Konfrontasi Gavin Newsom: Pajak 100 Persen untuk ‘Dana Gelap’ Donald Trump Mengguncang California

Siti Aminah | Totonews
29 Mei 2026, 00:42 WIB
Konfrontasi Gavin Newsom: Pajak 100 Persen untuk 'Dana Gelap' Donald Trump Mengguncang California

TotoNews — Atmosfer politik Amerika Serikat kembali memanas seiring dengan langkah provokatif yang diambil oleh orang nomor satu di California. Gubernur Gavin Newsom baru-baru ini meluncurkan sebuah manuver kebijakan yang mengejutkan banyak pihak, yakni rencana pengenaan pajak sebesar 100 persen terhadap setiap pembayaran yang berasal dari dana kompensasi kontroversial milik pemerintahan Donald Trump. Dana yang nilainya mencapai hampir US$ 1,8 miliar tersebut kini menjadi pusat pusaran konflik hukum dan etika yang melibatkan negara bagian paling liberal di Amerika Serikat tersebut.

Langkah ini bukan sekadar kebijakan fiskal biasa, melainkan sebuah pernyataan politik yang tegas. Kantor pers gubernur secara eksplisit melabeli dana sebesar US$ 1,776 miliar itu sebagai “dana gelap” atau slush fund. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui media sosial, Newsom menegaskan bahwa otoritasnya tidak akan membiarkan uang tersebut mengalir begitu saja ke kantong warga California tanpa konsekuensi drastis.

Baca Juga

Strategi Dividen Jumbo BBRI dan Ambisi KPR BBTN di Tengah Lonjakan IHSG

Strategi Dividen Jumbo BBRI dan Ambisi KPR BBTN di Tengah Lonjakan IHSG

Strategi Radikal Newsom: Menghapus Keuntungan dari ‘Dana Gelap’

Dalam kutipan yang dirilis oleh Reuters, Gavin Newsom menyatakan komitmennya untuk memastikan bahwa tidak ada satu sen pun dari dana tersebut yang dapat dinikmati oleh penerimanya di wilayah hukum California. “Salah satu hal yang menurut saya akan kita coba lakukan adalah mengenakan pajak 100 persen. Siapa pun dari California yang menerima dana tersebut, kami ingin mengenakan pajak 100 persen dari hasil tersebut. Ini adalah tindakan nyata yang dapat diambil oleh negara bagian California,” tegas Newsom dengan nada bicara yang lugas.

Meskipun retorika ini telah memicu perdebatan sengit, Newsom belum memberikan rincian teknis mengenai kapan mekanisme pajak ini akan mulai diimplementasikan secara resmi. Hingga saat ini, baik pihak Gedung Putih maupun Departemen Kehakiman Amerika Serikat masih memilih untuk bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi atas rencana ambisius sang gubernur.

Baca Juga

Tren Gadai Emas di Bima Melonjak Pasca Lebaran: Strategi Cerdas Jaga Likuiditas Tanpa Menjual Aset

Tren Gadai Emas di Bima Melonjak Pasca Lebaran: Strategi Cerdas Jaga Likuiditas Tanpa Menjual Aset

Asal-Usul Dana US$ 1,8 Miliar: Kompromi yang Dipertanyakan

Untuk memahami mengapa kebijakan ini begitu eksplosif, kita perlu melihat ke belakang pada asal-usul dana raksasa tersebut. Dana ini muncul ke permukaan pekan lalu sebagai bagian dari penyelesaian hukum antara Donald Trump dengan Internal Revenue Service (IRS). Perselisihan hukum ini bermula ketika Trump menggugat lembaga pajak tersebut menyusul kebocoran laporan pajaknya ke tangan media massa beberapa waktu lalu.

Namun, yang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi adalah klausul dalam penyelesaian tersebut. Selain kompensasi finansial yang fantastis, terdapat kesepakatan yang diklaim “melarang selamanya” pihak IRS untuk melakukan audit terhadap klaim pajak masa lalu yang diajukan oleh Trump, keluarga besarnya, hingga jaringan bisnisnya. Inilah yang kemudian memicu kecurigaan adanya agenda tersembunyi di balik dana yang disebut-sebut sebagai alat untuk menutupi jejak finansial di masa depan.

Baca Juga

Langkah Berani Danantara: Likuidasi 167 BUMN Rampung, Dony Oskaria Jamin Nasib Karyawan Aman

Langkah Berani Danantara: Likuidasi 167 BUMN Rampung, Dony Oskaria Jamin Nasib Karyawan Aman

Kompensasi bagi Terpidana Peristiwa 6 Januari

Kekhawatiran Newsom dan Partai Demokrat tidak berhenti pada masalah audit pajak. Sebagian besar dari dana tersebut diprediksi akan dialokasikan untuk para pendukung Trump yang terlibat dalam Peristiwa 6 Januari di Capitol Hill. Trump sebelumnya telah memberikan pengampunan (pardon) kepada lebih dari 1.500 terdakwa dalam kasus tersebut.

Kini, para penerima pengampunan tersebut mulai melakukan kalkulasi biaya penuntutan, masa hukuman penjara yang telah mereka jalani, hingga kerugian bisnis yang mereka alami selama proses hukum berlangsung. Mereka berharap mendapatkan kompensasi finansial yang besar dengan dalih bahwa mereka adalah korban dari apa yang mereka sebut sebagai “penyalahgunaan wewenang” oleh Departemen Kehakiman di bawah kepemimpinan mantan Presiden Joe Biden. Hal inilah yang dianggap Newsom sebagai sebuah penghinaan terhadap prinsip keadilan.

Baca Juga

Polemik Anggaran Sapi Kurban Rp 100 Miliar: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Beri Penjelasan Singkat

Polemik Anggaran Sapi Kurban Rp 100 Miliar: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Beri Penjelasan Singkat

Gelombang Protes dari Penegak Hukum dan Senator

Langkah pemberian kompensasi ini tidak berjalan mulus. Dua petugas polisi yang berada di garis depan saat membela Gedung Capitol dari serbuan massa pada 6 Januari 2021 telah mengajukan tantangan hukum. Mereka berpendapat bahwa menggunakan dana publik untuk membayar orang-orang yang menyerang institusi demokrasi adalah sebuah preseden buruk yang membahayakan keamanan nasional.

Kritik juga datang dari seberang koridor politik. Senator Partai Republik dari Carolina Utara, Thom Tillis, menyatakan ketidaksetujuannya secara terbuka. Menurutnya, logika di balik dana ini sangat sulit diterima secara moral. “Dana tersebut berpotensi memberikan kompensasi kepada seseorang yang menyerang petugas polisi, mengakui kesalahannya, dihukum, diampuni, dan sekarang kita akan membayar mereka untuk itu? Itu sama sekali tidak masuk akal,” ujar Tillis dengan nada skeptis.

Dampak Konstitusional dan Perang Politik Regional

Rencana Newsom untuk mengenakan Pajak California sebesar 100 persen ini diprediksi akan memicu pertempuran konstitusional yang panjang di pengadilan federal. Para pakar hukum mulai mempertanyakan apakah sebuah negara bagian memiliki hak konstitusional untuk secara efektif menyita dana yang berasal dari penyelesaian federal dengan mengenakan pajak total.

Jika Newsom berhasil menjalankan rencananya, ini akan menjadi preseden bagi negara bagian lain yang dipimpin oleh Demokrat untuk mengambil langkah serupa. Sebaliknya, bagi kubu Republik, tindakan ini dipandang sebagai bentuk “persenjataan birokrasi” negara bagian yang ditujukan untuk menghambat kebijakan federal dan menekan lawan politik secara finansial.

Masa Depan Keadilan dan Transparansi

Di balik semua keriuhan angka dan retorika politik, isu utamanya adalah mengenai transparansi dan akuntabilitas publik. Penggunaan dana yang mencapai triliunan rupiah (dalam kurs Rupiah) untuk tujuan yang bersifat sangat politis tentu mengundang tanda tanya besar mengenai integritas sistem hukum Amerika Serikat. Apakah dana tersebut benar-benar sebuah bentuk reparasi atas ketidakadilan hukum, ataukah hanya sekadar alat politik untuk mengamankan loyalitas konstituen?

TotoNews akan terus memantau perkembangan kasus ini, mengingat dampaknya yang bisa merembet ke stabilitas politik global. Dengan semakin dekatnya tahun politik, langkah-langkah drastis seperti yang diambil oleh Gavin Newsom dipastikan akan menjadi bumbu penyedap yang panas dalam narasi persaingan menuju kursi kekuasaan di Amerika Serikat.

Sebagai informasi tambahan, perdebatan mengenai legalitas “dana gelap” ini diperkirakan akan mencapai puncaknya di Mahkamah Agung jika tidak ada kesepakatan antara pemerintah pusat dan otoritas negara bagian dalam waktu dekat. Publik kini menunggu apakah pajak 100 persen ini akan benar-benar diwujudkan atau sekadar menjadi gertakan politik dalam papan catur kekuasaan yang kian rumit.

Siti Aminah

Siti Aminah

Jurnalis lapangan yang enerjik. Siti memiliki spesialisasi dalam meliput berita komunitas dan gaya hidup, memberikan sentuhan humanis pada setiap artikelnya.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *