Ketegangan Global: China Kecam Keras Blokade Militer AS di Selat Hormuz sebagai Langkah Berbahaya
TotoNews — Eskalasi ketegangan di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia kembali memanas. Pemerintah China secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap langkah militer Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade di Selat Hormuz. Beijing menilai tindakan Washington tersebut sebagai langkah yang sangat berbahaya, tidak bertanggung jawab, dan berpotensi memicu ledakan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Blokade yang dilancarkan oleh armada militer AS ini menyasar kapal-kapal yang melintasi jalur strategis dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran. Bagi China, manuver sepihak ini hanya akan memperkeruh suasana dan merusak upaya gencatan senjata yang selama ini diupayakan dengan susah payah. Kementerian Luar Negeri China memperingatkan bahwa stabilitas kawasan kini berada di ujung tanduk akibat kebijakan blokade maritim tersebut.
Visi Strategis Presiden Prabowo: Menghadapi Ancaman Krisis Energi Global Melalui Transformasi Hijau yang Proaktif
Seruan Gencatan Senjata Komprehensif
Melansir laporan dari CNBC pada Rabu (15/4/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa solusi militer atau tekanan fisik seperti blokade tidak akan menyelesaikan akar permasalahan. Menurutnya, stabilitas hanya bisa dicapai melalui dialog diplomatik yang jujur dan menyeluruh.
“China berkeyakinan bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri konfrontasi bersenjata, kita dapat menciptakan fondasi yang kuat untuk meredakan ketegangan di selat tersebut,” ujar Jiakun dalam pernyataan resminya. Ia juga menambahkan bahwa Beijing berkomitmen penuh untuk memainkan peran aktif dalam memulihkan perdamaian di Timur Tengah.
Dalam kesempatan yang sama, Jiakun membantah keras tudingan yang menyebut China memasok persenjataan ke Republik Islam Iran. Ia menegaskan bahwa laporan tersebut sepenuhnya adalah rekayasa dan tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
Prediksi Harga Emas: Akankah Pecah Telur Tembus Rp 3 Juta per Gram Pekan Depan?
Dampak Ekonomi dan Pasokan Energi
Langkah AS ini bukan sekadar urusan militer, melainkan juga serangan langsung terhadap urat nadi ekonomi China. Sebagai importir minyak mentah terbesar dari Iran, China memiliki kepentingan krusial agar Selat Hormuz tetap terbuka bagi navigasi internasional. Pemutusan jalur pasokan ini secara otomatis mengancam ketahanan energi dan stabilitas ekonomi domestik Negeri Tirai Bambu tersebut.
Aksi blokade militer AS sendiri dilaporkan telah dimulai sejak Senin lalu, dengan tujuan memaksa Teheran untuk tunduk pada tuntutan internasional. Namun, langkah agresif ini justru terjadi setelah kegagalan negosiasi damai yang berlangsung di Islamabad pada akhir pekan sebelumnya. Hal ini menandai runtuhnya jeda permusuhan yang sempat disepakati oleh pihak-pihak yang bertikai pada awal April lalu.
Masa Depan Tol Tanpa Setop: Mengapa Implementasi MLFF Masih Terganjal di Tahap Uji Coba?
Reaksi Pasar Minyak Dunia
Meskipun situasi di lapangan memanas, harga minyak mentah global menunjukkan tren yang sedikit melandai di bawah angka US$ 100 per barel pada perdagangan hari Selasa. Hal ini dipicu oleh munculnya rumor mengenai kemungkinan adanya celah diplomasi baru untuk menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama enam minggu tersebut.
Minyak mentah jenis Brent mengalami koreksi sekitar 1% ke posisi US$ 98,44 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga merosot 2,6% ke level US$ 96,48 per barel. Para pelaku pasar kini tengah memantau dengan saksama setiap perkembangan di Selat Hormuz, mengingat gangguan sekecil apa pun di jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga yang drastis di pasar energi dunia.
Maruarar Sirait Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah: KAI Siap Rebut Kembali Lahan Tanah Abang demi Hunian Rakyat