80 Kali Khataman Al-Qur’an: Langkah Spiritual Polda Sumsel Mengawal 8 Dekade Kejayaan Bumi Sriwijaya
TotoNews — Di bawah langit Sumatera Selatan yang teduh, gema ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun syahdu, membelah kebisingan kota dan desa. Bukan sekadar rutinitas ibadah biasa, kali ini Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) menginisiasi sebuah gerakan spiritual berskala besar yang jarang terjadi. Sebanyak 80 kali khataman Al-Qur’an digelar secara serentak di berbagai penjuru Bumi Sriwijaya sebagai bentuk syukur sekaligus kado religius bagi hari jadi Provinsi Sumatera Selatan yang ke-80 tahun.
Kegiatan yang penuh khidmat ini dipimpin langsung oleh Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Sandi Nugroho. Inisiatif ini mencerminkan wajah baru kepolisian yang tidak hanya mengandalkan pendekatan hukum dan fisik, tetapi juga menyentuh sisi fundamental masyarakat melalui penguatan nilai-nilai keagamaan. Langkah ini dipandang sebagai upaya harmonisasi antara tugas kenegaraan dan pengabdian spiritual kepada Sang Pencipta.
Tensi Memuncak: Israel Gempur Jantung Petrokimia Iran Usai Ultimatum Keras Donald Trump
Sinergi Spiritual di Ambang Perayaan Delapan Dekade
Memasuki usia ke-80, Provinsi Sumatera Selatan berdiri di ambang transformasi besar. Namun, bagi jajaran Polda Sumsel, kemajuan pembangunan fisik harus senantiasa diiringi dengan ketahanan mental dan spiritual. Khataman Al-Qur’an massal yang dilaksanakan pada Jumat, 15 Mei 2026 ini dimulai sejak pukul 13.00 WIB hingga menjelang senja pukul 17.00 WIB. Pemilihan angka 80 tentu bukan tanpa alasan; angka tersebut menjadi simbolisasi doa bagi setiap tahun perjalanan provinsi ini sejak berdiri hingga sekarang.
Melalui khataman Al-Quran ini, doa-doa dipanjatkan agar Sumatera Selatan terus diberkahi dengan keamanan yang stabil, kedamaian antarwarga, serta kelancaran dalam seluruh agenda pembangunan daerah. Suasana religius yang tercipta di berbagai titik pelaksanaan memperlihatkan betapa kuatnya ikatan antara aparat penegak hukum dengan elemen masyarakat, khususnya para santri dan ulama.
Pulihkan Harapan Pasca-Banjir, Polres Sukoharjo Fasilitasi Pengurusan Dokumen Warga yang Hilang
Melibatkan Jaringan Pondok Pesantren Terkemuka
Pelaksanaan kegiatan ini tidak berpusat di satu titik saja. Polda Sumsel merangkul sedikitnya 10 pondok pesantren besar di wilayah Sumatera Selatan untuk memastikan getaran doa terasa hingga ke pelosok daerah. Beberapa institusi pendidikan Islam yang menjadi titik sentral antara lain Pondok Pesantren Albadar di Kemuning, Pondok Pesantren Masdarul Ulum di Pemulutan, hingga Pondok Pesantren Alfaqihiyyah di Banyuasin.
Keterlibatan ratusan santri dalam agenda ini memberikan warna tersendiri. Para santri, yang merupakan pilar moral masa depan bangsa, duduk bersila berdampingan dengan personel kepolisian. Mereka melantunkan ayat demi ayat dengan tajwid yang sempurna, menciptakan harmoni yang menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Sinergi ini menunjukkan bahwa keamanan masyarakat bukan hanya tanggung jawab mereka yang berseragam, melainkan hasil dari kolaborasi batiniah seluruh elemen bangsa.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto Kecam Keras Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Kampus: Tidak Ada Toleransi!
Filosofi Keamanan Berbasis Iman dan Moral
Polda Sumsel memberikan perspektif menarik mengenai pembangunan nasional. Bagi institusi ini, sebuah wilayah tidak bisa dikatakan benar-benar maju jika hanya unggul dalam infrastruktur beton dan pertumbuhan ekonomi semata. Ada aspek ketahanan moral dan harmoni sosial yang jauh lebih krusial untuk dijaga. Irjen Sandi Nugroho menekankan bahwa pengabdian Polri harus berjalan selaras dengan napas religiusitas dan budaya lokal masyarakat setempat.
“Kami ingin memastikan bahwa dalam mengawal pembangunan nasional dan menjaga keamanan daerah, Polri senantiasa memohon rida Tuhan Yang Maha Esa. Angka 80 kali khotaman ini merupakan doa dan harapan kami untuk Sumatera Selatan agar semakin maju, aman, dan sejahtera di usia ke-80 tahun,” ungkap Irjen Sandi dalam keterangannya yang diterima oleh tim redaksi kami. Pernyataan ini menegaskan bahwa kepolisian di bawah kepemimpinannya menempatkan spiritualitas sebagai fondasi dalam menjalankan tugas-tugas menjaga ketertiban.
Skandal Spionase: Dua Teknisi Jet Tempur Israel Didakwa Jadi Mata-Mata Intelijen Iran
Transformasi Polri Presisi dalam Implementasi Nyata
Langkah religius yang diambil oleh jajaran Polda Sumsel ini merupakan turunan langsung dari kebijakan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Konsep Polri Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) memang mendorong setiap anggota Polri untuk lebih humanis dan dekat dengan masyarakat. Dengan menempatkan pendekatan religius sebagai salah satu strategi pengamanan, Polri berupaya membangun kepercayaan publik yang lebih dalam.
Di lapangan, pendekatan ini terbukti efektif dalam meredam potensi konflik dan mempererat silaturahmi. Ketika masyarakat melihat polisi sebagai sosok yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai agama, maka hambatan komunikasi antara aparat dan warga akan terkikis dengan sendirinya. Inilah yang menjadi esensi dari transformasi Polri yang lebih modern namun tetap berakar pada kearifan lokal.
Strategi ‘Cooling System’ Melalui Getaran Doa
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu’min Wijaya, menjelaskan sisi teknis di balik kegiatan ini. Beliau menyebutkan bahwa khataman serentak ini merupakan bagian dari strategi cooling system atau sistem pendingin sosial. Di tengah dinamika pembangunan yang terkadang menimbulkan gesekan kecil di masyarakat, pendekatan spiritual berfungsi sebagai penenang batin kolektif.
“Khataman Al-Qur’an serentak ini adalah bentuk komitmen Polda Sumsel dalam mendukung terciptanya masyarakat yang harmonis dan kondusif. Kami percaya stabilitas kamtibmas yang kuat lahir dari kedekatan spiritual, sinergi ulama dan umaro, serta kehadiran Polri yang humanis di tengah masyarakat,” kata Kombes Nandang. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial, sehingga Sumatera Selatan tetap menjadi provinsi yang toleran dan damai.
Menatap Masa Depan Sumatera Selatan yang Sejahtera
Kegiatan yang berakhir tepat sebelum waktu Maghrib ini ditutup dengan doa bersama yang sangat emosional. Seluruh hadirin mendoakan keselamatan bangsa, kedamaian daerah, serta kesuksesan agenda pembangunan pemerintah yang sedang berjalan di Sumatera Selatan. Keberhasilan acara ini bukan diukur dari meriahnya seremoni, melainkan dari kedalaman makna yang ditinggalkan dalam hati para peserta.
Dengan terlaksananya 80 kali khataman Al-Qur’an ini, harapan besar disampirkan pada pundak seluruh warga Sumatera Selatan. Sebagai salah satu provinsi tertua dan bersejarah di Indonesia, Bumi Sriwijaya diharapkan terus menjadi pelopor dalam menyatukan kemajuan teknologi dengan kekuatan iman. Irjen Sandi Nugroho dan jajarannya telah memberikan contoh nyata bahwa menjaga keamanan tidak melulu soal senjata, tapi juga soal bagaimana mengetuk pintu langit agar keberkahan senantiasa turun menaungi setiap langkah warga Sumatera Selatan.