Mentan Amran Sulaiman Ungkap Kejanggalan Tata Niaga Gula: Impor Melimpah, Produksi Lokal Justru Tak Terserap

Siti Aminah | Totonews
08 Apr 2026, 16:51 WIB
Mentan Amran Sulaiman Ungkap Kejanggalan Tata Niaga Gula: Impor Melimpah, Produksi Lokal Justru Tak Terserap

TotoNews — Sektor pangan Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam setelah Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkap sebuah anomali besar yang mencekik tata niaga gula nasional. Di tengah arus impor gula yang terus mengalir deras, ironisnya, stok gula hasil produksi petani lokal justru menemui jalan buntu dan sulit terserap oleh pasar domestik.

Berbicara di hadapan DPR RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (8/4/2026), Amran Sulaiman tidak dapat menyembunyikan keheranannya terhadap situasi pasar yang tidak masuk akal ini. Ia menyoroti bagaimana komoditas pendukung seperti molase atau tetes tebu pun mengalami kejatuhan harga yang sangat drastis, dari Rp 1.900 per liter menjadi hanya Rp 1.000 per liter pada Maret 2026.

Baca Juga

Sinergi Blue Economy: Indonesia Siap Pasok Tenaga Kerja Perikanan Profesional ke Jepang

Sinergi Blue Economy: Indonesia Siap Pasok Tenaga Kerja Perikanan Profesional ke Jepang

Skandal Rembesan Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi

Penyelidikan mendalam yang dilakukan Kementerian Pertanian mengungkap adanya praktik penyimpangan distribusi yang sistematis. Amran membeberkan bahwa gula rafinasi—yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri—ditemukan bocor dan merembes ke pasar konsumsi rumah tangga sebagai gula putih (white sugar).

“Kami menemukan rembesan ini di berbagai titik krusial, mulai dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Selatan. Gula rafinasi dikategorikan secara ilegal sebagai gula konsumsi. Ini adalah praktik yang membahayakan stabilitas harga dan merugikan petani tebu kita secara langsung,” tegas Amran dengan nada serius. Dampak dari kekacauan tata niaga ini sangat nyata, di mana Sugar Co dilaporkan mengalami kerugian fantastis mencapai Rp 680 miliar.

Baca Juga

Polemik Ribuan Motor Listrik Badan Gizi Nasional, Menkeu Purbaya: Fokus Harusnya pada Kualitas Pangan

Polemik Ribuan Motor Listrik Badan Gizi Nasional, Menkeu Purbaya: Fokus Harusnya pada Kualitas Pangan

Langkah Tegas Presiden Prabowo: Kebijakan Lartas

Merespons situasi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan langkah konkret melalui penerapan kebijakan Larangan dan Pembatasan (Lartas). Kebijakan ini dirancang untuk menyumbat celah penyimpangan distribusi dan memberikan perlindungan kepada industri gula dalam negeri. Menurut Amran, keterlibatan BUMN dalam pengawasan distribusi menjadi kunci agar sistem pengendalian berjalan lebih efektif dari hulu ke hilir.

Revitalisasi Hulu: Program Bongkar Ratun Rp 1,7 Triliun

Selain persoalan distribusi di sektor hilir, pemerintah juga mengidentifikasi masalah fundamental di sektor hulu. Hasil evaluasi nasional menunjukkan bahwa sekitar 70% hingga 80% tanaman tebu di Indonesia sudah tidak dalam kondisi produktif karena faktor usia tanaman yang terlalu tua. Dari total 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare memerlukan peremajaan segera.

Baca Juga

Hujan Ekstrem Terjang Bandara Soetta: Atap Terminal 3 Jebol, Angkasa Pura Pastikan Operasional Kembali Pulih

Hujan Ekstrem Terjang Bandara Soetta: Atap Terminal 3 Jebol, Angkasa Pura Pastikan Operasional Kembali Pulih

Sebagai solusi, pemerintah meluncurkan program subsidi “Bongkar Ratun” dengan komitmen anggaran yang masif. Beberapa poin utama dari strategi ini antara lain:

  • Pengalokasian anggaran sebesar Rp 1,7 triliun yang dimulai sejak 2025 dan berlanjut di 2026.
  • Target peremajaan lahan atau bongkar ratun seluas 100 ribu hektare per tahun.
  • Penyelesaian revitalisasi lahan tebu secara menyeluruh dalam jangka waktu tiga tahun.

Optimisme Swasembada Gula Konsumsi

Meski menghadapi tantangan berat, Mentan Amran Sulaiman tetap optimis terhadap masa depan ketahanan pangan nasional. Saat ini, produksi gula nasional berada pada kisaran 2,6 hingga 2,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di angka 2,8 hingga 2,9 juta ton.

Dengan defisit yang hanya berkisar antara 100 ribu hingga 200 ribu ton, pemerintah yakin bahwa Indonesia bisa segera mencapai swasembada gula konsumsi dalam waktu dekat. “Jika kita konsisten memperbaiki tanaman tebu selama tiga tahun berturut-turut, insya Allah swasembada gula putih bisa kita tuntaskan paling lambat tahun depan,” pungkasnya menutup paparan mengenai visi besar swasembada gula Indonesia.

Baca Juga

Langkah Strategis Bahlil Lahadalia: CNG Siap Geser Dominasi LPG Demi Kemandirian Energi Nasional

Langkah Strategis Bahlil Lahadalia: CNG Siap Geser Dominasi LPG Demi Kemandirian Energi Nasional
Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *