Menelisik Prototaxites: Misteri Raksasa Purba Setinggi Gedung yang Menentang Klasifikasi Biologi

Andini Putri Lestari | Totonews
15 Apr 2026, 06:41 WIB
Menelisik Prototaxites: Misteri Raksasa Purba Setinggi Gedung yang Menentang Klasifikasi Biologi

TotoNews — Jauh sebelum dinosaurus menguasai daratan atau pohon-pohon hijau mulai menutupi cakrawala bumi, sebuah pemandangan ganjil mendominasi lanskap planet kita sekitar 400 juta tahun yang lalu. Bayangkan sebuah struktur raksasa, berdiri tegak layaknya monolit setinggi sembilan meter, mencuat di tengah ekosistem yang masih sangat sederhana. Riset terbaru kini mengungkap bahwa makhluk purba ini bukanlah tanaman, hewan, apalagi jamur biasa, melainkan sebuah entitas multiseluler asing yang hingga kini masih membuat para pakar dunia mengernyitkan dahi.

Bukan Tanaman, Bukan Pula Jamur Biasa

Organisme misterius ini dikenal dengan nama Prototaxites. Sejak pertama kali diidentifikasi sekitar 160 tahun yang lalu, klasifikasinya selalu menjadi medan perdebatan sengit di kalangan akademisi. Corentin Loron, seorang ahli paleontologi dari Edinburgh University, menyatakan bahwa berdasarkan analisis mendalam, organisme ini sangat berbeda dari kelompok biologis modern manapun yang kita kenal saat ini. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini mempertegas bahwa misteri alam dari masa Devon awal ini jauh lebih kompleks dari dugaan semula.

Baca Juga

Bukan Sekadar Imajinasi: Menyingkap Fakta Tau Ceti, Sang Bintang Utama di Project Hail Mary

Bukan Sekadar Imajinasi: Menyingkap Fakta Tau Ceti, Sang Bintang Utama di Project Hail Mary

Pada abad ke-19, para ilmuwan awalnya mengira Prototaxites adalah sisa-sisa batang pohon konifer purba yang telah membusuk. Namun, seiring berkembangnya teknologi penelitian ilmiah, terungkap bahwa struktur penyusunnya bukanlah sel berbentuk kotak seperti jaringan tanaman pada umumnya, melainkan jaringan tabung-tabung yang saling menjalin secara rumit.

Jejak Kimiawi dari Mata Air Purba Skotlandia

Fokus penelitian terbaru ini tertuju pada tiga fosil Prototaxites yang ditemukan di situs Rhynie chert, sebuah ekosistem prasejarah yang terletak di dekat Aberdeen, Skotlandia. Tempat ini dikenal sebagai salah satu situs geologi paling berharga di dunia karena mampu mengawetkan tanaman dan fauna terawal dengan detail yang luar biasa. Situs tersebut dulunya merupakan area mata air panas yang mirip dengan Yellowstone di Amerika Serikat.

Baca Juga

Sinergi Strategis Telkom dan PGN: Membangun Masa Depan Green Data Center Melalui Pemanfaatan Biomethane

Sinergi Strategis Telkom dan PGN: Membangun Masa Depan Green Data Center Melalui Pemanfaatan Biomethane

“Kami berhasil menemukan tanda-tanda kimiawi yang memberitahu kami tentang komposisi asli fosil-fosil tersebut. Artinya, fosil ini tidak rusak oleh panas ekstrem atau proses geologi yang berlebihan,” jelas Loron. Menariknya, analisis biomarker atau penanda biologis menunjukkan bahwa Prototaxites memiliki identitas kimiawi yang sangat berbeda dari fosil jamur yang ditemukan di lokasi yang sama.

Teka-Teki Evolusi yang Belum Terpecahkan

Meskipun beberapa peneliti sempat menduga bahwa Prototaxites adalah jenis jamur raksasa karena tidak melakukan fotosintesis, data terbaru justru menunjukkan anomali. Jika ia adalah jamur, seharusnya ia memiliki tren kimiawi yang sama dengan jamur-jamur lain yang terkubur dalam kondisi lingkungan yang identik. Namun, kenyataannya tidak demikian. Struktur fisiknya menentang semua kategori jamur purba maupun modern yang pernah ditemukan.

Baca Juga

Strategi Akselerasi Internet Cepat Indonesia: Sinergi FTTH dan FWA Jadi Solusi Krusial

Strategi Akselerasi Internet Cepat Indonesia: Sinergi FTTH dan FWA Jadi Solusi Krusial

Kevin Boyce, profesor ilmu Bumi dari Stanford University, menambahkan dimensi lain dalam diskusi ini. Ia menyebutkan bahwa organisme ini kemungkinan besar mengonsumsi sumber karbon dari lingkungan sekitarnya, mirip dengan cara kerja organisme yang hidup dari materi organik membusuk. Namun, ia menekankan sebuah paradoks: “Anda bisa membandingkannya dengan jamur, tetapi kelompok jamur seperti yang kita kenal belum benar-benar ada pada masa setua itu.”

Hingga saat ini, masih banyak pertanyaan yang menggantung di udara. Bagaimana cara organisme asing ini menempel pada tanah? Apakah ia tumbuh dengan sangat lambat? Dan bagaimana ia bisa berdiri tegak tanpa jaringan kayu seperti pohon modern? Tim peneliti kini tengah merencanakan studi lanjutan untuk menyelidiki organisme serupa guna memecahkan teka-teki dari fajar kehidupan di Bumi ini.

Baca Juga

Kolaborasi Strategis Indosat dan Google: Pengguna IM3 serta Tri Kini Bisa Nikmati Bonus Gemini AI Plus

Kolaborasi Strategis Indosat dan Google: Pengguna IM3 serta Tri Kini Bisa Nikmati Bonus Gemini AI Plus
Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *