Fenomena Digital Detox: Mengapa iPod Jadul Kembali Menjadi Incaran Gen Z Hingga Harganya Meroket?

Andini Putri Lestari | Totonews
04 Mei 2026, 18:42 WIB
Fenomena Digital Detox: Mengapa iPod Jadul Kembali Menjadi Incaran Gen Z Hingga Harganya Meroket?

TotoNews — Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan dan penetrasi smartphone yang kian mendominasi setiap detik kehidupan manusia, sebuah tren anomali justru muncul dari generasi yang paling akrab dengan dunia digital. Gen Z, yang sering dianggap sebagai penduduk asli dunia maya, kini justru memelopori gerakan kembali ke masa lalu dengan menghidupkan kembali tren penggunaan iPod Classic dan berbagai lini pemutar musik legendaris milik Apple lainnya.

Langkah ini bukan sekadar nostalgia sesaat. Fenomena ini merupakan bentuk perlawanan terhadap ketergantungan yang berlebihan pada smartphone yang kini dianggap terlalu menyita perhatian dan kesehatan mental. Setelah sebelumnya mempopulerkan kembali ponsel fitur atau ‘dumbphone’, kini giliran iPod—perangkat yang sempat dinyatakan ‘mati’ oleh Apple—yang mendadak menjadi primadona di pasar barang bekas dengan harga yang di luar nalar.

Baca Juga

Langkah Berani Beijing: Meta Terpaksa Batalkan Akuisisi Startup AI Manus Senilai USD 2 Miliar

Langkah Berani Beijing: Meta Terpaksa Batalkan Akuisisi Startup AI Manus Senilai USD 2 Miliar

Gelombang Nostalgia yang Tak Terbendung

Sebagaimana diketahui, Apple secara resmi telah menghentikan produksi seluruh lini iPod pada tahun 2022, setelah iPod Touch generasi ketujuh menjadi produk terakhir yang dipasarkan. Selama masa kejayaannya yang membentang selama 21 tahun, Apple tercatat berhasil melepas lebih dari 450 juta unit iPod ke seluruh dunia. Angka yang masif ini membuat perangkat tersebut kini tersebar luas di berbagai platform jual-beli seperti eBay, Facebook Marketplace, hingga toko barang antik.

Namun, pasokan yang melimpah tidak lantas membuat harganya menjadi murah. Sebaliknya, permintaan yang melonjak tajam justru menciptakan ketidakseimbangan pasar. Berdasarkan laporan terbaru dari Axios, penelusuran kata kunci untuk produk pemutar musik ikonik ini mengalami kenaikan yang signifikan. Sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025, pencarian untuk ‘iPod Classic’ di platform eBay melonjak hingga 25% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tak ketinggalan, iPod Nano juga mengalami peningkatan minat sebesar 20%, membuktikan bahwa ukuran kecil bukan penghalang bagi para pemburu gadget retro.

Baca Juga

Ancaman Mematikan Hantavirus di MV Hondius: Kronologi, Bahaya Andes Virus, dan Perburuan Kontak Lintas Benua

Ancaman Mematikan Hantavirus di MV Hondius: Kronologi, Bahaya Andes Virus, dan Perburuan Kontak Lintas Benua

Data Berbicara: Lonjakan Pencarian dan Kenaikan Harga Gila-gilaan

Kenaikan popularitas ini dikonfirmasi lebih lanjut oleh laporan mendalam dari The New York Times. Data internal eBay menunjukkan bahwa pencarian kata kunci ‘iPod’ secara umum di tahun 2025 tumbuh sekitar 8% secara tahunan. Yang lebih mengejutkan, jumlah listing atau iklan penjualan iPod juga meningkat hingga 30%. Hal ini menandakan bahwa para kolektor dan pemilik lama mulai menyadari bahwa barang yang selama ini tersimpan di laci mereka kini telah berubah menjadi aset berharga yang sangat dicari.

Namun, bagi mereka yang baru ingin memulai hobi ini, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih dalam. Sisi gelap dari tren ini adalah harganya yang meroket tajam. Tercatat, harga rata-rata iPod bekas di pasaran telah naik hingga 60% jika dibandingkan dengan harga pada tahun 2023. Beberapa model langka atau yang masih dalam kondisi sempurna (mint condition) bahkan dilaporkan laku terjual dengan harga menembus angka USD 600 atau sekitar Rp 9,5 juta.

Baca Juga

Strategi Besar Intel Hadapi AMD: Fokus Pada Optimasi Software dan Bocoran Rahasia Arc G3

Strategi Besar Intel Hadapi AMD: Fokus Pada Optimasi Software dan Bocoran Rahasia Arc G3

Sebagai perbandingan, dengan budget sebesar itu, seorang konsumen sebenarnya sudah bisa memboyong iPhone 17e terbaru yang memiliki teknologi kamera mutakhir, layar OLED, dan konektivitas 5G yang super cepat. Namun, bagi Gen Z, fungsionalitas modern bukanlah prioritas utama dalam perburuan ini.

