanas. “Informasi yang kami terima, anak kami tidak dimandikan dengan air hangat meski usianya baru beberapa bulan. Ini benar-benar di luar nalar kami sebagai orang tua,” tuturnya pedih.

Kejadian fisik lainnya yang tak kalah mengerikan adalah munculnya luka melepuh di tangan korban tanpa alasan yang jelas, hingga insiden mimisan atau darah yang keluar dari hidung saat anak tersebut pulang dari daycare. Kejadian-kejadian ini membentuk sebuah pola dugaan penganiayaan anak yang terstruktur dan sistematis di dalam lembaga tersebut.

Baca Juga

Trump vs Paus Leo XIV: Pesan Menohok dari Gedung Putih Tentang Realitas Dunia yang Kejam

Trump vs Paus Leo XIV: Pesan Menohok dari Gedung Putih Tentang Realitas Dunia yang Kejam

Diagnosis PTSD: Luka Tak Terlihat yang Menghancurkan Masa Kecil

Selain Ismanto, seorang ibu bernama Usi juga membagikan pengalaman traumatis yang dialami oleh kedua anaknya. Setelah membawa anak-anaknya ke psikiater, diagnosis yang keluar sungguh meruntuhkan dunianya: Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. Penyakit mental yang biasanya diasosiasikan dengan korban perang atau bencana besar kini diderita oleh anak-anak balita yang tak berdosa.

“Dua-duanya didiagnosis PTSD. Mereka sekarang harus menjalani terapi berkelanjutan setiap minggu. Ini bukan sekadar trauma biasa, ini adalah luka dalam yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh,” kata Usi di hadapan anggota dewan. Gejala yang ditunjukkan anak-anak Usi sangat mengkhawatirkan; mereka menjadi agresif, suka menjambak, mencubit, bahkan melakukan tindakan kekerasan yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal di lingkungan rumah.

Usi menambahkan bahwa perilaku anak-anaknya berubah menjadi aneh, seperti gemar melepas pampers sembarangan dan memiliki kecenderungan untuk tidur di lantai. Hal ini mengonfirmasi testimoni orang tua lain mengenai kondisi lingkungan di Little Aresha yang tidak memberikan kenyamanan dasar bagi anak-anak. Kesehatan mental anak menjadi taruhan utama dalam kasus yang kini tengah ditangani oleh pihak berwajib ini.

Ironi Fasilitas Mewah dan Manipulasi Kepercayaan Orang Tua

Salah satu poin yang paling menyakitkan bagi para orang tua adalah rasa dikhianati. Usi mengaku telah melakukan survei mendalam pada tahun 2021 sebelum memutuskan menitipkan anaknya di sana. Saat itu, Daycare Little Aresha menawarkan fasilitas yang terlihat sangat ideal, program pendidikan yang tertata, dan lingkungan yang tampak aman, terutama di masa pandemi COVID-19 yang menuntut standar kebersihan tinggi.

Namun, kenyataan di lapangan berbanding terbalik 180 derajat. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah kedok untuk menarik minat orang tua. Di balik pintu tertutup, anak-anak mengalami penderitaan yang tak terbayangkan. “Ternyata anak saya dan semua anak di sana tidak berada di tempat yang sesuai dengan bayangan saya saat survei dulu. Kami merasa terjebak dalam fasad yang mereka bangun,” keluh Usi.

Ketimpangan antara janji manis manajemen dengan realitas di lapangan menunjukkan perlunya audit ketat terhadap operasional daycare di Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Kepercayaan orang tua yang menitipkan aset paling berharga dalam hidup mereka, yakni anak-anak, seharusnya dijaga dengan integritas tinggi, bukan justru disalahgunakan untuk keuntungan sepihak dengan mengabaikan hak-hak dasar anak.

Mendesak Keadilan dan Regulasi yang Lebih Ketat

Kehadiran para orang tua di DPR RI merupakan langkah besar untuk menuntut pertanggungjawaban. Mereka berharap pemerintah, melalui kementerian terkait dan aparat penegak hukum, dapat menindak tegas para pelaku dan pemilik daycare yang terlibat. Kasus Little Aresha harus menjadi titik balik bagi perbaikan regulasi lembaga penitipan anak di Indonesia.

Komisi VIII DPR RI pun diharapkan dapat mendorong standarisasi perizinan yang lebih ketat, di mana aspek psikologis pengasuh dan pengawasan CCTV yang dapat diakses orang tua secara real-time menjadi syarat mutlak. Tidak boleh ada lagi anak yang harus tidur di lantai keramik atau mengalami stunting akibat kelalaian lembaga yang dibayar mahal oleh orang tua mereka.

Perjuangan para orang tua ini belum berakhir. Proses hukum yang sedang berjalan diharapkan dapat memberikan keadilan yang seadil-adilnya, serta memberikan efek jera agar tidak ada lagi “Little Aresha” lainnya di masa depan. Bagi para korban, perjalanan menuju kesembuhan dari PTSD dan trauma fisik masih sangat panjang, namun dukungan dari masyarakat dan negara menjadi secercah harapan bagi masa depan mereka yang sempat terenggut.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *