Pengakuan Mengejutkan CEO Honda: Mengapa China Begitu Sulit Ditaklukkan dalam Perang Mobil Listrik?

Bagus Setiawan | Totonews
10 Apr 2026, 10:48 WIB
Pengakuan Mengejutkan CEO Honda: Mengapa China Begitu Sulit Ditaklukkan dalam Perang Mobil Listrik?

TotoNews — Industri otomotif global sedang berada di titik nadir persaingan yang amat sengit, dan raksasa asal Jepang, Honda, secara terbuka mengakui betapa tangguhnya dominasi China saat ini. CEO Honda, Toshihiro Mibe, memberikan pernyataan jujur yang mengguncang publik setelah melakukan kunjungan langsung ke sejumlah pemasok komponen di Shanghai. Ia menyadari bahwa peta kekuatan industri otomotif telah bergeser secara dramatis ke arah Negeri Tirai Bambu tersebut.

Realitas Pahit di Jantung Shanghai

Laporan terbaru dari Nikkei Asia mengungkapkan bahwa Mibe merasa terpukul dengan efisiensi luar biasa yang ditunjukkan oleh pabrik-pabrik di China. Dalam kunjungannya, ia menyaksikan fasilitas produksi yang hampir sepenuhnya dijalankan secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Hal ini memungkinkan produsen China menciptakan kendaraan dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah, namun tetap mempertahankan standar kualitas yang kompetitif. Kondisi ini membuat Honda merasa seolah sedang berhadapan dengan tembok raksasa yang sulit ditembus.

Baca Juga

Misteri Emmo: Motor Listrik ‘Gaib’ yang Mendadak Menang Proyek 25 Ribu Unit Badan Gizi Nasional

Misteri Emmo: Motor Listrik ‘Gaib’ yang Mendadak Menang Proyek 25 Ribu Unit Badan Gizi Nasional

Penurunan Penjualan yang Drastis

Data tidak bisa berbohong. Jika pada tahun 2020 Honda masih mampu mencatatkan angka penjualan sebesar 1,6 juta unit di pasar China, kini situasinya berbalik 180 derajat. Untuk tahun ini, Honda hanya berani mematok target moderat di angka 600 ribu unit. Penurunan ini berdampak langsung pada operasional pabrik yang kini hanya berjalan setengah dari kapasitas totalnya. Munculnya rival-rival lokal yang agresif di sektor mobil listrik membuat posisi Honda semakin terdesak.

Internal Perusahaan di Tengah Badai

Krisis ini bukan tanpa konsekuensi. TotoNews mencatat bahwa manajemen internal Honda sempat mengalami guncangan hebat hingga para eksekutif bersedia menerima pemotongan gaji sebagai bentuk tanggung jawab atas kerugian miliaran dolar yang dialami perusahaan. Kegagalan proyek kerja sama dengan Sony untuk menghadirkan mobil listrik di pasar Amerika Serikat juga menjadi bukti bahwa Honda sempat kehilangan arah dalam menghadirkan nilai tambah bagi konsumen di era elektrifikasi.

Baca Juga

Ekspansi Agresif GAC AION di Indonesia: Tak Hanya Andalkan Listrik, Mesin Bensin dan MPV Mewah Siap Menggebrak

Ekspansi Agresif GAC AION di Indonesia: Tak Hanya Andalkan Listrik, Mesin Bensin dan MPV Mewah Siap Menggebrak

Beberapa poin krusial yang menjadi hambatan besar bagi Honda saat ini antara lain:

  • Durasi pengembangan model baru yang memakan waktu dua kali lebih lama dibandingkan produsen China.
  • Struktur biaya produksi yang belum seefisien kompetitor di pasar Asia Timur.
  • Keterlambatan dalam mengadopsi teknologi otomasi penuh di lini perakitan utama.

Misi Kembali ke Akar Inovasi

Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, Toshihiro Mibe menekankan pentingnya bagi Honda untuk kembali ke jati diri mereka yang sebenarnya. Ia mengingatkan kembali masa kejayaan Honda saat menciptakan inovasi mesin CVCC dan teknologi VTEC yang melegenda. Melalui restrukturisasi divisi riset dan pengembangan (R&D) menjadi unit yang lebih independen dan lincah, Honda berharap dapat memangkas birokrasi dan mempercepat proses inovasi.

Baca Juga

Krisis di Garasi Yamaha: Ambisi Mesin V4 MotoGP 2026 Justru Berujung Kebuntuan

Krisis di Garasi Yamaha: Ambisi Mesin V4 MotoGP 2026 Justru Berujung Kebuntuan

Upaya ini diharapkan dapat melahirkan kembali semangat Honda yang visioner, di mana kecepatan dan keterampilan teknis menjadi kunci utama untuk bertahan. Meski Mibe sempat menyebut perusahaan nyaris “tak punya kesempatan” jika terus berjalan di pola lama, namun langkah transformasi besar-besaran yang sedang ditempuh menunjukkan bahwa mereka belum menyerah untuk merebut kembali takhta di kancah global.

Bagus Setiawan

Bagus Setiawan

Jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Spesialis dalam mengupas isu kebijakan publik dan investigasi peristiwa di kanal Feed News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *