Jejak Diplomasi dan Harmoni: Menyelami Kedalaman Hubungan Indonesia-Korea Selatan dari Jantung Seoul

Rizky Ramadhan | Totonews
25 Jun 2026, 22:41 WIB
Jejak Diplomasi dan Harmoni: Menyelami Kedalaman Hubungan Indonesia-Korea Selatan dari Jantung Seoul

TotoNews — Sisa-sisa kesejukan musim semi masih menggelayut di udara saat pesawat yang kami tumpangi menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Incheon. Musim panas memang belum sepenuhnya bertahta, namun kehangatan sambutan Negeri Ginseng sudah terasa sejak langkah pertama. Perjalanan selama sepekan di pertengahan Juni ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah misi mendalam untuk membedah anatomi hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan yang telah terjalin selama setengah abad.

Melalui program The Indonesian Next Generation Journalist Network yang diinisiasi oleh Korea Foundation bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), TotoNews berkesempatan mengeksplorasi sudut-sudut strategis Seoul. Perjalanan ini menjadi cermin betapa eratnya persahabatan dua negara yang melampaui batas geografis, menyatukan visi dalam harmoni budaya dan kepentingan diplomasi internasional.

Baca Juga

Babak Baru Timur Tengah: TotoNews Bedah Draf Damai Iran-AS dan Masa Depan Selat Hormuz

Babak Baru Timur Tengah: TotoNews Bedah Draf Damai Iran-AS dan Masa Depan Selat Hormuz

Awal Perjalanan: Antara Tradisi di Samcheonggak dan Narasi Sejarah di Museum Nasional

Destinasi pertama kami adalah Samcheonggak, sebuah oase budaya di tengah modernitas Seoul. Di sini, Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, menyambut rombongan jurnalis dengan jamuan makan siang yang penuh keakraban. Di tengah arsitektur tradisional yang megah, percakapan mengalir ringan namun berisi, membahas bagaimana media berperan penting sebagai jembatan informasi antar bangsa.

Tak jauh dari sana, narasi sejarah Korea Selatan tersaji dengan apik di Museum Nasional Korea. Di dalam aula yang luas, mata kami tertuju pada sebuah monumen bisu yang penuh makna: Pagoda Batu Sepuluh Tingkat dari masa Dinasti Goryeo. Pagoda ini bukan sekadar tumpukan batu artistik, melainkan simbol ketangguhan bangsa. Pernah dibawa secara ilegal ke Jepang pada tahun 1907, perjuangan panjang rakyat Korea akhirnya berhasil memulangkan benda bersejarah ini ke pangkuannya pada tahun 1918. Kisah ini mengingatkan kita pada pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi.

Baca Juga

Harapan Baru dari Rimba Tesso Nilo: Mengenal ‘Nona Seroja’, Sang Simbol Ketangguhan Gajah Sumatera

Harapan Baru dari Rimba Tesso Nilo: Mengenal ‘Nona Seroja’, Sang Simbol Ketangguhan Gajah Sumatera

Menelisik Dapur Diplomasi di Majelis Nasional

Memasuki hari kedua, fokus beralih ke aspek politik luar negeri. Kami diterima langsung oleh Gi-hyeon Kim, Ketua Komite Persahabatan Majelis Nasional Korea Selatan-Indonesia. Pertemuan yang digelar di ruang Komite Urusan Diplomasi dan Unifikasi ini memberikan sinyal kuat betapa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang tak terpisahkan.

“Tempat ini adalah ruang di mana keputusan-keputusan diplomasi besar diambil, dan kami merasa sangat terhormat menjamu rekan-rekan jurnalis dari Indonesia di sini,” ujar Gi-hyeon dengan nada ramah. Ia menekankan bahwa hubungan diplomatik yang dimulai sejak 1973 kini telah bermetamorfosis menjadi ikatan emosional. Dengan sekitar 77 ribu warga Indonesia di Korea dan 27 ribu warga Korea di Indonesia, interaksi antarmanusia (people-to-people exchange) menjadi fondasi yang kian kokoh.

Baca Juga

Operasi Senyap di Kebon Jeruk: Polda Metro Jaya Ringkus Pengedar dan Sita Ratusan Gram Sabu

Operasi Senyap di Kebon Jeruk: Polda Metro Jaya Ringkus Pengedar dan Sita Ratusan Gram Sabu

Gi-hyeon juga sempat mengenang kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan. Baginya, pertemuan tersebut mempertegas komitmen kedua negara untuk saling mendukung di panggung global. Keberadaan fenomena budaya populer seperti K-Pop dan drama Korea di Indonesia juga disebutnya sebagai perekat alami yang membuat masyarakat kedua negara merasa saling memiliki.

Status Istimewa: Special Comprehensive Strategic Partnership

Perjalanan berlanjut ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul. Di sana, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, memaparkan fakta menarik yang jarang diketahui publik. Indonesia ternyata memegang status yang sangat istimewa di mata Seoul. Hubungan kedua negara telah ditingkatkan menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership.

Baca Juga

Dedikasi Nyata untuk Sumatera Barat, Andre Rosiade Sabet Penghargaan Legislator Penggerak Pembangunan di KWP Awards 2026

Dedikasi Nyata untuk Sumatera Barat, Andre Rosiade Sabet Penghargaan Legislator Penggerak Pembangunan di KWP Awards 2026

“Jika boleh saya katakan, Indonesia adalah satu-satunya mitra diplomatik Korea Selatan yang memiliki tingkatan hubungan seistimewa ini. Ini bukan sekadar label, melainkan pengakuan atas kepercayaan mendalam (deep trust) antara kedua negara,” jelas Dubes Cecep. Status ini membuka pintu lebar bagi kerja sama di berbagai lini, mulai dari ketahanan pangan, transisi energi, hingga inovasi teknologi mutakhir.

Sinergi Baja: Industri Pertahanan dan Proyek Jet Tempur KF-21

Salah satu pilar terkuat dalam hubungan ini adalah sektor industri pertahanan. Korea Selatan bukan sekadar penjual alutsista bagi Indonesia. Kemitraan ini telah berkembang menjadi kolaborasi produksi dan transfer teknologi. Kita mengenal KRI Mandau, pesawat latih KT-1, hingga kapal selam kelas Nagapasa yang memperkuat kedaulatan laut kita.

Namun, mahkota dari kerja sama ini adalah proyek pengembangan jet tempur generasi terbaru, KF-21 Boramae. Indonesia tidak hanya menyumbangkan pendanaan, tetapi juga mengirimkan insinyur dan pilot terbaik untuk terlibat langsung dalam proses pengembangannya di Korea Selatan. Ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia diakui sebagai mitra setara dalam pengembangan teknologi militer tingkat tinggi.

Filosofi ‘BMW’: Rahasia Mobilitas dan Modernitas Seoul

Selain urusan formal, TotoNews juga mengamati denyut nadi kehidupan warga Seoul yang unik. Di sini, istilah ‘BMW’ memiliki arti yang berbeda: Bus, Metro, and Walk (Bus, Kereta Bawah Tanah, dan Jalan Kaki). Budaya mobilitas ini mencerminkan efisiensi dan disiplin tinggi masyarakat Korea Selatan.

Kunjungan ke Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) membuka wawasan kami tentang bagaimana manajemen kota yang cerdas bisa diintegrasikan dengan investasi ekonomi. Indonesia, yang tengah membangun Ibu Kota Nusantara (IKN), tentu dapat memetik banyak pelajaran dari cara Korea mengelola infrastruktur perkotaannya. Investasi asing dan pembangunan berkelanjutan menjadi topik hangat yang terus didalami dalam sesi diskusi bersama para pakar dari The Sejong Institute.

Membangun Masa Depan Melalui Jurnalisme

Perjalanan ini ditutup dengan sesi berbagi bersama para jurnalis lokal Korea Selatan di Kementerian Luar Negeri. Kami berdiskusi tentang tantangan jurnalisme di era kecerdasan buatan (AI) dan bagaimana media dapat terus menyuarakan kebenaran di tengah gempuran disinformasi. Ternyata, tantangan yang dihadapi jurnalis di Seoul dan Jakarta memiliki banyak kemiripan, mulai dari tuntutan kecepatan berita hingga adaptasi teknologi digital.

Melalui pandangan mata TotoNews selama sepekan di Korea Selatan, terlihat jelas bahwa hubungan kedua negara bukan hanya soal angka perdagangan atau kontrak militer. Ini adalah tentang visi bersama untuk menciptakan kawasan Asia yang stabil, makmur, dan saling menghargai. Dari aroma makanan di Samcheonggak hingga deru mesin jet KF-21, persahabatan Indonesia-Korea Selatan adalah sebuah simfoni yang akan terus bergema di masa depan.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *