Polemik Harga Motor Listrik Makan Bergizi Gratis: EMMO JVX GT Diduga Mirip Produk Alibaba Senilai Rp 8 Juta
TotoNews — Sorotan tajam kini tertuju pada pengadaan kendaraan operasional untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Unit motor listrik EMMO JVX GT yang diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas program tersebut kini tengah diterpa isu miring terkait orisinalitas dan kesenjangan harga yang sangat mencolok dibandingkan dengan produk serupa di pasar internasional.
Isu ini mencuat setelah publik menemukan kemiripan yang luar biasa antara EMMO JVX GT dengan motor listrik asal China, Kollter ES1-X PRO. Berdasarkan penelusuran di platform e-commerce global, Alibaba, motor tersebut dibanderol dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Jika satu unit Kollter ES1-X PRO dijual sekitar Rp 10 jutaan, pembelian dalam jumlah grosir bahkan bisa menekan harga hingga menyentuh angka Rp 8 jutaan per unit.
Ekspansi Agresif GAC AION di Indonesia: Tak Hanya Andalkan Listrik, Mesin Bensin dan MPV Mewah Siap Menggebrak
Kesenjangan Harga yang Menjadi Tanda Tanya
Kontras harga ini menjadi buah bibir lantaran di Indonesia, satu unit EMMO JVX GT dipasarkan dengan harga di kisaran Rp 56 jutaan. Selisih harga yang mencapai berkali-kali lipat ini memicu pertanyaan besar bagi para pengamat otomotif dan masyarakat luas. Jika memang keduanya merupakan produk yang sama, publik mempertanyakan alasan di balik margin harga yang begitu lebar tersebut.
Secara visual, sulit untuk membedakan antara kedua model ini. Mulai dari desain bodi bergaya trail, struktur rangka, sistem pencahayaan, hingga detail kecil seperti komponen motor listrik dengan aksen besi pada bagian ekor dan penempatan mata kucing, semuanya terlihat identik. Satu-satunya perbedaan yang kasat mata hanyalah pada penggunaan emblem dan stiker grafis yang menempel pada bodi kendaraan.
Menantang Dominasi CR-V, Nissan Rogue 2027 Hadir dengan Teknologi e-Power yang Lebih Agresif
Spesifikasi yang Beriringan
Meski spesifikasi lengkap Kollter ES1-X PRO tidak dipaparkan secara mendalam di laman marketplace tersebut, data singkat yang tersedia menunjukkan penggunaan baterai 72V dengan jangkauan tempuh antara 70 hingga 80 kilometer. Angka ini setali tiga uang dengan spesifikasi teknis yang diusung oleh EMMO JVX GT untuk pasar domestik.
Hingga saat ini, pihak EMMO masih cenderung tertutup mengenai detail teknis dan asal-usul komponen kendaraan mereka untuk proyek MBG. Begitu pula dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Upaya konfirmasi yang ditujukan kepada Ketua BGN, Dadan Hindayana, belum mendapatkan tanggapan resmi hingga narasi ini diturunkan.
Pandangan Ahli: Fenomena CKD dan Strategi Pasar
Menanggapi fenomena ini, Yannes Pasaribu, pengamat otomotif senior dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memberikan perspektif yang mendalam. Menurutnya, kesamaan desain antara produk lokal dengan produk China bukanlah hal baru di industri otomotif tanah air, terutama di sektor kendaraan listrik yang sedang berkembang.
Tren Penjualan Mobil Listrik Polytron Melandai di Awal 2026, Bagaimana Peta Persaingan EV Nasional?
“Fenomena ini terjadi karena mayoritas industri motor listrik Indonesia masih sangat bergantung pada sistem Completely Knock Down (CKD) dari China. Langkah ini sering diambil untuk mengejar efisiensi biaya produksi, akses teknologi yang cepat, dan demi memenuhi syarat administratif di e-Katalog LKPP,” ungkap Yannes.
Namun, Yannes juga mengingatkan adanya konsekuensi jangka panjang. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada komponen impor tanpa adanya upaya membangun ekosistem industri komponen dalam negeri yang kuat hanya akan meminimalisir nilai tambah ekonomi. “Jika ini terus berlanjut, proses transfer teknologi akan terhambat, dan kita hanya akan menjadi perakit yang bergantung pada modal asing,” pungkasnya.