Membungkam Skeptisisme: Strategi Danantara Memacu Laba BUMN Hingga Menembus Ratusan Triliun
TotoNews — Di tengah riuhnya diskusi publik mengenai efisiensi dan performa perusahaan pelat merah, sebuah narasi besar mulai terkuak dari panggung Jogja Financial Festival. Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria, secara tegas menepis berbagai anggapan miring yang selama ini menyudutkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai entitas yang minim prestasi finansial. Dengan data yang solid, ia membedah bagaimana transformasi ekonomi nasional sedang digerakkan oleh mesin-mesin bisnis negara yang justru semakin perkasa.
Melawan Stigma: Fakta di Balik Angka Laba BUMN
Selama bertahun-tahun, opini publik sering kali terbentuk oleh persepsi bahwa BUMN hanyalah beban negara yang sulit mencatatkan keuntungan. Namun, Dony Oskaria membawa bukti otentik yang membalikkan keadaan tersebut. Sepanjang tahun 2025, BUMN di bawah pantauan ketat pemerintah berhasil membukukan laba bersih yang fantastis, yakni mencapai Rp 335 triliun. Angka ini bukanlah sekadar barisan digit di atas kertas, melainkan cerminan dari efisiensi operasional yang mulai membuahkan hasil nyata.
Kritik Tajam Menkeu Purbaya: Sebut Bank Dunia Salah Hitung dan Tebar Sentimen Negatif Ekonomi RI
“Seringkali kita membaca atau mendengar narasi bahwa BUMN itu tidak pernah untung. Saya tegaskan, itu adalah pandangan yang keliru. Faktanya, tahun 2025 kita mencatat laba sebesar Rp 335 triliun. Ini membuktikan bahwa BUMN kita sangat powerful dan mampu bersaing secara kompetitif di pasar,” ujar Dony di hadapan para pelaku industri keuangan di Yogyakarta.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa transformasi BUMN yang dilakukan secara sistematis dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan fondasi yang kokoh. Diversifikasi usaha dan perbaikan tata kelola perusahaan (good corporate governance) menjadi kunci utama mengapa angka keuntungan tersebut bisa melonjak sedemikian rupa, sekaligus menepis keraguan para pengamat ekonomi yang skeptis.
Kontribusi Pajak: Tulang Punggung Penerimaan Negara
Tidak hanya dari sisi laba bersih, kontribusi BUMN terhadap kas negara juga terlihat sangat signifikan melalui setoran pajak. Dalam paparannya, Dony mengungkapkan bahwa BUMN telah menyumbangkan kurang lebih Rp 215 triliun ke kas negara dalam bentuk pajak. Kontribusi ini merupakan salah satu pilar utama yang menjaga stabilitas anggaran negara agar tetap sehat dan mampu membiayai berbagai proyek strategis nasional.
Menuju Kesetaraan Ekonomi: Menteri Keuangan Purbaya Targetkan Pajak E-Commerce Berlaku di 2026
Dengan setoran pajak sebesar itu, BUMN memposisikan diri sebagai kontributor vital bagi APBN. Dana yang disetorkan tersebut kemudian diputar kembali oleh pemerintah untuk pembangunan infrastruktur, layanan kesehatan, hingga subsidi pendidikan bagi masyarakat luas. Inilah yang dimaksud dengan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan, di mana perusahaan negara mencari keuntungan (profit) namun tetap menjalankan fungsi sosial dan kontribusi fiskal yang besar.
Visi Danantara: Menuju Era Super Holding dan Investasi Modern
Hadirnya Danantara sebagai Badan Pengelola Investasi menandai babak baru dalam manajemen kekayaan negara. Sebagai lembaga yang mengelola portofolio besar, Danantara memiliki mandat untuk mengorkestrasi investasi dengan pendekatan yang lebih profesional dan dinamis. Dony menjelaskan bahwa di bawah kelolaan Danantara, BUMN diarahkan untuk tidak hanya berfokus pada pasar domestik, tetapi juga mampu berekspansi secara global.
Prediksi Harga Emas: Akankah Pecah Telur Tembus Rp 3 Juta per Gram Pekan Depan?
Pendekatan yang dilakukan Danantara adalah dengan memperkuat kapitalisasi pasar dan memastikan setiap unit usaha memiliki daya ungkit (leverage) yang maksimal. Dengan manajemen yang terintegrasi, potensi tumpang tindih antar BUMN dapat diminimalisir, sehingga tercipta sinergi yang mendorong efisiensi biaya. Investasi strategis menjadi kata kunci dalam setiap kebijakan yang diambil oleh dewan direksi Danantara guna memastikan pertumbuhan jangka panjang.
Target Ambisius: Membidik Rp 450 Triliun Sebelum Masa Pensiun
Dony Oskaria bukan tipe pemimpin yang cepat puas dengan pencapaian saat ini. Untuk tahun berjalan, ia menetapkan target laba BUMN yang lebih tinggi, yakni Rp 360 triliun. Peningkatan target ini didasarkan pada optimisme terhadap kondisi pasar yang semakin membaik serta implementasi teknologi digital dalam proses bisnis BUMN yang semakin masif.
Maruarar Sirait Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah: KAI Siap Rebut Kembali Lahan Tanah Abang demi Hunian Rakyat
Lebih jauh lagi, Dony memiliki visi personal yang sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh jajaran manajemen BUMN. Ia berharap, sebelum dirinya mengakhiri masa jabatan atau pensiun nanti, BUMN setidaknya mampu menembus angka keuntungan Rp 450 triliun per tahun. Sebuah angka yang mungkin terdengar mustahil bagi sebagian orang, namun bagi Dony, itu adalah target realistis jika melihat potensi aset yang dimiliki Indonesia saat ini.
“Harapan saya, paling tidak ketika saya pensiun nanti, BUMN bisa membukukan keuntungan sedikitnya Rp 450 triliun. Ini adalah warisan yang ingin kita tinggalkan bagi generasi mendatang, sebuah struktur bisnis negara yang mandiri dan sangat menguntungkan,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengatur BUMN tersebut.
Dampak Nyata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Keuntungan yang dihasilkan oleh BUMN memiliki korelasi langsung dengan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dony menambahkan bahwa kontribusi dividen dari BUMN saat ini sudah setara dengan sepertiga dari total APBN. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran perusahaan pelat merah dalam menjaga denyut nadi ekonomi bangsa.
Melalui Danantara, pendekatan pengelolaan aset negara dilakukan dengan metode yang lebih modern, mirip dengan cara kerja Sovereign Wealth Fund (SWF) di negara-negara maju. Dengan pengelolaan yang lebih lincah (agile), Danantara diharapkan mampu menarik minat investor global untuk berpartner dengan BUMN dalam berbagai proyek skala besar. Hal ini tentu akan memberikan multiplier effect bagi lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM di seluruh pelosok negeri.
Kesimpulan: Optimisme Baru di Tangan Danantara
Paparan Dony Oskaria di Jogja Financial Festival memberikan angin segar bagi iklim investasi di Indonesia. Dengan data yang membuktikan bahwa BUMN mampu mencetak laba ratusan triliun dan menyumbang pajak dalam jumlah besar, keraguan mengenai kinerja perusahaan negara seharusnya sudah berakhir. Danantara kini memegang tongkat estafet untuk membawa BUMN menuju puncak kejayaan yang lebih tinggi.
Transformasi ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal perubahan paradigma. BUMN kini dituntut untuk menjadi entitas yang profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan target-target ambisius yang telah dicanangkan, masa depan ekonomi Indonesia tampak lebih cerah di bawah kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dan pengabdian kepada negara.