Melawan Algoritma: Alasan di Balik Pilihan Gen Z

Lantas, apa yang membuat perangkat yang hanya bisa memutar musik ini begitu spesial di mata generasi muda? Alasan utamanya adalah keinginan untuk lepas dari cengkeraman algoritma. Di era streaming seperti sekarang, aplikasi musik sering kali mendikte apa yang harus kita dengarkan berdasarkan pola konsumsi data. Dengan iPod, pengguna memiliki kontrol penuh atas perpustakaan musik mereka secara offline.

Baca Juga

Terobosan Besar Tesla: Gandeng Intel Garap Chip 14A untuk Megaproyek AI Terafab

Terobosan Besar Tesla: Gandeng Intel Garap Chip 14A untuk Megaproyek AI Terafab

“Mendengarkan musik melalui iPod memberikan pengalaman yang lebih intim. Saya harus memilih lagu secara manual, menyinkronkannya melalui komputer, dan saya benar-benar memiliki file musik tersebut, bukan sekadar menyewa akses dari platform streaming,” ujar salah seorang pengguna muda kepada The New York Times. Dengan cara ini, mereka bisa menikmati musik tanpa gangguan iklan, tanpa perlu koneksi internet, dan yang terpenting, tanpa pengaruh algoritma yang sering kali repetitif.

iPod Sebagai “Escape Room” dari Notifikasi yang Berisik

Keunggulan lain dari iPod di mata Gen Z adalah sifatnya yang ‘single-tasking’. Smartphone modern dirancang untuk melakukan segalanya, namun konsekuensinya adalah gangguan yang tiada henti. Saat sedang asyik mendengarkan musik di smartphone, tiba-tiba muncul notifikasi WhatsApp, email pekerjaan, atau pemberitahuan media sosial yang merusak suasana.

iPod menawarkan ruang isolasi yang sempurna. Perangkat ini hanya memiliki satu tujuan: memutar musik. Tidak ada fitur scrolling TikTok, tidak ada DM yang masuk, dan tidak ada gangguan visual lainnya. Hal ini menjadikannya alat yang sangat efektif untuk mempraktikkan gaya hidup digital detox tanpa harus kehilangan akses terhadap hiburan favorit.

Selain itu, aspek regulasi di lingkungan pendidikan juga turut andil. Banyak sekolah menengah maupun perguruan tinggi yang kini menerapkan aturan ketat larangan membawa smartphone ke dalam kelas. Menariknya, iPod sering kali lolos dari larangan tersebut karena dianggap bukan sebagai alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyontek atau bermain media sosial. Alhasil, iPod menjadi celah legal bagi siswa untuk tetap bisa menikmati musik di sela-sela waktu belajar.

Komunitas Modding dan Napas Baru Perangkat Tua

Popularitas iPod juga didorong oleh subkultur modding yang berkembang pesat. Di forum-forum online, banyak pengguna yang membagikan cara mengganti baterai lama dengan baterai berkapasitas lebih besar, atau mengganti hard disk mekanis yang rawan rusak dengan penyimpanan SSD atau kartu SD melalui adaptor khusus.

Modifikasi ini memungkinkan sebuah iPod Classic lawas memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1TB atau lebih, cukup untuk menyimpan ribuan lagu dalam format lossless tanpa kompresi. Hal ini menarik bagi para audiophile muda yang menginginkan kualitas suara terbaik di perangkat yang ikonik.

Pandangan Tony Fadell: Haruskah Apple Menghidupkan Kembali Sang Legenda?

Melihat fenomena ini, muncul pertanyaan besar: Apakah Apple akan mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali lini iPod? Hingga saat ini, raksasa teknologi asal Cupertino tersebut tampak masih teguh pada pendiriannya untuk fokus pada ekosistem iPhone dan Apple Music. Namun, Tony Fadell, sosok yang dikenal sebagai ‘Bapak iPod’, memberikan pandangan yang menarik.

Dalam sebuah wawancara, Fadell meyakini bahwa ada ruang bagi Apple untuk melahirkan kembali iPod dalam versi modern. Namun, ia menekankan bahwa perangkat tersebut tidak boleh sekadar menjadi pemutar musik biasa. Menurutnya, iPod masa depan harus mampu menjawab kebutuhan privasi dan kesehatan mental penggunanya di era yang serba terkoneksi ini. Meskipun Apple belum memberikan sinyal hijau, namun desakan pasar yang terus tumbuh bisa saja mengubah peta jalan mereka di masa depan.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tren Sesaat

Kebangkitan iPod di tangan Gen Z adalah sinyal kuat bahwa ada kejenuhan kolektif terhadap teknologi yang terlalu invasif. Ini bukan hanya soal gaya atau estetika retro, melainkan upaya sadar untuk mengambil kembali kendali atas perhatian dan waktu kita. Meskipun harganya kini setara dengan smartphone kelas menengah terbaru, bagi para pecintanya, ketenangan pikiran yang ditawarkan oleh perangkat mungil dengan ‘click wheel’ ini benar-benar tak ternilai harganya.

Apakah Anda masih menyimpan gadget lawas di gudang? Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk membersihkannya dari debu, karena siapa tahu, perangkat yang Anda anggap sampah itu kini tengah menjadi rebutan di pasar global.

Andini Putri Lestari

Andini Putri Lestari

Antusias teknologi dan internet. Andini bertugas mengisi kolom Inet dengan ulasan gadget terbaru dan edukasi literasi digital bagi generasi milenial.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *