Strategi Cerdik Kemendag: Bidik Pasar Asia dan Afrika di Tengah Bara Geopolitik Timur Tengah

Siti Aminah | Totonews
03 Mei 2026, 22:42 WIB
Strategi Cerdik Kemendag: Bidik Pasar Asia dan Afrika di Tengah Bara Geopolitik Timur Tengah

TotoNews — Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas tidak menyurutkan optimisme nakhoda perdagangan Indonesia untuk terus memperluas jangkauan pasar internasional. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah kini tengah gencar melakukan manuver strategis dengan menjajaki potensi ekspor Indonesia ke kawasan baru, yakni Afrika dan Asia.

Melirik Celah di Tengah Krisis

Langkah taktis ini diambil bukan tanpa alasan. Situasi di Timur Tengah yang masih dibayangi konflik memerlukan mitigasi risiko yang tepat agar kinerja perdagangan nasional tidak limbung. “Kami sedang mencoba menjajaki pasar di Afrika dan Asia sebagai alternatif untuk menggantikan peran pasar di Timur Tengah yang saat ini tengah mengalami ketidakpastian,” ujar Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Baca Juga

Promo Gila Transmart Full Day Sale: Sikat Samsung LED TV 43 Inch UHD Smart dengan Diskon Jutaan Rupiah!

Promo Gila Transmart Full Day Sale: Sikat Samsung LED TV 43 Inch UHD Smart dengan Diskon Jutaan Rupiah!

Meski mencari pasar baru sering kali dianggap sebagai tantangan berat bagi sebagian pihak, Budi menepis anggapan tersebut. Baginya, situasi krisis global justru sering kali menjadi katalisator yang membuka pintu peluang bagi produk-produk lokal untuk merangsek masuk ke pasar yang selama ini sulit ditembus.

Belajar dari Pengalaman Pandemi

Pemerintah tampaknya belajar banyak dari masa sulit sebelumnya. Budi mencontohkan bagaimana Indonesia berhasil menavigasi hambatan perdagangan saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Menurutnya, ketika rantai pasok global terganggu akibat konflik geopolitik, selalu ada celah yang ditinggalkan oleh negara-negara penyuplai lama yang terhenti distribusinya.

“Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, seperti saat COVID, membuktikan bahwa krisis justru membuka pasar-pasar baru. Ketika pasokan dari negara tertentu terhenti, itulah momentum emas bagi Indonesia untuk masuk dan mengisi kekosongan tersebut,” tambahnya dengan nada optimis.

Baca Juga

Dinamika Kebijakan Fiskal: Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Seirama dengan Bahlil Soal Penundaan Royalti Tambang

Dinamika Kebijakan Fiskal: Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Seirama dengan Bahlil Soal Penundaan Royalti Tambang

Kinerja Ekspor Tetap Solid

Walaupun bayang-bayang konflik menghantui, data menunjukkan bahwa performa dagang Indonesia di awal tahun 2026 masih berada di jalur hijau. Sepanjang periode Januari hingga Februari 2026, tercatat pertumbuhan ekspor mencapai angka 2,19%. Capaian ini menunjukkan resiliensi ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masif.

Menariknya, meskipun tensi di Timur Tengah meningkat, neraca perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut masih mencatatkan rapor positif. Khusus untuk sektor non-migas, Indonesia masih mengantongi surplus sebesar US$ 641 juta pada dua bulan pertama tahun ini.

“Capaian di Timur Tengah per Januari dan Februari masih surplus. Kami memproyeksikan tren positif ini akan terus berlanjut dan tumbuh konsisten pada bulan Maret dan seterusnya,” pungkas Menteri Perdagangan tersebut. Dengan diversifikasi pasar yang agresif, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi meskipun badai geopolitik global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca Juga

Waspada Badai PHK Massal 2026: Sektor Manufaktur RI Terhimpit Konflik Timur Tengah dan Pelemahan Rupiah

Waspada Badai PHK Massal 2026: Sektor Manufaktur RI Terhimpit Konflik Timur Tengah dan Pelemahan Rupiah
Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *