Revolusi Pengelolaan Limbah: Pramono Anung Wajibkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jaya Jakarta
TotoNews — Wajah Jakarta yang bersih dan berkelanjutan bukan lagi sekadar impian di atas kertas. Di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebuah langkah besar mulai diambil untuk mengurai benang kusut persoalan sampah di ibu kota. Fokus utamanya kali ini menyasar jantung ekonomi rakyat, yakni pasar tradisional. Tidak main-main, sebanyak 153 pasar yang berada di bawah naungan Perumda Pasar Jaya akan menjadi garda terdepan dalam implementasi program pemilahan sampah secara menyeluruh.
Kebijakan ini merupakan manifestasi konkret dari Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 yang mengamanatkan gerakan pemilahan sampah di seluruh penjuru Jakarta. Pramono menegaskan bahwa pasar tidak boleh lagi menjadi sekadar titik kumpul limbah yang kemudian dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir. Sebaliknya, pasar harus menjadi titik awal pengolahan sampah yang cerdas dan bermanfaat.
Keamanan Level Mall! Inovasi Smart Gate di Gang Gandaria Utara Jakarta Selatan Jadi Sorotan
Komitmen Nyata Menuju Jakarta Zero Waste
Saat meninjau fasilitas pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Senin (11/5/2026), Pramono Anung menyampaikan visinya dengan lugas. Ia memandang bahwa Pasar Jaya memiliki peran krusial karena mengelola hampir seluruh pasar di Jakarta. Dengan skala sebesar itu, perubahan sekecil apa pun di tingkat pasar akan memberikan dampak signifikan bagi lingkungan kota secara keseluruhan.
“Pasar Jaya memiliki 153 pasar, dan hampir semua pasar di Jakarta ini dikelola oleh mereka. Kami akan memberlakukan kebijakan yang sama di seluruh titik tersebut tanpa terkecuali,” ujar Pramono. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah tidak lagi mentoleransi praktik pembuangan sampah konvensional yang tidak terpilah.
Menguak Siasat Licin ‘The Doctor’: Gurita Narkoba Internasional, Rekening Proksi, hingga Kedok Dana Amal
Pramono menyadari bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Jakarta adalah volume yang sangat masif setiap harinya. Dengan melibatkan 153 pasar, pemerintah berharap dapat menciptakan sistem yang terintegrasi, di mana sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak dari sumbernya, yakni para pedagang dan pengunjung pasar.
Menilik Beban Berat Bantargebang dan Peran Pasar Tradisional
Selama ini, pasar-pasar yang dikelola oleh Pasar Jaya menyumbangkan beban yang cukup berat bagi TPST Bantargebang. Berdasarkan data yang dihimpun, total volume sampah dari pasar-pasar ini mencapai sekitar 500 ton per hari. Angka yang fantastis ini jika terus dibiarkan tanpa pengolahan akan mempercepat penuhnya kapasitas lahan pembuangan akhir yang sudah sangat terbatas.
Penghianatan Menantu Berujung Maut: Kronologi Pembunuhan Sadis Lansia di Pekanbaru yang Mengguncang Publik
Sebagai contoh, di Pasar Kramat Jati saja, volume sampah harian mencapai sekitar 5 ton. Melalui program pemilahan ini, volume yang dikirim ke Bantargebang diharapkan dapat dipangkas secara drastis. Caranya adalah dengan mengolah sampah organik langsung di lokasi atau di pusat-pusat pengolahan terdekat, sehingga hanya sampah residu yang benar-benar tidak bisa diolah lagi yang akan berakhir di tempat pembuangan.
Strategi ini bukan sekadar soal kebersihan, melainkan upaya memperpanjang usia pakai TPST Bantargebang. Dengan mengurangi 500 ton beban harian, Jakarta secara perlahan mulai menunjukkan kemandirian dalam pengelolaan limbah domestik dan komersial.
Sinergi Multipihak: Mengubah Limbah Menjadi Berkah
Hal yang menarik dari program ini adalah pendekatan kolaboratif yang diusung oleh Pramono Anung. Pemerintah DKI Jakarta tidak bekerja sendirian. Melalui Pasar Jaya, pemerintah akan menggandeng pihak swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.
Penantian 25 Tahun Berakhir: Jalan Nyikambang Cilegon Segera Dibangun Melalui Program ‘Bang Andra’
“Ini adalah tindak lanjut dari program pemilahan sampah yang telah kita canangkan sebelumnya. Kami bekerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian dalam penanganan sampah, baik organik maupun anorganik,” jelas Pramono kepada media. Sinergi ini bertujuan untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah adalah musuh, menjadi sumber daya yang bernilai ekonomis atau dikenal dengan istilah circular economy.
Pengolahan sampah organik di pasar-pasar ini nantinya akan menghasilkan produk yang sangat berguna, seperti pupuk organik. Saat ini, terdapat dua jenis produk utama yang tengah dikembangkan dari limbah pasar, yakni pupuk cair dan kompos (fertilizer). Produk-produk ini nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertamanan kota, penghijauan di area publik, hingga dijual kembali sebagai produk bernilai tambah.
Tak Hanya Pasar Jaya, Seluruh Ekosistem Pasar Terlibat
Kebijakan tegas ini ternyata tidak hanya berhenti pada pasar di bawah naungan BUMD saja. Pramono Anung memastikan bahwa pasar-pasar non-Pasar Jaya atau pasar swasta juga wajib mengikuti standar yang sama. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah diberi instruksi khusus untuk mengoordinasikan dan mengawasi jalannya pemilahan sampah di pasar-pasar non-pemerintah tersebut.
“Baik itu pasar di bawah naungan Pasar Jaya maupun yang dikelola pihak lain, mereka tetap memikul tanggung jawab yang sama. Pengelolaan sampah dengan cara pemilahan wajib dilakukan di lingkup pasar mereka masing-masing,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa keadilan lingkungan diterapkan secara merata di seluruh sektor bisnis di Jakarta.
Langkah ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai instansi, termasuk pihak kepolisian. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kota yang lebih nyaman, sehat, dan manusiawi bagi seluruh warga Jabodetabek yang beraktivitas di Jakarta.
Langkah Cepat: Implementasi Tanpa Menunggu Nanti
Ketika ditanya mengenai target waktu pelaksanaan, Pramono Anung menunjukkan sikap yang sangat proaktif. Ia tidak ingin terjebak dalam birokrasi yang lamban. Baginya, persoalan sampah adalah bom waktu yang harus segera dijinakkan dengan tindakan nyata di lapangan.
“Program ini mulai berjalan sekarang juga. Jika menunggu tahun depan, itu terlalu lama. Kita harus bergerak cepat sebelum masalah sampah ini semakin membebani kota,” imbuhnya dengan penuh optimisme. Sikap tegas ini disambut baik oleh banyak pihak yang merindukan aksi nyata dari pemerintah daerah.
Dengan dimulainya gerakan pemilahan di 153 pasar, Jakarta sedang melakukan eksperimen sosial dan lingkungan skala besar. Jika berhasil, model ini bisa menjadi percontohan bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia dalam menangani limbah pasar tradisional yang selama ini dianggap sebagai salah satu penyumbang polusi dan aroma tidak sedap di perkotaan.
Pada akhirnya, kesuksesan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif para pedagang pasar dan kesadaran kolektif masyarakat. Dengan dukungan infrastruktur pengolahan yang memadai serta pengawasan yang ketat dari Pemerintah DKI Jakarta, visi menuju kota global yang hijau dan bersih bukan lagi sekadar narasi, melainkan realitas yang sedang dibangun selangkah demi selangkah.