Menelusuri Sisa Kejayaan Stasiun Mampang: Jejak Sejarah yang Kini Terlilit Sampah dan Puing
TotoNews — Di balik deru mesin KRL Commuter Line yang melesat setiap menit, terselip sebuah narasi kelam tentang sebuah tempat yang seolah terlupakan oleh waktu. Stasiun Mampang, sebuah nama yang mungkin asing bagi generasi komuter modern, kini berdiri merana sebagai saksi bisu perkembangan sejarah perkeretaapian di jantung Kota Jakarta.
Monumen Terbengkalai di Tengah Kota
Terletak strategis di antara kesibukan Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman, Stasiun Mampang kini tak lebih dari sebuah bangunan hantu. Berdasarkan pantauan langsung tim TotoNews di lokasi, akses masuk stasiun yang berada di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, tampak terbuka lebar tanpa pengamanan berarti. Ketiadaan pagar pembatas membuat siapa pun bisa dengan bebas keluar masuk kawasan yang seharusnya menjadi area steril ini.
Strategi Cerdas Miliki Koleksi Fashion Branded Tanpa Menguras Tabungan: Panduan Lengkap Promo Eksklusif TFI
Kesan angker dan tidak terawat langsung menyambut begitu kita menginjakkan kaki di area utara stasiun. Tumpukan berbagai jenis sampah, mulai dari limbah rumah tangga hingga material sisa, berserakan menghiasi sudut-sudut stasiun. Bangunan mungil yang dahulu berfungsi sebagai loket tiket kini kondisinya sangat memprihatinkan; atapnya telah hilang, jendela-jendela yang pecah, serta dinding beton yang kusam penuh dengan coretan vandalisme.
Saksi Bisu Zaman Kolonial yang Kian Rapuh
Stasiun Mampang bukan sekadar perhentian biasa. Bangunan ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman penjajahan Belanda. Namun, nilai historis tersebut seolah luntur tertutup debu dan puing. Di sisi lain stasiun, hanya tersisa sebuah tiang besi yang menyerupai kerangka halte dengan tulisan “Mampang” yang mulai memudar, tanpa adanya jalur penyeberangan yang aman bagi pejalan kaki.
Mengintip Gurihnya Bisnis Joki Antrean: Modal Sabar, Cuan Mengalir Hingga Rp300 Ribu per Hari
Meski statusnya sebagai bangunan terbengkalai, rel di hadapan stasiun ini masih sangat aktif. Sering kali, rangkaian KRL terpaksa berhenti sejenak tepat di depan stasiun tua ini untuk menunggu sinyal masuk ke stasiun berikutnya. Dalam momen-momen diam tersebut, terlihat jelas betapa stasiun ini sudah tidak lagi mampu menunjang aktivitas transportasi modern.
Kendala Teknis yang Menutup Peluang Operasional
Secara teknis, mengaktifkan kembali Stasiun Mampang bukanlah perkara mudah. Peron yang tersedia saat ini jauh dari standar kelayakan. Tingginya hanya sejajar dengan roda besi kereta, sangat kontras dengan pintu KRL masa kini yang memerlukan peron tinggi demi kenyamanan penumpang. Selain itu, panjang peron yang ada diperkirakan hanya mampu menampung sekitar empat gerbong, jauh di bawah standar rangkaian KRL saat ini yang mencapai 10 hingga 12 gerbong.
Cetak Rekor Sejarah! Stok Beras Nasional Tembus 4,9 Juta Ton, Mentan Pantau Langsung Gudang BULOG Jatim
Permukaan peron pun kini tertutup oleh tanah, kerikil, pecahan kaca, dan puing-puing bangunan. Kondisi ini membuat impian untuk melihat Stasiun Mampang kembali melayani transportasi Jakarta terasa sangat jauh. Tanpa revitalisasi total, stasiun ini akan terus menjadi kerangka tua yang perlahan habis dimakan usia dan sampah di tengah gemerlapnya ibu kota.