Babak Baru Raksasa Gas Maluku: Proyek Abadi Masela Mulai Konstruksi 2027 dan Target Produksi 2030

Siti Aminah | Totonews
26 Jun 2026, 00:42 WIB
Babak Baru Raksasa Gas Maluku: Proyek Abadi Masela Mulai Konstruksi 2027 dan Target Produksi 2030

TotoNews — Harapan besar bagi sektor energi Indonesia akhirnya menemui titik terang yang nyata. Setelah terjebak dalam pusaran ketidakpastian selama puluhan tahun, proyek gas raksasa Blok Abadi Masela yang terletak di perairan Kepulauan Tanimbar, Maluku, kini dipastikan segera memasuki fase krusial. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa proyek ini akan memulai tahap konstruksi fisik pada tahun 2027 mendatang.

Kepastian ini seolah menjadi angin segar bagi industri investasi energi nasional yang sempat lesu akibat hambatan birokrasi dan perubahan skema pengembangan di masa lalu. Blok Masela bukan sekadar proyek tambang biasa; ia adalah simbol kedaulatan energi dan salah satu pilar utama dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi Indonesia Timur secara signifikan.

Baca Juga

Update Terbaru Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Pertamax Turbo Melambung, Kabar Gembira Bagi Pengguna Dexlite dan Pertamina Dex

Update Terbaru Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Pertamax Turbo Melambung, Kabar Gembira Bagi Pengguna Dexlite dan Pertamina Dex

Momentum Kebangkitan Industri Gas Nasional

Dalam sebuah paparan yang menarik perhatian publik di acara Kajian Tengah Tahun INDEF (KTT-INDEF) pada Kamis (26/6/2026), Menteri Bahlil Lahadalia menekankan bahwa pemerintah tidak ingin lagi ada penundaan yang tidak perlu. Beliau mengungkapkan bahwa hambatan-hambatan investasi yang selama ini menyelimuti Blok Masela telah dipetakan dan dicarikan solusinya secara komprehensif.

“Blok Abadi Masela ini sudah puluhan tahun tertunda, seolah tidak pernah ada ujungnya. Namun, setelah melalui berbagai proses evaluasi, keputusan matang, dan kajian mendalam, saya telah memberikan instruksi tegas kepada INPEX Corporation untuk segera bergerak. Sekarang, alhamdulillah, semua sudah berjalan sesuai jalurnya. Tahun 2027 kita akan melihat alat-alat berat mulai bekerja dalam tahap konstruksi,” ujar Bahlil dengan nada optimis.

Baca Juga

Strategi Danantara di Tengah Ketegangan Global: Mengintip 4 Sektor Prioritas yang Menjadi Incaran

Strategi Danantara di Tengah Ketegangan Global: Mengintip 4 Sektor Prioritas yang Menjadi Incaran

Langkah progresif ini juga mencakup penyelesaian tahapan Front End Engineering and Design (FEED), sebuah fase teknis yang sangat krusial sebelum pembangunan fisik dimulai. Dengan selesainya FEED, cetak biru teknis dan estimasi biaya proyek menjadi lebih presisi, sehingga meminimalkan risiko pembengkakan anggaran atau kegagalan teknis di lapangan.

Target Produksi dan Ketahanan Energi Masa Depan

Target yang dipasang pemerintah tergolong ambisius namun realistis. Jika proses konstruksi berjalan mulus mulai 2027, maka Blok Abadi Masela diproyeksikan akan mulai melakukan produksi komersial (onstream) pada periode 2029 hingga 2030. Kehadiran gas dari Masela diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga energi global yang kian tidak menentu.

Baca Juga

Menilik Pesona Batik Ciwitan: Akulturasi Budaya dan Jantung Ekonomi Kreatif Desa Benteng

Menilik Pesona Batik Ciwitan: Akulturasi Budaya dan Jantung Ekonomi Kreatif Desa Benteng

Bahlil menyebut proyek ini sebagai salah satu “Giant” atau raksasa gas bumi terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Cadangan gas yang melimpah di blok ini tidak hanya akan dialokasikan untuk kebutuhan ekspor guna mendatangkan devisa, tetapi juga diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik, termasuk untuk industri pupuk, petrokimia, dan pembangkit listrik di wilayah sekitar.

“Tahun 2029 hingga 2030 adalah momentum di mana Indonesia akan memanen hasil dari kesabaran dan kerja keras selama ini. Gas akan mulai terproduksi, dan ini akan menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi kas negara serta pemenuhan energi dalam negeri,” tambah Bahlil dalam presentasinya.

Investasi Fantastis Rp339 Triliun dan Diplomasi Jepang

Skala proyek Abadi Masela memang tidak main-main. Total nilai investasi diperkirakan mencapai angka USD 20 miliar, atau jika dikonversi dengan kurs saat ini (Rp16.900 per dolar AS), nilainya menembus angka fantastis Rp339 triliun. Angka ini menjadikannya salah satu proyek investasi tunggal terbesar dalam sejarah sektor hulu migas Indonesia.

Baca Juga

Prabowo Percayakan Tongkat Estafet Whoosh ke AHY: Strategi Baru Hadapi Tantangan Kereta Cepat

Prabowo Percayakan Tongkat Estafet Whoosh ke AHY: Strategi Baru Hadapi Tantangan Kereta Cepat

Percepatan proyek ini juga tidak lepas dari peran diplomasi tingkat tinggi. Sebelumnya, dalam kunjungan kenegaraan bersama Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo, Jepang, pada Maret 2026, agenda Blok Masela menjadi salah satu topik pembahasan utama. Presiden memberikan arahan langsung agar investasi transisi energi dan penyelesaian proyek strategis seperti Masela menjadi prioritas utama kerja sama bilateral kedua negara.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Bahlil secara intensif melakukan pertemuan dengan CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda. Dalam pertemuan tersebut, pihak INPEX menyatakan komitmen penuh mereka untuk mempercepat jadwal pengembangan. Sebagai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) utama, INPEX kini merasa mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat, yang selama ini menjadi kekhawatiran para investor global.

Dampak Multiplier Effect bagi Maluku dan Sekitarnya

Bagi masyarakat Maluku, pengembangan proyek gas Masela bukan sekadar angka di atas kertas. Proyek ini diharapkan memberikan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) yang luar biasa. Pembangunan infrastruktur penunjang, penyerapan ribuan tenaga kerja lokal, hingga peluang bagi pengusaha daerah untuk terlibat dalam rantai pasok industri migas adalah manfaat nyata yang sudah di depan mata.

Pemerintah juga mendorong agar pengembangan Blok Masela tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. Penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) juga menjadi bagian dari diskusi pengembangan blok ini, sejalan dengan komitmen global Indonesia menuju Net Zero Emission.

Mengakhiri Penantian Panjang

Sejarah mencatat bahwa Blok Masela telah melewati berbagai dinamika, mulai dari perdebatan lokasi kilang (onshore vs offshore) hingga perubahan mitra investasi. Namun, di bawah kepemimpinan yang fokus pada percepatan, kebuntuan tersebut kini telah terurai. Keyakinan investor kembali tumbuh, dan komitmen INPEX menunjukkan bahwa iklim investasi asing di sektor migas Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat.

Dengan garis waktu yang kini lebih jelas, mata dunia kini tertuju pada Laut Arafura. Indonesia sedang bersiap untuk mengaktifkan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi terbesarnya. Jika segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, tahun 2027 akan menjadi tonggak sejarah baru, di mana suara deru mesin konstruksi di Maluku akan menandai babak baru kemandirian energi nusantara.

TotoNews akan terus mengawal perkembangan proyek strategis ini, memastikan setiap tahapan penting tersampaikan kepada publik sebagai bagian dari optimisme pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *