Manuver ‘All Out’ Perry Warjiyo: Strategi Tak Biasa Bank Indonesia Demi Membentengi Rupiah dari Goncangan Global

Siti Aminah | Totonews
18 Mei 2026, 18:42 WIB
Manuver 'All Out' Perry Warjiyo: Strategi Tak Biasa Bank Indonesia Demi Membentengi Rupiah dari Goncangan Global

TotoNews — Di tengah pusaran ketidakpastian ekonomi global yang kian kencang, Bank Indonesia (BI) mengambil posisi yang tidak main-main. Di bawah komando Gubernur Perry Warjiyo, bank sentral Indonesia ini menegaskan bahwa mereka tidak lagi menggunakan pendekatan standar dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Alih-alih hanya mengikuti arus pasar, BI kini melancarkan strategi yang disebut sebagai operasi ‘all out’—sebuah pengerahan seluruh kekuatan moneter untuk memastikan mata uang Garuda tidak terjerembab lebih dalam oleh dominasi dolar AS.

Strategi di Luar Pakem: Menghadapi Badai dengan Kekuatan Penuh

Dalam sebuah pertemuan krusial dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta baru-baru ini, Perry Warjiyo memaparkan narasi yang cukup mengejutkan mengenai kondisi pasar keuangan kita. Menurutnya, situasi saat ini menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Istilah business as usual kini telah dihapus dari kamus kebijakan BI. Dampak dari gejolak ekonomi yang bersumber dari Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik menuntut respons yang cepat, masif, dan terukur.

Baca Juga

Perkuat Struktur dan Modal, BTN Tunjuk Deputi BP BUMN Jadi Wakil Komisaris Utama

Perkuat Struktur dan Modal, BTN Tunjuk Deputi BP BUMN Jadi Wakil Komisaris Utama

“Kami melakukan intervensi valas secara besar-besaran, baik di pasar domestik melalui transaksi spot maupun di pasar luar negeri melalui instrumen tertentu,” ujar Perry dengan nada tegas. Upaya ini merupakan bentuk perlindungan berlapis agar volatilitas rupiah tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional yang sedang dalam fase pemulihan. Perry menyadari bahwa tanpa langkah agresif, sentimen negatif global bisa dengan mudah merusak fundamental ekonomi dalam negeri.

Cadangan Devisa dan Seni Intervensi yang Terukur

Salah satu konsekuensi dari perang melawan pelemahan mata uang ini adalah tergerusnya cadangan devisa (cadev). Perry mengakui bahwa cadangan devisa Indonesia sempat mengalami penurunan hingga US$ 10 miliar. Namun, di balik angka yang tampak mengkhawatirkan tersebut, terdapat strategi pengelolaan risiko yang sangat cermat. TotoNews mencatat bahwa BI tidak sekadar “membakar” dolar untuk menstabilkan rupiah.

Baca Juga

Ekspansi Strategis BTN: Resmikan Ecopark Dago dan Tiga Kantor Cabang Berkonsep Digital

Ekspansi Strategis BTN: Resmikan Ecopark Dago dan Tiga Kantor Cabang Berkonsep Digital

Perry menjelaskan bahwa lebih dari dua pertiga dari intervensi tersebut dilakukan melalui mekanisme swap dan hedging (lindung nilai). Strategi ini sengaja dipilih agar intervensi tunai tidak terlalu menguras cadangan devisa secara prematur. Dengan demikian, meskipun angka cadev menurun, ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga dalam batas yang aman. Ini adalah sebuah seni diplomasi moneter di mana BI tetap mampu menunjukkan taringnya di pasar tanpa harus kehilangan seluruh peluru dalam waktu singkat.

Belajar dari Trauma Krisis 1998 dan 2008: Menjaga Likuiditas Tetap Mengalir

Pengalaman adalah guru terbaik, dan Bank Indonesia tampaknya sangat memegang teguh prinsip ini. Perry Warjiyo merujuk pada memori kelam krisis finansial tahun 1997-1998 dan 2008. Pada masa itu, otoritas moneter seringkali terlalu fokus pada stabilitas nilai tukar hingga secara tidak sengaja menyebabkan “kekeringan” likuiditas di pasar domestik. Akibatnya, perbankan kesulitan menyalurkan kredit dan ekonomi sektor riil terhenti.

Baca Juga

Ekspansi Strategis: PT Hoi Fu Kucurkan Rp 1,12 Triliun Bangun Pabrik Kemasan Raksasa di KEK Kendal

Ekspansi Strategis: PT Hoi Fu Kucurkan Rp 1,12 Triliun Bangun Pabrik Kemasan Raksasa di KEK Kendal

“Kami tidak ingin sejarah itu terulang. Itulah sebabnya kami membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder agar likuiditas tetap mengucur ke pasar,” jelas Perry. Berdasarkan data yang dihimpun TotoNews, sepanjang tahun 2025 saja, BI telah menyerap SBN senilai Rp 332 triliun, dan berlanjut hingga Rp 133 triliun secara year to date pada tahun 2026. Langkah ini bertujuan ganda: menjaga agar rupiah tetap stabil namun di saat yang sama memastikan perbankan memiliki dana yang cukup untuk memutar roda ekonomi.

Mempersempit Ruang Gerak Spekulan: Pembatasan Dolar AS yang Kian Ketat

Langkah yang paling menyita perhatian publik adalah keputusan BI untuk memperketat akses terhadap dolar Amerika Serikat. Perry Warjiyo tampaknya ingin mengirimkan pesan kuat kepada para spekulan mata uang. Mulai Juni 2026, batas pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying) akan dipangkas drastis menjadi hanya US$ 25 ribu per bulan, dari yang sebelumnya US$ 50 ribu, dan jauh di bawah batas awal US$ 100 ribu.

Baca Juga

Kebumen Menembus Pasar Global: 80 Ton Udang Kualitas Premium Siap Guncang Amerika Serikat di Bawah Pantauan Prabowo

Kebumen Menembus Pasar Global: 80 Ton Udang Kualitas Premium Siap Guncang Amerika Serikat di Bawah Pantauan Prabowo

Kebijakan ini diambil untuk memastikan bahwa permintaan terhadap dolar benar-benar didasari oleh kebutuhan riil, seperti impor barang atau pembayaran utang luar negeri, bukan sekadar motif mencari keuntungan dari selisih kurs. Dengan menyisir transaksi-transaksi kecil namun masif, BI berharap dapat menekan tekanan permintaan yang bersifat non-fundamental. Perry bahkan sempat berujar dengan bahasa yang santai namun penuh makna, menyebut bahwa mereka yang membeli dolar tanpa alasan jelas sudah bersifat berlebihan atau ‘nemen’.

Menarik Arus Modal Melalui Instrumen Moneter Inovatif

Selain melakukan intervensi langsung, Bank Indonesia juga terus mempercantik instrumen investasinya agar investor asing tetap tertarik memarkirkan dananya di Indonesia. Suku bunga acuan atau BI-Rate dipertahankan di level 4,75%, namun senjata utamanya adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Untuk tenor 12 bulan, SRBI menawarkan imbal hasil yang cukup menggiurkan, yakni sekitar 6,41%.

Hasilnya pun mulai terlihat. Arus modal asing (inflow) yang sempat kabur ke luar negeri kini dilaporkan mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Strategi ini dikombinasikan dengan Twist Operation, di mana BI menjual SBN jangka pendek untuk menarik minat investor, namun tetap membeli SBN jangka panjang agar yield atau imbal hasil obligasi pemerintah tidak melonjak terlalu tinggi yang bisa membebani APBN.

Diversifikasi Mata Uang dan Diplomasi Ekonomi Lintas Negara

Sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Greenback, BI terus memperluas kerangka Local Currency Transaction (LCT). Saat ini, transaksi rupiah-yuan telah diperluas dan terintegrasi dengan hub keuangan di Hong Kong dan China. Ini berarti eksportir dan importir bisa langsung bertransaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa harus dikonversi terlebih dahulu ke dolar AS.

Tidak hanya itu, BI juga mulai menunjuk bank-bank domestik pilihan untuk melakukan transaksi offshore non-deliverable forward (NDF). Ini adalah langkah strategis untuk membentuk harga rupiah di pasar internasional agar tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya di dalam negeri. Seluruh manuver ini dikawal dengan pengawasan yang sangat ketat terhadap korporasi besar yang melakukan pembelian dolar dalam volume raksasa.

Proyeksi dan Optimisme di Tengah Ketidakpastian

Menutup penjelasannya, Perry Warjiyo tetap optimis bahwa rupiah akan menemukan titik keseimbangan barunya. Meskipun tekanan masih ada, BI memproyeksikan kurs dolar AS akan berada di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800. Angka ini dinilai masih sejalan dengan asumsi makro dalam APBN yang berada di sekitar Rp 16.500.

Strategi ‘tak biasa’ ini menjadi bukti bahwa Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo siap melakukan apa pun untuk menjaga kedaulatan moneter Indonesia. Dengan kombinasi antara kebijakan konvensional dan terobosan baru, harapannya rupiah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bangkit menjadi fondasi yang kokoh bagi kesejahteraan masyarakat luas di tengah badai ekonomi global yang belum kunjung reda.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *