Misi Artemis III: Ambisi Besar NASA Menaklukkan Bulan Kembali Usai Kesuksesan Artemis II
TotoNews — Belum hilang euforia kembalinya empat astronaut misi Artemis II ke pelukan Bumi pada Sabtu pagi (11/04), NASA tampaknya enggan berlama-lama dalam perayaan. Badan antariksa Amerika Serikat tersebut kini langsung mengalihkan fokus dan memacu mesin persiapan untuk misi berikutnya yang jauh lebih menantang: Artemis III.
Misi Artemis III yang ditargetkan meluncur pada tahun 2027 diproyeksikan menjadi tonggak sejarah baru dalam eksplorasi luar angkasa. Menggunakan keperkasaan roket Space Launch System (SLS), misi ini akan membawa kapsul Orion beserta awaknya menuju orbit Bulan. Di sana, mereka dijadwalkan melakukan manuver krusial, yakni bertemu dengan Human Landing System (HLS) untuk menguji kemampuan docking yang menjadi syarat mutlak pendaratan manusia di permukaan satelit alami Bumi tersebut.
Mitos Kesaktian AI Runtuh di Lapangan Hijau: Mengapa Model Tercanggih Sekalipun Gagal Prediksi Skor Bola?
Dalam sebuah pengarahan media yang digelar pasca-kepulangan Artemis II, Administrator NASA Jared Isaacman mengungkapkan bahwa para petinggi dan tim ahli telah berkumpul secara intensif guna mematangkan desain akhir misi Artemis III. Meski belum ada pengumuman resmi, rumor mengenai proses seleksi ketat bagi para calon awak yang akan mencatatkan namanya di buku sejarah Bulan pun telah berembus kencang.
Antara Evaluasi dan Inovasi
Kesuksesan Artemis II sebagai misi berawak pertama yang menggunakan perpaduan kapsul Orion dan roket SLS menjadi modal kepercayaan diri yang besar bagi tim di darat. Walaupun sempat muncul kendala teknis minor pada sistem sanitasi di kapsul Orion, secara keseluruhan perjalanan tersebut dinilai berjalan sangat mulus hingga mendarat kembali di lautan.
Strategi Movie Marathon Hemat Saat Long Weekend May Day Bersama Transvision
“Kita memiliki kapasitas untuk menjalankan misi yang mengubah dunia seperti Artemis II saat ini, sembari secara paralel mempersiapkan langkah-langkah besar selanjutnya,” ujar Isaacman dengan nada optimistis. Senada dengan hal tersebut, Direktur Penerbangan NASA, Rick Henfling, menegaskan bahwa perbaikan yang diperlukan untuk Artemis III bersifat evolusioner dan bertahap. Menurutnya, tidak ada kebutuhan untuk merombak total subsistem pesawat yang sudah ada, karena performa teknologi NASA saat ini sudah berada di jalur yang tepat.
Persaingan Teknologi di Orbit
Salah satu teka-teki terbesar yang tengah dipecahkan adalah pemilihan skenario orbit awal, apakah akan menggunakan orbit rendah Bumi (LEO) atau orbit tinggi Bumi (HEO). Keputusan ini sangat bergantung pada efisiensi frekuensi peluncuran dari mitra penyedia sistem pendarat manusia. Saat ini, dua raksasa dirgantara, SpaceX dan Blue Origin, tengah berada dalam perlombaan sengit untuk menyempurnakan wahana pendarat mereka.
Mewah dan Sakti: Superyacht ‘Nord’ Milik Sekutu Putin Tembus Blokade Selat Hormuz Tanpa Hambatan
NASA menaruh harapan besar pada Starship HLS milik SpaceX—sebuah versi modifikasi dari Starship V3—yang kini tengah memasuki fase pengujian akhir dan dijadwalkan terbang perdana dalam waktu dekat. Di sisi lain, Blue Origin tidak tinggal diam dengan Blue Moon Mark 1 yang sedang menjalani serangkaian tes ruang vakum yang ketat di Johnson Space Center, Houston.
Persaingan ini bukan sekadar mengejar gengsi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang. NASA berencana menguji kedua wahana tersebut dalam misi Artemis III, namun hanya satu yang akan terpilih sebagai kendaraan utama untuk membawa astronaut menjejakkan kaki di permukaan Bulan pada misi Artemis IV yang direncanakan meluncur tahun 2028. Ambisi ini mempertegas komitmen global dalam memperluas jangkauan manusia di tata surya.
Dari Earthrise ke Earthset: Menatap Wajah Bumi yang Kian Rapuh dari Kedalaman Antariksa