Aksi Viral Konvoi Pejabat di Sitinjau Lauik: Berhenti di Tanjakan Maut Demi Foto, Publik Geram
TotoNews — Media sosial kembali dihebohkan oleh aksi kontroversial sebuah rombongan kendaraan yang diduga membawa pejabat publik. Alih-alih memberikan teladan dalam berlalu lintas, konvoi tersebut justru terpantau berhenti di tengah tikungan tajam dan tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik, Sumatera Barat, hanya demi melakukan sesi foto-foto.
Dalam video yang beredar luas, terlihat deretan mobil SUV seperti Toyota Fortuner dan Kijang Innova terparkir persis di titik paling krusial jalur maut tersebut. Ironisnya, rombongan ini mendapatkan pengawalan ketat dari mobil patroli polisi lengkap dengan sirene dan lampu strobo yang terus menyalak. Di saat kendaraan berat seperti truk-truk besar harus mengantre dan menahan beban di tanjakan, para anggota rombongan justru tampak asyik berpose di tengah jalan tanpa menghiraukan risiko keselamatan.
Terobosan Energi Hijau: Pemerintah Uji Bobibos, Bahan Bakar RON 98 Berbasis Limbah Jerami
Respons Polda Sumbar Terkait Dugaan Keterlibatan Eks Anggota DPR
Kabar yang beredar di lapangan menyebutkan bahwa sosok di balik rombongan tersebut diduga adalah mantan anggota DPR RI, Arteria Dahlan. Menanggapi polemik ini, Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, Kombes Pol M. Reza Chairul, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut saat rombongan sedang melakukan agenda kegiatan di wilayah Solok Kota.
Meskipun Reza sempat menyebutkan bahwa berhenti di titik tersebut terkadang dilakukan pengemudi untuk sekadar memberi apresiasi kepada warga lokal yang membantu mengatur lalu lintas, ia tetap mengambil langkah disiplin. “Petugas pengawal dari Satlantas Polres Solok Kota sudah saya berikan teguran keras melalui Kapolres dan Kasatlantasnya,” tegasnya saat mengonfirmasi insiden konvoi pejabat tersebut.
Beli Mobil Baru Serasa Bayar ‘Upeti’, Benarkah Pajak Kendaraan di Indonesia Terlalu Mencekik?
Kritik Pedas Ahli Keselamatan: Etika dan Hukum yang Lemah
Fenomena penggunaan lampu isyarat oleh polisi patwal untuk kepentingan yang dinilai kurang mendesak kembali menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Sony Susmana, Direktur Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDC), menilai bahwa penertiban penggunaan strobo belakangan ini hanya terasa seperti kebijakan sesaat.
“Fungsi petugas kepolisian seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengingatkan bahaya, bukan justru memfasilitasi tindakan yang membahayakan nyawa, sekalipun mereka memiliki hak diskresi,” ujar Sony. Ia menekankan bahwa berhenti di tikungan buta (blind spot) dengan kemiringan ekstrem sangat tidak bisa ditoleransi dalam standar keselamatan berkendara.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi publik bahwa integritas di jalan raya sering kali dikalahkan oleh kepentingan pribadi. Di tengah upaya menekan angka kecelakaan di jalur Sitinjau Lauik yang dikenal rawan, aksi ‘narsis’ di tengah tanjakan maut ini tentu mencoreng citra pejabat publik dan otoritas keamanan di mata masyarakat luas.
Dilema Kapasitas Baterai EMMO JVX GT: Siapkah Jadi ‘Kuda Beban’ Program Makan Bergizi Gratis?