Sentilan Keras Presiden Prabowo untuk Akademisi: Mengapa Setelah 81 Tahun RI Belum Mampu Produksi Mobil Sendiri?

Rizky Ramadhan | Totonews
26 Jun 2026, 20:42 WIB
Sentilan Keras Presiden Prabowo untuk Akademisi: Mengapa Setelah 81 Tahun RI Belum Mampu Produksi Mobil Sendiri?

TotoNews — Di tengah hiruk-pikuk transformasi ekonomi global, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebuah pertanyaan retoris yang cukup menohok sekaligus menggugah kesadaran kolektif bangsa. Dalam sebuah forum bergengsi, orang nomor satu di Indonesia tersebut menantang para pakar, intelektual, dan praktisi industri untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia yang sudah menginjak usia 81 tahun. Namun, di balik usia yang matang tersebut, Indonesia dinilai masih tertatih dalam mewujudkan mimpi besarnya: memiliki mobil nasional hasil karya anak bangsa sepenuhnya.

Refleksi Kritis di Panggung KSTI 2026

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam gelaran Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Dengan gaya bicaranya yang lugas dan penuh energi, Prabowo menegaskan bahwa ketergantungan pada produk asing harus segera diakhiri melalui penguatan inovasi teknologi di dalam negeri.

Baca Juga

Menagih Janji Emansipasi: Lestari Moerdijat Tekankan Kebebasan Berpikir Perempuan Belum Sepenuhnya Terwujud

Menagih Janji Emansipasi: Lestari Moerdijat Tekankan Kebebasan Berpikir Perempuan Belum Sepenuhnya Terwujud

Prabowo menceritakan rutinitasnya yang kerap menyambangi berbagai kampus dan pusat riset untuk berdialog dengan orang-orang paling cerdas di negeri ini. Ia mengaku sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan strategis kepada para profesor dari berbagai institusi ternama, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB). Fokusnya jelas: mengapa Indonesia, dengan segala kekayaan alam dan sumber daya manusianya, masih terjebak dalam pusaran impor untuk kebutuhan-kebutuhan yang seharusnya bisa diproduksi sendiri.

Paradoks Industri Otomotif: Konsumen Besar, Produsen Kecil

Salah satu poin paling tajam yang disorot oleh Prabowo adalah fenomena industri otomotif. Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar kendaraan bermotor terbesar di dunia. Setiap tahunnya, jutaan unit motor dan mobil terjual di tanah air. Namun, Prabowo menyayangkan fakta bahwa sebagian besar dari kendaraan tersebut bukanlah merk asli Indonesia.

Baca Juga

Aksi Licin Komplotan Ganjal ATM di Jakarta Timur Terbongkar, Saldo Rp 274 Juta Ludes Sekejap

Aksi Licin Komplotan Ganjal ATM di Jakarta Timur Terbongkar, Saldo Rp 274 Juta Ludes Sekejap

“Saya berdiri di depan saudara-saudara sekalian yang menyandang gelar PhD. Kita ini membeli 10 juta motor setiap tahunnya, tapi kenapa kita tidak punya pabrik sendiri yang memproduksi motor buatan Indonesia?” tanya Prabowo dengan nada retoris. Baginya, angka konsumsi yang masif ini seharusnya menjadi momentum bagi para akademisi dan industri untuk berkolaborasi menciptakan kemandirian ekonomi di sektor transportasi.

Ia menekankan bahwa penguasaan teknologi otomotif bukan sekadar soal kebanggaan, melainkan simbol kemajuan peradaban sebuah bangsa. Selama 81 tahun merdeka, transisi dari negara konsumen menjadi negara produsen dirasa berjalan terlalu lambat, dan Prabowo ingin mengakselerasi proses tersebut dengan menuntut kontribusi nyata dari kalangan universitas.

Ketahanan Pangan dan Dilema Impor Gandum

Tidak hanya bicara soal mesin dan besi, Presiden juga menyentuh aspek fundamental lainnya, yaitu ketahanan pangan. Ia mempertanyakan ketergantungan Indonesia pada impor gandum yang terus membengkak. Dalam diskusinya dengan para pakar pertanian, Prabowo mendesak agar riset mengenai benih unggul lokal terus dipercepat.

Baca Juga

Perlawanan Delpedro Marhaen dkk Berlanjut: Serahkan Kontra Memori Kasasi demi Keadilan dan Kebebasan

Perlawanan Delpedro Marhaen dkk Berlanjut: Serahkan Kontra Memori Kasasi demi Keadilan dan Kebebasan

“Kenapa kita tidak bisa punya benih gandum sendiri? Kenapa kita harus terus-menerus mengimpor?” tanyanya lagi. Pertanyaan ini merujuk pada pentingnya diversifikasi pangan dan inovasi bioteknologi agar Indonesia tidak rentan terhadap gejolak pasokan global. Menurutnya, para profesor di bidang pertanian memikul tanggung jawab besar untuk menjawab tantangan kedaulatan pangan ini melalui riset yang aplikatif, bukan sekadar teori di atas kertas.

Efisiensi Sawit: Belajar dari Tetangga

Sektor perkebunan pun tak luput dari pengamatannya. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia seharusnya berada di posisi puncak dalam hal produktivitas. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Prabowo membandingkan produktivitas per hektar lahan sawit Indonesia dengan Malaysia yang dinilainya lebih unggul.

Baca Juga

Kabar Gembira bagi Warga Jakarta: Program Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Resmi Dimulai, Simak Ketentuannya!

Kabar Gembira bagi Warga Jakarta: Program Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Resmi Dimulai, Simak Ketentuannya!

Perbedaan efisiensi ini menjadi indikator bahwa ada celah dalam penerapan sains dan teknologi di lapangan. Ia mendorong agar sektor perkebunan Indonesia melakukan modernisasi besar-besaran. Pemanfaatan data presisi, mekanisasi, dan pemuliaan tanaman harus menjadi prioritas agar daya saing nasional tidak tergerus oleh negara tetangga.

Apresiasi untuk Langkah Awal yang Positif

Meski banyak memberikan kritik membangun, Prabowo tidak menutup mata terhadap progres yang telah dicapai oleh beberapa perguruan tinggi. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada kampus-kampus yang sudah mulai berani melangkah ke ranah produksi industri. Ia melihat ada secercah harapan bahwa Indonesia sedang bergerak menuju arah yang benar.

Salah satu momen paling emosional yang ia bagikan adalah perasaan bangganya saat menggunakan mobil buatan dalam negeri pada momen pelantikannya. “Ada kepuasan yang mendalam di hati saya waktu saya dilantik. Saya pulang dari pelantikan dan bisa menaiki mobil buatan Indonesia,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur. Momen tersebut menjadi simbol nyata bahwa visi produk lokal yang kompetitif bukanlah sekadar mimpi jika ada kemauan politik dan dukungan sains yang kuat.

Menantang Kaum Intelektual Keluar dari Menara Gading

Inti dari pidato Prabowo kali ini adalah ajakan bagi kaum intelektual untuk tidak lagi berdiam diri di dalam “menara gading”. Ia ingin agar ilmu pengetahuan yang dipelajari di kampus-kampus bisa langsung diimplementasikan dalam bentuk industri nyata yang menyerap tenaga kerja dan mengurangi ketergantungan impor.

Prabowo percaya bahwa guru besar dan pemegang gelar doktor adalah orang-orang terpintar di negeri ini. Oleh karena itu, solusi atas masalah kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan industri seharusnya lahir dari pemikiran mereka yang kemudian didukung penuh oleh pemerintah. Ia menjanjikan bahwa pemerintah akan senantiasa membuka pintu bagi para inovator yang ingin memajukan industri strategis nasional.

Menuju Indonesia Emas dengan Kemandirian Industri

Sebagai penutup, tantangan yang dilontarkan Presiden Prabowo di KSTI 2026 ini menjadi pengingat keras bahwa waktu terus berjalan. Target Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan retorika, melainkan dengan kerja keras di laboratorium, bengkel-bengkel kerja, dan pabrik-pabrik lokal. Pembangunan nasional harus didasarkan pada fondasi sains dan teknologi yang kuat.

Pertanyaan “Kenapa Indonesia belum bisa bikin mobil sendiri?” bukan lagi sekadar pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan tentang harga diri bangsa. Dengan dorongan kepemimpinan yang kuat dari Prabowo Subianto, kini bola panas berada di tangan para akademisi dan pelaku industri. Mampukah Indonesia menjawab tantangan tersebut sebelum satu abad kemerdekaannya tiba? Hanya waktu dan kerja nyata yang akan menjawabnya.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *