Tragedi Pembunuhan Kacab Bank: Kesaksian Mertua Ungkap Detik-Detik Mencekam Penculikan oleh Oknum TNI

Rizky Ramadhan | Totonews
11 Mei 2026, 20:43 WIB
Tragedi Pembunuhan Kacab Bank: Kesaksian Mertua Ungkap Detik-Detik Mencekam Penculikan oleh Oknum TNI

TotoNews — Suasana haru dan tegang menyelimuti ruang sidang Pengadilan Militer Jakarta II-08, Jakarta Timur, saat Iwan, mertua dari mendiang M. Ilham Pradipta, memberikan kesaksiannya. Kasus yang mengguncang publik ini kembali memasuki babak baru dengan pengungkapan fakta-fakta memilukan terkait pembunuhan kacab bank yang diduga didalangi oleh sejumlah oknum prajurit TNI. Di hadapan majelis hakim, Iwan membeberkan memori pahit saat ia pertama kali melihat rekaman CCTV yang merekam detik-detik terakhir menantunya sebelum meregang nyawa.

M. Ilham Pradipta, yang menjabat sebagai Kepala Cabang (Kacab) di salah satu bank ternama di Jakarta, menjadi korban kekejian yang direncanakan secara matang. Iwan mengisahkan bahwa informasi awal mengenai hilangnya Ilham ia dapatkan dari adik istrinya. Melalui sebuah pesan singkat dan sambungan telepon yang bergetar penuh kecemasan, ia dikirimi sebuah rekaman video yang menjadi bukti kunci dalam pengungkapan kasus penculikan kacab bank tersebut.

Baca Juga

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Komandan Hamas dan Bocah Sembilan Tahun

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Komandan Hamas dan Bocah Sembilan Tahun

Rekaman CCTV: Ambush Cepat di Depan Mobil Sendiri

Dalam persidangan yang digelar pada Senin, 11 Mei 2026 tersebut, Oditur Militer meminta Iwan untuk menggambarkan isi dari video CCTV yang ia saksikan. Dengan suara yang sedikit bergetar, Iwan menceritakan adegan demi adegan yang terekam dengan jelas. Almarhum Ilham terlihat berjalan dengan tenang menuju mobilnya yang terparkir. Tidak ada kecurigaan sama sekali dari raut wajahnya saat ia mendekati pintu sisi pengemudi.

“Almarhum berjalan mulai mendekati mobilnya sendiri dari sebelah kanan. Begitu sampai di depan pintu sopir, tiba-tiba sebuah mobil putih yang parkir tepat di sebelahnya membuka pintu,” urai Iwan dalam kesaksiannya. Detik berikutnya adalah pemandangan yang menghantui keluarga hingga saat ini. Sejumlah orang keluar dengan sangat cepat, menyergap Ilham, dan memaksanya masuk ke dalam mobil putih tersebut. Hanya dalam hitungan detik, mobil itu melesat meninggalkan lokasi kejadian (TKP), membawa Ilham menuju nasib yang tragis.

Baca Juga

Skandal Malapraktik Medis: Kisah Kelam Eks Finalis Puteri Indonesia di Balik Klinik Kecantikan Ilegal

Skandal Malapraktik Medis: Kisah Kelam Eks Finalis Puteri Indonesia di Balik Klinik Kecantikan Ilegal

Kejadian yang berlangsung begitu cepat ini menunjukkan bahwa para pelaku telah memantau pergerakan korban dan menunggu momen paling lengah untuk melakukan aksi kriminal Jakarta yang sangat terorganisir. Iwan yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres segera bertindak cepat dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jakarta Timur pada malam harinya, tepatnya tanggal 20 Agustus 2025 sekitar pukul 19.00 WIB.

Kondisi Jenazah yang Mengenaskan: Jejak-Jejak Kekerasan Fisik

Namun, harapan keluarga untuk melihat Ilham kembali dalam keadaan selamat pupus sudah. Beberapa waktu kemudian, jenazah Ilham ditemukan dan dibawa ke RS Polri Kramat Jati. Iwan menceritakan momen yang sangat menyayat hati saat ia diizinkan melihat jenazah menantunya untuk proses pemandian setelah autopsi dilakukan. Apa yang ia lihat di kamar jenazah menjadi bukti nyata betapa kejamnya perlakuan para pelaku terhadap korban.

Baca Juga

Gencatan Senjata Semu: Bara Perselisihan Amerika Serikat dan Iran yang Kembali Memuncak di Selat Hormuz

Gencatan Senjata Semu: Bara Perselisihan Amerika Serikat dan Iran yang Kembali Memuncak di Selat Hormuz

“Saya ikut melihat jenazah korban di Rumah Sakit Polri. Kondisi pertama yang saya perhatikan adalah bagian kepala. Ada bekas lilitan, sekitar dua atau tiga jari lebarnya, melilit di leher dengan sangat ketat. Bekasnya sangat terlihat jelas,” ungkap Iwan dengan nada pedih. Tak hanya itu, ia juga menyaksikan adanya luka lebam yang menghitam di bagian dada korban, menandakan adanya benturan benda tumpul atau kekerasan fisik yang hebat sebelum korban meninggal dunia.

Lebih lanjut, Iwan memaparkan adanya bekas lingkaran merah di leher, serta bintik-bintik hitam misterius yang memenuhi tangan kanan dan kiri almarhum. Meskipun ia tidak mengetahui secara pasti penyebab bintik-bintik tersebut, visual tersebut menambah kengerian atas apa yang telah dialami oleh menantunya. Di bagian kaki, Iwan juga melihat adanya bekas ikatan di pergelangan kaki, meskipun saat itu jenazah sebagian besar ditutupi kain selama proses pemandian.

Baca Juga

Menjaga Marwah Birokrasi: Mengapa Sistem Merit Adalah Benteng Terakhir Demokrasi Kita?

Menjaga Marwah Birokrasi: Mengapa Sistem Merit Adalah Benteng Terakhir Demokrasi Kita?

Menuntut Keadilan Maksimal bagi Oknum Pelaku

Sebagai seorang mertua yang telah menganggap Ilham seperti anak kandung sendiri, Iwan menegaskan komitmennya untuk mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia mewakili perasaan hancur sang putri dan cucu-cucunya yang kini harus kehilangan sosok ayah. Di hadapan majelis hakim, ia menyampaikan harapan yang mendalam agar hukum ditegakkan seadil-adilnya tanpa pandang bulu, terutama karena kasus ini melibatkan oknum TNI yang seharusnya menjadi pelindung rakyat.

“Mereka layak dijatuhi hukuman seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatan dan akibat yang ditimbulkannya. Terutama mengingat sumpah prajurit yang telah mereka langgar, yakni menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan nama baik korps,” tegas Iwan. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi institusi militer bahwa tindakan kriminal yang dilakukan oleh anggotanya telah mencoreng institusi dan melukai kepercayaan masyarakat luas terhadap hukum di Indonesia.

Keluarga korban berharap persidangan di Pengadilan Militer ini menjadi panggung kebenaran di mana setiap pelaku mendapatkan balasan yang sesuai. Rasa kehilangan yang dialami keluarga tidak akan pernah bisa tergantikan, namun setidaknya keadilan hukum bisa memberikan sedikit ketenangan bagi jiwa almarhum Ilham Pradipta.

Detail Terdakwa dan Proses Hukum yang Berjalan

Kasus pembunuhan berencana ini melibatkan total 16 terdakwa, sebuah jumlah yang cukup fantastis untuk satu kasus pembunuhan. Dari belasan pelaku tersebut, tiga di antaranya merupakan prajurit TNI yang kini tengah duduk di kursi pesakitan Pengadilan Militer Jakarta. Ketiga prajurit tersebut adalah Serka Mochamad Nasir (MN), Kopda Feri Herianto (FH), dan Serka Frengky Yaru (FY). Sementara sisanya merupakan warga sipil yang proses hukumnya dilakukan di pengadilan umum.

Keterlibatan prajurit TNI dalam aksi penculikan dan pembunuhan ini menjadi perhatian khusus dari Markas Besar TNI. Pihak oditur militer terus menggali fakta-fakta melalui saksi-saksi kunci seperti Iwan untuk memperkuat dakwaan. Meski ada beberapa terdakwa dari kalangan TNI yang sempat dilaporkan tidak ditahan dalam proses awal, pihak berwenang menegaskan bahwa proses hukum akan terus berjalan transparan dan akuntabel sesuai dengan regulasi yang berlaku di militer.

Publik kini menantikan vonis akhir dari majelis hakim. Apakah hukuman maksimal akan dijatuhkan kepada para eksekutor keji ini? Kasus ini bukan sekadar tentang nyawa seorang kepala cabang bank, melainkan tentang integritas penegakan hukum di Indonesia terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang melibatkan aparat negara. TotoNews akan terus memantau perkembangan persidangan ini hingga palu hakim diketukkan untuk terakhir kalinya.

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Mantan mekanik yang beralih menjadi jurnalis otomotif. Tulisannya dikenal tajam dalam mengulas performa mesin dan tren kendaraan masa depan di Indonesia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *