Trump Tegaskan Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat: ‘Kita Tidak Akan Biarkan Iran Menarik Upeti’
TotoNews — Di tengah ketegangan geopolitik yang menyelimuti kawasan Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan berani terkait masa depan Selat Hormuz. Dalam sebuah kesempatan terbaru, Trump menegaskan bahwa jalur pelayaran paling krusial di dunia tersebut akan segera dibuka kembali secara total, mengakhiri blokade yang telah mencekik arus energi global.
Meski tidak merinci strategi militer atau diplomatik yang akan ditempuh, Trump mengklaim bahwa sejumlah negara sekutu telah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu Washington dalam memastikan kelancaran lalu lintas di selat tersebut. “Saya akan katakan ini: kami akan segera membukanya,” ujar Trump sebagaimana dihimpun oleh tim redaksi TotoNews dari laporan AlJazeera.
Ekonomi RI Melesat 5,61%: Menkeu Purbaya Dorong Strategi ‘Serok’ di Tengah Eksodus Investor
Penolakan Keras Terhadap ‘Pajak Transit’ Iran
Salah satu poin krusial yang memicu kemarahan Gedung Putih adalah rencana Teheran untuk mengenakan biaya pelintasan atau ‘upeti’ bagi kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Iran bersikeras bahwa pungutan ini adalah kompensasi atas jaminan keamanan, bahkan jika kesepakatan damai dengan AS nantinya tercapai. Namun, Trump dengan tegas menolak gagasan tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk pemerasan dalam perdagangan internasional.
“Jika mereka mencoba melakukan itu (menarik biaya), kami tidak akan membiarkannya terjadi,” tegas Trump. Baginya, prioritas utama dalam setiap negosiasi bukan sekadar pembukaan jalur laut, melainkan memastikan Iran sama sekali tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Trump meyakini bahwa jika ancaman nuklir Iran berhasil diredam, maka stabilitas di keamanan maritim kawasan akan pulih dengan sendirinya.
Maruarar Sirait Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah: KAI Siap Rebut Kembali Lahan Tanah Abang demi Hunian Rakyat
Lumpuhnya Arus Energi Dunia
Data yang dihimpun menunjukkan betapa mengerikannya dampak blokade ini terhadap ekonomi global. Meskipun gencatan senjata selama dua minggu telah diumumkan, aktivitas di Selat Hormuz nyaris mati total. Jalur yang biasanya menjadi urat nadi bagi 20% pasokan minyak dan gas dunia ini kini tampak sepi bak kota hantu.
Pada hari Jumat lalu, hanya dua kapal yang tercatat melintas, merosot tajam dibandingkan hari sebelumnya. Sejak gencatan senjata dimulai, hanya ada 22 kapal yang berhasil keluar dari selat. Angka ini sangat kontras dengan rata-rata normal yang mencapai 135 kapal per hari sebelum konflik pecah. Saat ini, lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker raksasa, masih terjebak di kawasan Teluk, menunggu kepastian keamanan.
Perluas Jaring Pengaman, BPJS Ketenagakerjaan Fokus Bidik Jutaan Pekerja Informal dan Pelaku UMKM
Negosiasi Penentu di Islamabad
Harapan kini bertumpu pada meja perundingan. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan akan bertemu dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di Islamabad. Pertemuan tingkat tinggi ini diharapkan mampu menghasilkan terobosan permanen untuk mengakhiri perang dan membuka kembali akses energi yang menjadi tumpuan harga minyak dunia.
Dunia kini menanti, apakah gertakan Trump akan berujung pada solusi nyata, atau justru memicu babak baru dalam konfrontasi bersenjata yang lebih luas di kawasan Teluk.