Rahasia di Balik ‘Bukit Firaun’: Struktur Misterius Ditemukan Terkubur 6 Meter di Bawah Tanah Mesir

Andini Putri Lestari | Totonews
12 Apr 2026, 06:13 WIB
Rahasia di Balik 'Bukit Firaun': Struktur Misterius Ditemukan Terkubur 6 Meter di Bawah Tanah Mesir

TotoNews — Tanah Mesir kembali membuktikan bahwa ia masih menyimpan ribuan rahasia yang terkunci rapat di balik lapisan debu sejarah. Baru-baru ini, sebuah penemuan fenomenal mengguncang dunia arkeologi internasional setelah sebuah struktur raksasa yang terkubur hingga kedalaman enam meter berhasil diidentifikasi di kawasan Buto, Mesir Utara. Terletak di situs Tell el-Fara’in yang legendaris atau yang lebih dikenal sebagai ‘Bukit Para Firaun’, penemuan ini membuka tabir baru mengenai kehidupan religius di masa lampau.

Teknologi Satelit Menguak Tabir Tersembunyi

Penemuan luar biasa ini tidak terjadi secara kebetulan. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Mohamed Abouarab memanfaatkan kecanggihan teknologi radar dari satelit Sentinel-1 untuk memindai area tersebut. Hasilnya mengejutkan; anomali pada permukaan tanah mengindikasikan adanya sebuah bangunan masif yang telah lama hilang ditelan waktu. Tim kemudian melakukan validasi menggunakan teknik Electrical Resistivity Tomography (ERT), sebuah metode yang mengalirkan arus listrik untuk memetakan apa yang ada di bawah lapisan tanah secara akurat.

Baca Juga

Jejak Misterius Gua Son Doong: Kisah Ho Khanh Menemukan Keajaiban Dunia yang Sempat Terlupakan

Hasil pemindaian mengonfirmasi keberadaan struktur berbahan bata lumpur seluas kurang lebih 500 meter persegi. Terkubur di kedalaman tiga hingga enam meter, bangunan ini tertutup rapat oleh akumulasi puing dan fragmen keramik yang menumpuk selama berabad-abad, menjadikannya sebuah kapsul waktu dari peradaban kuno yang sangat terjaga keasliannya.

Jejak Ritual dari Era Dinasti Terakhir

Berdasarkan analisis kronologis, para ahli meyakini bahwa bangunan ini berasal dari periode Saite, sekitar 2.600 tahun yang lalu. Ini merupakan babak krusial dalam sejarah Mesir kuno, menandai periode kejayaan terakhir para penguasa asli Mesir sebelum akhirnya jatuh ke tangan penaklukan Persia. Fungsi dari struktur ini pun mulai terkuak seiring ditemukannya berbagai artefak suci di lokasi penggalian.

Baca Juga

Ancaman Penghapusan Grok dari App Store: Apple Tegas Lawan Konten Deepfake Tanpa Konsensus

Ancaman Penghapusan Grok dari App Store: Apple Tegas Lawan Konten Deepfake Tanpa Konsensus

Di dalam situs tersebut, para arkeolog menemukan altar pemujaan serta berbagai jimat dan patung kecil yang merepresentasikan dewa-dewi agung seperti Isis, Horus, dan Wadjet. Penemuan ini memperkuat dugaan kuat bahwa bangunan tersebut dulunya merupakan pusat kegiatan ritual atau sebuah kompleks keagamaan penting yang melayani kebutuhan spiritual masyarakat di sekitar Delta Nil pada masanya.

Eksplorasi yang Masih Berlanjut

Meski penemuan seluas 500 meter persegi ini sudah sangat signifikan, para peneliti menduga bahwa ini hanyalah ‘puncak gunung es’. Tantangan geografis di Delta Nil yang memiliki tanah liat tebal dan kondisi tanah yang kompleks seringkali menyulitkan penggalian konvensional. Namun, dengan bantuan teknologi satelit terbaru, tim optimis bahwa masih ada struktur-struktur lain yang lebih besar yang masih menanti untuk ditemukan di kedalaman yang lebih dalam.

Baca Juga

Dominasi Pasar Komersial: Ambisi Besar Asus Menjadi Penguasa Laptop Bisnis di Indonesia pada 2027

Dominasi Pasar Komersial: Ambisi Besar Asus Menjadi Penguasa Laptop Bisnis di Indonesia pada 2027

Eksplorasi lanjutan telah direncanakan untuk memahami lebih jauh bagaimana struktur ini terhubung dengan tata kota Buto kuno secara keseluruhan. Penemuan ini bukan sekadar tentang bangunan tua, melainkan tentang menyusun kembali potongan-potongan sejarah dari masa-masa terakhir kejayaan para Firaun sebelum peta kekuasaan dunia berubah selamanya.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *