Kemenperin Patahkan Narasi Deindustrialisasi: Sektor Manufaktur RI Masih Menjadi Tulang Punggung Ekonomi

Siti Aminah | Totonews
29 Apr 2026, 20:42 WIB
Kemenperin Patahkan Narasi Deindustrialisasi: Sektor Manufaktur RI Masih Menjadi Tulang Punggung Ekonomi

TotoNews — Di tengah berkembangnya diskursus mengenai pelemahan sektor industri di tanah air, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) secara tegas menepis anggapan bahwa Indonesia tengah berada dalam bayang-bayang deindustrialisasi. Pemerintah justru menyodorkan sederet data fundamental yang membuktikan bahwa denyut nadi sektor manufaktur nasional masih berdetak kencang dan memberikan kontribusi positif bagi stabilitas ekonomi.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa polemik mengenai deindustrialisasi biasanya berpijak pada tiga parameter utama: penurunan kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), laju pertumbuhan industri yang tertinggal dari ekonomi nasional, serta migrasi investasi dan tenaga kerja ke sektor jasa. Namun, menurutnya, ada konteks metodologi yang seringkali luput dari perhatian para kritikus dan pengamat ekonomi.

Baca Juga

Strategi Jitu Gubernur BI di Panggung G20-BRICS: Tiga Langkah Menuju Resiliensi Ekonomi Global

Strategi Jitu Gubernur BI di Panggung G20-BRICS: Tiga Langkah Menuju Resiliensi Ekonomi Global

Meluruskan Distorsi Data PDB

Salah satu poin krusial yang disoroti Febri adalah adanya perubahan fundamental dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) serta metode penghitungan PDB oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2009 dan 2020. Perubahan ini secara otomatis mengubah komposisi dan definisi apa yang dikategorikan sebagai industri pengolahan.

“Perubahan cara hitung tersebut membuat data lintas periode menjadi tidak apple to apple. Oleh karena itu, penurunan kontribusi PDB tidak bisa dilihat secara mentah hanya dengan membandingkan periode yang berbeda metodologinya,” ungkap Febri dalam sebuah konferensi pers di Jakarta. Ia menegaskan bahwa jika merujuk pada data pasca-2020 yang sudah konsisten, tren kontribusi manufaktur justru memperlihatkan kurva peningkatan yang menjanjikan, seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

Baca Juga

Revolusi Finansial Prabowo: Perintahkan Bunga Kredit Rakyat Turun Drastis ke Angka 5 Persen

Revolusi Finansial Prabowo: Perintahkan Bunga Kredit Rakyat Turun Drastis ke Angka 5 Persen

Pertumbuhan yang Konsisten dan Menguntungkan

Dari aspek performa, Kemenperin mencatat bahwa industri manufaktur tetap berada di jalur pertumbuhan yang sehat, yakni pada kisaran 4% hingga 6%. Angka ini dinilai selaras, bahkan dalam beberapa kesempatan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di level 5%. Kondisi ini mematahkan argumen bahwa industri manufaktur mulai kehilangan relevansinya.

Selain itu, daya tarik investasi manufaktur tetap menjadi primadona bagi para pemodal. Febri menekankan bahwa sektor ini masih sangat menguntungkan, terbukti dari aliran modal yang terus mengalir masuk, yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang industri di Indonesia.

Dinamika Tenaga Kerja dan Penyerapan Lapangan Kerja

Isu mengenai pergeseran tenaga kerja ke sektor jasa juga tak luput dari klarifikasi Kemenperin. Febri menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pekerja di sektor jasa bukanlah disebabkan oleh eksodus pekerja dari pabrik-pabrik manufaktur. Sebaliknya, hal ini terjadi karena laju supply angkatan kerja baru yang sangat besar setiap tahunnya.

Baca Juga

Ekspansi Pangan: Indonesia Jajaki Peluang Ekspor 200 Ribu Ton Beras ke Malaysia

Ekspansi Pangan: Indonesia Jajaki Peluang Ekspor 200 Ribu Ton Beras ke Malaysia

“Sektor manufaktur kita secara konsisten mampu menyerap tambahan sekitar 200.000 hingga 300.000 tenaga kerja setiap tahun. Namun, karena jumlah angkatan kerja baru tumbuh lebih cepat daripada kapasitas ekspansi industri, maka sebagian besar dari mereka terserap ke sektor non-manufaktur seperti jasa,” jelasnya secara naratif.

Sebagai penutup, Kemenperin menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat struktur industri nasional melalui berbagai kebijakan strategis. Dengan data yang ada, pemerintah optimistis bahwa sektor manufaktur akan tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, sekaligus menepis kekhawatiran publik mengenai fenomena deindustrialisasi dini di Indonesia.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *